BANDUNG,FOKUSJabar.id: Harga tepung tapioka di Kota Bandung mengalami kenaikan. Kondisi ini terjadi akibat pasokan barang di pasaran yang mulai seret. Penghentian impor tepung tapioka memicu situasi ini, sementara produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menjelaskan bahwa pasar selama ini mengandalkan pasokan lokal dan impor. Indonesia rutin mendatangkan tepung tapioka dari India. Namun, penghentian impor membuat pasar sepenuhnya bergantung pada produksi domestik.
Baca Juga: 48 Bangunan Liar Ditertibkan, Pemkot Bandung Siapkan Landmark Baru di Bundaran Cibiru
Lampung sebagai daerah pemasok utama belum meningkatkan volume produksinya. Akibatnya, pasokan yang ada harus menanggung beban lonjakan permintaan pengganti bahan impor.
“Tepung tapioka yang merupakan salah satu bahan utama untuk cilok, cimol, dan cireng, itu sekarang sudah tidak ada yang impor. Akibatnya, pasokan di pasar agak seret karena semuanya datang dari dalam negeri,” kata Farhan, Selasa (3/11/2026).
Farhan menyebut kondisi ini memicu ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Mekanisme pasar otomatis mendorong kenaikan harga tepung tapioka.
“Produksi Lampung itu tidak bertambah, tapi harus mengisi permintaan yang selama ini diisi oleh tepung tapioka yang diimpor dari India. Jadi, mekanisme pasar, harga menjadi agak naik,” katanya.
Kementan dan TNI Siap Genjot Produksi Singkong di Lampung
Farhan berharap kenaikan harga tepung tapioka tidak berlangsung lama. Pihaknya mengantongi informasi mengenai rencana peningkatan produksi singkong nasional. Kementerian Pertanian bersama TNI akan menambah volume produksi melalui pengelolaan kawasan food estate di Lampung.
Langkah strategis tersebut bertujuan menambah pasokan bahan baku tepung tapioka. Pemerintah berharap pasokan tambahan ini bisa memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.
“Saya mendapatkan informasi bahwa Kementerian Pertanian dan TNI yang memang memiliki tugas khusus dari pemerintah untuk mengoperasikan atau mengelola food estate singkong di Lampung itu akan menambah produksi di ujung musim kemarau ini,” ungkap Farhan.
Farhan optimis penambahan produksi singkong tersebut mampu menekan harga di pasaran. Pihaknya menantikan stabilisasi harga bahan baku utama olahan pangan tersebut di Kota Bandung.
“Mudah-mudahan harga bisa normal lagi,” pungkas Farhan.
(Yusuf Mugni)



