PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Sudah jatuh tertimpa tangga. Kondisi inilah yang di alami Karsem (60), warga Blok Warung Bungur, RT01/06, Dusun Empangsari Desa/Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar).
Di usia yang tak lagi muda, Karsem harus menjadi tumpuan keluarga. Suaminya, Mansur (65) menderita tumor ganas yang sudah di idap sekitar 1,5 tahun.
BACA JUGA:
Pangandaran Dapat 240 Becak Listrik, Transportasi Wisata Naik Kelas
Penyakit itu perlahan menguras apa yang mereka miliki. Kebun yang selama ini menjadi sumber penghidupan terpaksa di jual. Dua sepeda motor pun ikut di lepas demi membiayai pengobatan Mansur.
Ujian Karsem belum berhenti. Anaknya juga tengah berjuang melawan kanker di bagian lidah dan harus menjalani operasi.
Dia hanya bisa menarik napas panjang. Dua orang yang di cintainya kini sama-sama membutuhkan perawatan.
”Ya Allah, ujian ini berat-berat amat,” ucap Karsem.
Selama 1,5 tahun, Dia merawat suaminya dan harus bolak-balik mengantar Mansur menjalani pemeriksaan ke Rumah Sakit Margono, Jawa Tengah.
Keterbatasan biaya membuat perjalanan menuju rumah sakit menjadi perjuangan tersendiri.
Dulu, ketika masih memiliki uang, Dia menyewa mobil untuk mengantar suaminya. Biayanya sekitar Rp600 ribu sekali perjalanan.
Kini, jangankan menyewa mobil, memenuhi kebutuhan sehari-hari pun harus di hitung dengan cermat.
Karsem dan Mansur akhirnya terpaksa menggunakan sepeda motor. Mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00 WIB dan tiba di rumah sakit sekitar 07.30 WIB.
”Kalau pakai mobil sudah enggak ada dana. Jadi pakai motor, gantian. Berangkat dari sini subuh,” tuturnya.
BACA JUGA:
Bikin Haru! Kisah Mansur Penyintas Tumor Ganas di Pangandaran
Bahkan, biaya sewa mobil yang pernah di gunakan untuk berobat masih menyisakan utang sekitar Rp3,5 juta.
”Masih ada utang bekas sewa mobil Rp3,5, juta,” katanya.
Meski begitu, Karsem memilih tidak menyerah. Ia bersyukur masih di beri kesehatan untuk mendampingi suaminya.
”Alhamdulillah saya masih di kasih kesehatan buat antar-jemput,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Dirinya berusaha mencari penghasilan seadanya dengan membuat keripik gadung.
Bahan bakunya tidak mudah di dapat. Dia harus masuk ke kawasan hutan yang cukup jauh untuk mencari gadung.
Sambil mencari gadung, ia juga mengumpulkan lidi untuk di buat sapu.
Bahan baku Gadung Dia olah bersama Mansur yang kondisinya masih sakit.
”Kalau saya bikin keripik gadung. Gadungnya nyari ke alas, jauh. Sambil nyari sapu lidi. Nanti di rumah Pak Mansur yang ngerautin,” kata Karsem.
Keripik gadung itu di jual sekitar Rp60 ribu per kilogram. Tidak selalu banyak, tetapi cukup untuk membantu menyambung kebutuhan keluarga.
”Kalau ada yang pesan di jual,” ujarnya.
Sebagai informasi, Mansur sebelumnya bekerja sebagai sopir pengangkut gula.
Di tengah kondisi sakit, Dia kerap memaksakan diri membantu mencari uang dengan menambal ban. Bukan karena keinginan, melainkan terbentur keadaan.
”Kalau nambal ban masih bisa maksain. Kalau nyuci mobil belum sanggup,” kata Karsem.
Untuk memenuhi ongkos perjalanan ke rumah sakit, Karsem terkadang harus meminjam uang kepada orang lain.
Ia baru bisa mengembalikan pinjaman setelah mendapatkan bantuan sosial yang di terimanya.
Bantuan sosial yang di terimanya kemudian harus di bagi untuk berbagai kebutuhan.
Ia bersyukur beberapa waktu lalu keluarganya juga mendapatkan bantuan beras.
Belum selesai mendampingi suaminya, Karsem kembali harus menghadapi kenyataan pahit.
Anaknya kini menderita kanker di bagian lidah dan di sebut akan menjalani operasi. Kondisi itu membuat beban Dia semakin berat.
Ia tahu, pengobatan membutuhkan biaya. Sementara kemampuan ekonominya semakin terbatas setelah kebun dan dua sepeda motor di jual untuk membiayai pengobatan suaminya.
BACA JUGA:
Pernah Jadi Lokasi Syuting Mak Lampir, Goa Parat di Pangandaran Simpan Makam 2 Penyebar Islam
Baginya, selama tubuh masih mampu bergerak, ia akan terus berusaha. Harapannya satu, kesembuhan suami dan anaknya.
Kini kehidupan Karsem sederhana. Mencari gadung, mengiris hingga mengolahnya menjadi keripik. Selain itu, mengumpulkan lidi, merawat suami dan mendampingi anak menjadi kesehariannya.
Harta benda telah banyak berpindah tangan demi mempertahankan hidup orang-orang yang di cintainya.
Yang tersisa adalah tenaga, keyakinan dan harapan.
Di usia 60 tahun, Karsem masih memilih berdiri. Bukan karena hidup memberinya banyak pilihan, tetapi karena di rumah ada dua orang yang masih membutuhkan dirinya.
”Berjuang saja, berjuang sendiri. Mudah-mudahan ada kesembuhan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
(Sajidin)



