PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sebuah sekolah informal berdiri unik di tengah persawahan dan perkampungan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Sekolah bernama Bumi Neng Mom (BNM) ini mengajak anak-anak desa belajar menari, fashion show, bahasa Inggris, hingga sains di alam terbuka.
Keunikan metode BNM menarik perhatian Prof. Dr. Dra. Ani Widyani Soetjipto, MA, dosen Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Indonesia (UI).
Baca Juga: Buah Siap Panen Ludes Dimakan Monyet Liar, Petani Pangandaran Merugi
Prof Ani memboyong 60 mahasiswa mata kuliah Jejaring dan Ruang Transnasional untuk menjalani field trip di BNM Pangandaran.
Prof Ani menilai BNM menerapkan konsep komunikasi lintas budaya secara nyata pada tingkat lokal.
“Kalau di HI kita bicara cross culture, pertukaran budaya. Nah, di BNM ini, Kornel mengajarkan orang untuk defense your cultures, you have to be confident,” ujar Prof. Ani saat ditemui di BNM, Jumat (30/10/2026).
Kornel mendirikan BNM sebagai bentuk pengabdian di bidang pendidikan. Ia merupakan putra dari Prof. Sulaiman Sumardi, salah satu tokoh pendiri FISIP UI.
“Ayahnya Kornel itu dulu guru kami. Mungkin ada guilty feeling karena bapaknya expect dia jadi dosen, tapi dia jadi pebisnis, makanya dia mendirikan sekolah ini,” kata Prof. Ani.
Ajarkan Bahasa Inggris dan Sikap Percaya Diri Sejak Dini
Meski baru berjalan tiga tahun, BNM sukses menjadi magnet pendidikan pelengkap bagi anak-anak desa.
Filosfi pembelajaran di BNM sejalan dengan materi perkuliahan yang Prof Ani ajarkan di kampus UI.
“BNM ini mengajarkan dari umur yang sangat muda untuk memahami bahwa differences is a gift. Perbedaan itu adalah anugerah, jangan menjadikan kamu minder, kamu merasa lebih jelek dari yang lain,” katanya.
BNM membekali siswa dengan kemampuan bahasa Inggris untuk memahami pola pikir dunia luar dan menyampaikan gagasan.
“Orang Indonesia itu kan cenderung pendiam, sopan, verbal. Orang bule lebih frank, lebih terbuka, suka menulis. Dalam relasi kuasa global, yang pendiam sering dianggap tidak pintar. Nah, BNM mengajarkan anak untuk tetap rendah hati, ramah, tapi juga bisa speak their language, bisa menulis, open minded,” jelas Prof. Ani.
Pangandaran Sebagai Laboratorium Sosial Mahasiswa HI UI
Prof Ani mengagumi ruang belajar terbuka di tengah sawah yang membuat anak-anak menikmati proses belajar.
“Saya lihat anak-anak senang karena banyak eksperimennya. Ada nari, ada fashion show, ada kelas bahasa Inggris, sains. Belajarnya di alam, di tengah sawah. Kadang kita ajak piknik ke tempat megar lain. Kalau cuma di sini terus, open mindedness tidak terbuka, wawasannya cuma sekampung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seorang pendidik wajib menikmati proses mengajar agar siswa tidak mengalami stres.
“Ngajar itu hmenjalaninnya arus dengan sukacita, kita nikmati. Kalau terpaksa, anaknya stres, gurunya juga stres karena bukan passion-nya. Di sini saya lihat anaknya riang,” kata Prof. Ani.
Prof Ani menyebut Pangandaran menyimpan potensi laboratorium sosial yang sangat kaya bagi mahasiswa HI UI.
Kawasan ini menyimpan isu nelayan, perubahan iklim, pariwisata, konflik lahan, hingga rantai pasok benih lobster global. BNM menjadi ruang kecil yang mengajarkan nilai besar tentang persatuan di tengah keberagaman dunia.
“HI hari ini bukan cuma di ruang ber-AC di Jalan Jenderal Sudirman. HI itu ada di sini, di desa, di anak-anak ini yang belajar bahwa perbedaan itu tidak untuk dipertentangkan, tapi untuk dirayakan,” pungkasnya.
(Sajidin)



