PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, telah melakukan pengujian kualitas air dan kualitas udara di sejumlah wilayah.
Kepala bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH) DLH Kabupaten Pangandaran Atikah mengatakan, pengujian tersebut merupakan agenda rutin tahunan untuk memantau kondisi lingkungan.
Atikah menyebut, data terakhir yang telah keluar merupakan hasil pengujian tahun 2025. Untuk kualitas air sungai kata dia, DLH mengambil sampel dari lima kecamatan.
Baca Juga: Kapolres Pangandaran: Media Punya Peran Penting
Ia mengatakan, sungai yang diuji yakni, Sungai Ciwayang, serta sungai yang melintasi Kecamatan Lakaplancar, Kecamatan Cigugur, Kecamatan Cijulang, Kecamatan Sidamulih, dan Kecamatan Parigi.
“Kalau sungai itu ada di lima kecamatan, yaitu di Lakaplancar, Cigugur, Cijulang, Sidamulih, dan Parigi,” ujar Atikah
Sementara untuk kualitas udara, DLH memasang alat sampel di tujuh titik yang tersebar di empat kategori lokasi, yakni kawasan perkantoran, perindustrian, perhubungan, dan perumahan.
Rinciannya, untuk kawasan perhubungan dipasang di Terminal Kalipucang dan Terminal Cijulang. Untuk kawasan perkantoran di lingkungan Setda dan Setwan.
Untuk kawasan perumahan diambil di Cintaratu, sedangkan untuk kawasan perindustrian di wilayah Perindustrian di java Kecamatan cimerak dan PT. Pecu Kecamatan Sidamulih.
Atikah menjelaskan, pengujian laboratorium untuk sampel air dilakukan di Bandung dengan anggaran dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran.
Sementara untuk pengujian kualitas udara, pengambilan dan pembiayaan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Baca Juga: Mengenal Tabebuya Sakura Indonesia yang Mekar di Grand Pangandaran
“Alhamdulillah hasilnya tidak tercemar. Untuk kualitas udara, kualitasnya bagus, tidak tercemar,” katanya.
Ia menambahkan, hasil pengujian dapat dipengaruhi musim. Pada musim hujan, kualitas air cenderung lebih bersih karena sampah mengalir. Sebaliknya pada musim kemarau, air berpotensi tercemar ringan karena sampah mengendap dan tidak mengalir.
“Kalau musim kemarau kebanyakan suka tercemar ringan, karena sampahnya tidak mengalir, mengendap,” ujarnya.
(Sajidin)



