JAKARTA, FOKUSJabar.id: Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak takut menghadapi tekanan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait rencana penurunan klasifikasi pasar saham nasional.
Prabowo menilai, langkah MSCI tidak seharusnya membuat Indonesia merasa terintimidasi atau kehilangan keberanian dalam menghadapi tantangan.
BACA JUGA:
Soal Karhutla, Kementrian Kehutanan Beri Sanksi 32 Perusahaan
Di hadapan jajaran menteri, Prabowo menyampaikan pesan tegas kepada MSCI bahwa bangsa Indonesia tidak akan gentar menghadapi siapa pun.
Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan kekuatan dan keberanian dalam menghadapi berbagai tekanan.
Menurutnya, pemerintah harus tetap berjuang menghadapi tantangan yang ada. Termasuk dengan menerapkan penghematan lebih besar apabila di perlukan.
Prabowo menilai, berbagai hambatan masih menghadang pemerintah dalam menjalankan tugasnya.
Ia kemudian menyinggung langkah MSCI yang tengah mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Presiden menganggap langkah tersebut sebagai upaya untuk menakut-nakuti Indonesia.
Dia juga menegaskan, bangsa ini tidak akan mundur karena tekanan tersebut.
“Gangguan masih banyak kita terus di hadang, ada apa itu, macam-macam lah, MSCI macam-macam. Dia mau takut-takuti kita. Saya hanya katakan ke MSCI, ‘Bangsa Indonesia tidak takut siapapun dan tidak akan gentar,” tegas Prabowo.
Prabowo juga menekankan bahwa Indonesia memiliki kekuatan untuk menghadapi berbagai kesulitan.
Ia menyebut, keberanian, kesediaan berkorban dan semangat pantang menyerah sebagai hal yang harus terus di jaga.
“Kita tidak takut, kita punya kekuatan, keberanian dan kita rela berkorban serta kita tidak kenal menyerah. Kalau perlu kita adakan penghematan besar-besaran dan kita akan lebih hemat lagi,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah mempertimbangkan penghematan yang lebih besar apabila kondisi mengharuskannya.
Prabowo menekankan bahwa Indonesia harus mampu menghadapi tekanan dengan keteguhan dan kesiapan berkorban.
Meski demikian, ia tidak merinci pos anggaran maupun bentuk penghematan yang di maksud dalam pernyataannya tersebut.
BACA JUGA:
Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Masyarakat Diminta Jauhi Radius 5 Kilometer
Prabowo turut menyoroti besarnya tantangan yang masih harus dihadapi pemerintah dalam memenuhi harapan masyarakat.
Ia mengakui bahwa berbagai persoalan belum sepenuhnya terselesaikan dan pemerintah masih menghadapi hambatan dalam menjalankan tugasnya.
“Kita telah bekerja dengan baik, tapi kita tahu tantangan masih sangat besar. Rakyat kita berharap lebih banyak, kesulitan kita masih banyak, gangguan masih banyak,” ungkapnya.
Sebelumnya, MSCI mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Lembaga tersebut menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham, kekhawatiran mengenai dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi, serta efektivitas pelaksanaan reformasi pasar modal.
MSCI turut mencermati sejumlah langkah pembenahan yang telah diumumkan otoritas Indonesia. Meliputi peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham, pengelompokan investor secara lebih terperinci, pelaporan High Shareholding Concentration (HSC), serta rencana menaikkan batas minimum saham beredar di publik atau free float menjadi 15 persen.
Berdasarkan jadwal yang disampaikan MSCI, konsultasi atas usulan tersebut berlangsung hingga Jumat, 30 April 2027.
Keputusan final mengenai perubahan klasifikasi dijadwalkan diumumkan paling lambat Rabu, 30 Juni 2027.
Perubahan status itu berpotensi memengaruhi keputusan investor global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan pengelolaan portofolio.
Jika investor mengurangi kepemilikan saham Indonesia, pasar domestik berisiko menghadapi tekanan jual dan arus keluar modal.
Meski demikian, besarnya dampak akan bergantung pada keputusan MSCI, respons pelaku pasar serta perkembangan kondisi keuangan global dan domestik.
(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)



