spot_imgspot_img
Sabtu 31 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ani Soetjipto Bicara Soal Perang Dunia ke-3 di Pangandaran

PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Guru Besar Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (UI), Ani Widyani Soetjipto mengungkap beragam persoalan yang ada di Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar) hingga tingkat Internasional.

Salah satu yang ia beberkan yakni terkait isu persiapan bahan pokok selama tiga hari untuk antisipasi Perang Dunia Ketiga yang ramai di media sosial.

BACA JUGA:

Tiga Jam Demi Satu Galon Air, Perjuangan Yoyoh Bertahan di Tengah Kekeringan Pangandaran

Menurutnya, apa yang beredar di medsos tidak bisa diterima mentah-mentah. Dunia hari ini memang sedang terguncang. Tetapi bukan menuju Perang Dunia Ketiga seperti Perang Dunia I dan II.

“Memang setelah Trump naik, kita lihat dia mengguncang tatanan dunia multilateralisme yang selama ini kita kerja sama antarnegara lewat forum multilateral. Baik lewat UN maupun organisasi seperti Bank Dunia,” ujar Ani.

Ia menjelaskan, multilateralisme yang dibangun sejak 1945 pascaPerang Dunia Kedua dianggap tidak adil bagi Amerika oleh Trump.

Amerika merasa membayar banyak. Sementara negara lain tidak menyumbang dan uang pajak warga AS dipakai untuk bantuan luar negeri atau Official Development Assistance (ODA).

“USAID, WHO dan macam-macam kan dia tidak mau nyumbang lagi, tutup semua grant itu. Dia ingin bentuk tata dunia baru di mana America is lead,” katanya.

Di tengah guncangan itu, posisi Indonesia menjadi sorotan. Ani menilai, kebijakan Presiden Prabowo yang condong ke Trump dan ikut BRICS sempat membuat kaget.

“Kita dari dulu itu multilateral. Karena kita bukan negara kuat. Kita negara tengah-tengah saja, middle income country. Jadi kita harus pintar berstrategi, bebas aktif, main sama semua,” ujarnya.

Menurut Ani, cara berpikir Prabowo sebagai tentara masih terbawa warisan Perang Dingin.

“Logikanya kalau kita diserang siapa yang belain? Memang kalau kita tidak bergantung pada satu kekuatan? Dunia internasional tidak berubah dari zaman dia masih muda. Dunia sudah berubah,” katanya.

BACA JUGA:

Prof. Ani Widyani Soetjipto: Sekolah Bumi Neng Mom di Pangandaran Ajarkan Perbedaan Adalah Anugerah

Ani menegaskan, tren perang hari ini bukan perang dunia yang melibatkan semua negara. Dunia sudah belajar dengan prinsip never again, apalagi dengan adanya senjata nuklir.

“Hari ini tren perang itu menjadi perang regional atau perang di bilangan regional. Misalnya Rusia-Ukraina, Palestina-Israel. Tidak pernah perang yang kayak dulu Perang Dunia Pertama, Kedua yang semua terlibat,” jelasnya.

Yang dimaksud dengan “perang” saat ini adalah scarcity war. Yakni perang memperebutkan kelangkaan sumber daya, rantai pasok dan pangan.

“Kekuatan negara itu bukan cuma diukur tentaranya, GDP ekonominya. Bagaimana dia bertahan untuk terus eksis. Dia perlu batu bara, perlu nikel. Hidup kita ini dari listrik harus ada yang membiayai, industri harus jalan, makanan harus tersedia. Itu dari mana?,” ujarnya.

Ani menyebut, negara-negara Global North sudah tidak punya lahan lagi. Mereka bertahan hidup dengan mengeksploitasi Global South.

“Ketika kita membaca food estate di Papua, nikel di Halmahera, batubara, sawit Indonesia, itu bukan untuk kebutuhan Indonesia. Kebutuhan Indonesia berapa sih? Sawit yang sudah ngebakar segala macam itu kita cuma pakai 10 persen. Itu rantai pasok global supaya yang sana (luar negeri) bisa hidup lebih panjang,” katanya.

“Nah, kita yang dieksploitasi ini kalau tidak punya kesadaran, kita yang mati semuanya,” lanjutnya.

Dampaknya sudah terasa di Pangandaran. Ani mengaku selama dua hari belum makan seafood asli.

“Kita hari ini tidak makan lobster, tidak makan udang yang enak-enak. Itu karena tidak bisa afford. Yang tersisa tinggal ikan-ikan murah seperti teri. Di warung-warung Pangandaran mereka budidaya yang di plastik bioflock. Quality gizi kita menjadi lebih rendah,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan, kepanikan soal kelangkaan pangan lebih dirasakan oleh negara-negara Global North yang bergantung pada pasokan.

“Mereka yang panik. Kalau kita, kita penuh kesadaran aja, makanya rawat lahan kita, rawat laut kita,” pungkas Ani.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru