BANDUNG,FOKUSJabar.id: Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari Arief Budiman meminta masyarakat tidak langsung menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) saat mengalami keluhan ringan. Imbauan ini merespons lonjakan tajam kunjungan pasien ke IGD RSUD Bandung Kiwari dalam beberapa pekan terakhir.
Arief menegaskan bahwa pasien bergejala ringan dan berstatus stabil dapat berobat ke Puskesmas, klinik, atau poli rawat jalan rumah sakit.
Baca Juga: IGD RSUD Bandung Kiwari Diserbu 2.860 Pasien dalam 3 Pekan, 10 Orang per Hari Antre Rawat Inap
“Terutama sebetulnya yang harus dilakukan adalah edukasi terhadap pasien-pasien yang ringan dan stabil,” kata Arief saat memberikan keterangan di RSUD Bandung Kiwari, Rabu (23/9/2026).
Kriteria Pasien yang Membutuhkan Layanan Darurat IGD
Arief menjelaskan bahwa fungsi utama IGD fokus pada penanganan medis yang membutuhkan pertolongan cepat. Kategori darurat ini meliputi pasien sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, pendarahan hebat, hingga korban kecelakaan.
“Jadi datanglah ke IGD kalau memang keadaannya darurat, seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, pendarahan hebat, atau kecelakaan,” katanya.
Masyarakat yang mengalami masalah kesehatan ringan dapat mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
“Untuk keluhan yang lebih ringan, ke Puskesmas, ke klinik, atau bisa di kami ada poli rawat jalan,” ucapnya.
Kategori Triase Hijau Bisa Berobat Lebih Cepat di Poli Rawat Jalan
Banyaknya pasien bergejala ringan menjadi salah satu pemicu utama penumpukan di ruang IGD. Tim medis memasukkan kelompok pasien ini ke dalam kategori triase hijau berdasarkan standar pemeriksaan medis.
“Dan cukup banyak juga pasien sebenarnya dalam kondisi ringan dan stabil. Ini kategorinya triase hijau,” ujarnya.
Arief menyarankan pasien triase hijau berpindah ke layanan poli rawat jalan agar mendapatkan penanganan yang lebih cepat.
“Ketika itu triase hijau, maka sesungguhnya bisa dilayani dan lebih cepat di poli rawat jalan,” jelasnya.
Pola Lonjakan Pasien dan Harapan Manajemen Rumah Sakit
Data RSUD Bandung Kiwari periode 1 hingga 21 September 2026 mencatat 2.860 pasien mendatangi IGD. Angka ini setara dengan rata-rata 136 pasien per hari.
Kepadatan pasien di IGD biasanya melonjak selepas jam kerja, mulai pukul 16.00 WIB hingga malam hari. Masyarakat sering mendatangi IGD karena beranggapan akan mendapatkan pelayanan langsung tanpa mengantre.
“Ya itu, karena beranggapan mungkin kalau ke IGD bisa langsung kita tangani dengan cepat,” katanya.
Arief berharap masyarakat mulai memahami alur pelayanan rumah sakit sesuai dengan tingkat kegawatan darurat.
“Saya kira bisa dilayani di Puskesmas dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



