spot_imgspot_img
Rabu 9 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Daya Beli Masyarakat Turun, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Terjun Bebas

GARUT, FOKUSJabar.id: Daya beli masyarakat di sejumlah pasar tradisional di wilayah Kabupaten Garut Jawa Barat (Jabar) mulai menurun sejak beberapa bulan terakhir ini. Salah satunya Pasar Wanaraja.

Hal tersebut berdampak langsung pada omzet pedagang pasar tradisional yang anjlok hingga 50 persen.

BACA JUGA:

Bantuan Beras Diperpanjang hingga Desember 2026

Terpantau, aktivitas jual beli terlihat sepi. Banyak lapak sayur, sembako dan pakaian hanya melayani beberapa orang pembeli.

Ketua Ikatan Warga Pasar (Iwapa) Wanaraja, Ali Nurdin (Bos Ceceng) membenarkan kondisi sulit saat ini yang di alami para pedagang.

Dia menyebut faktor penyebab daya beli mayarakat menurun. Di antaranya, harga kebutuhan pokok naik, banyak warga belanja ke toko modern dan predaran uang ada di tingkat elit.

“Secara umum, fenomena ini menggambarkan konsentrasi kekayaan atau peredaran likuiditas yang berputar terbatas di kalangan atas,” kata Bos Ceceng kepada FOKUSJabar, Rabu (9/9/2026).

Fenomena ini sering kali di kaitkan dengan ketimpangan ekonomi atau kondisi. Di mana stimulus moneter tidak mengalir ke sektor riil masyarakat bawah.

Selain itu, penyebab parahnya daya beli masyarakat karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak belanja ke pedagang pasar tradisional.

Menurutnya, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG belanja kebutuhan menu ke pengusaha besar atau koperasi.

Padahal, program MBG yang di usung Presiden Prabowo Subianto mengharuskan mengadopsi pendekatan kearifan lokal dalam penerapannya.

Langkah ini bertujuan agar program tidak hanya memperbaiki gizi anak-anak. Tetapi juga melestarikan kebudayaan pangan setempat sekaligus menghidupkan perekonomian masyarakat desa.

BACA JUGA:

Soal Insentif SPPG Rp6 Juta, Kepala BGN Bilang Begini

Ketua Iwapa Wanaraja berharap, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono (Mas Dar) yang juga Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mendorong pengelola SPPG belanja bahan pangan ke pasar tradisional untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan sekaligus meningkatkan pendapatan pedagang lokal.

“Harapan Kami, Mas Dar selaku Ketum APPSI memberikan memberikan perintah agar pengelola SPPG belanja ke pasar tradisional,” kata Bos Ceceng.

Tujuan dan manfaat belanja ke pasar, menyerap produk lokal, meningkatkan omzet dan menguatkan ekonomi bawah. Dengan begitu, perputaran uang tetap berada di dalam ekosistem masyarakat sekitar.

Keputusan pengelola SPPG belanja ke pasar tradisional adalah langkah tepat. Alasannya sederhana, MBG bukan cuma soal “mengenyangkan anak,” tapi juga “menghidupkan pasar.”

Jika MBG belanja ke pasar tradisional, pedagang hidup, petani senang dan anak kenyang. “Satu piring MBG sama dengan satu pedagang pasar terbantu.”

(Bambang Fouristan)

spot_img

Berita Terbaru