PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Sudah lebih dari setahun Ndan Suandi bersama istri dan dua anak kembarnya bertahan di sebuah rumah sementara yang jauh dari kata nyaman. Rumah gubuk kecil itu berada di RT01/06, Desa/Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar).
Dinding terbuat dari anyaman bambu dan bagian rumah yang serba terbatas membuat keluarga ini harus menjalani hari-hari dengan penuh kewaspadaan.
BACA JUGA:
Anak Perempuan 15 Tahun Ditemukan di Penginapan Pangandaran, 2 Orang Diperiksa Polisi
Bukan karena mereka memilih tinggal di tempat tersebut. Melainkan rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung keluarganya roboh setelah wilayah tersebut di guyur hujan deras di sertai angin selama berhari-hari.
Setelah rumahnya roboh, Ndan dan keluarganya sempat tinggal di tenda bantuan selama tiga hari.
Setelah itu, mereka mendapat bantuan dari warga untuk membuat tempat tinggal sementara yang hingga kini masih di tempatinya.
Sudah sekitar satu tahun lebih keluarga Ndan tinggal di rumah tersebut. Dua anak dan istrinya harus berbagi ruang dalam bangunan sederhana itu.
Kondisi rumah dengan minim pencahayaan membuat Ndan tak pernah benar-benar merasa tenang. Terutama ketika malam dan hujan datang.
”Di gubuk kayak gini, boro-boro nyaman. Selalu was-was, takut ada ular atau binatang buas,” kata Dia saat di temui di rumah sementaranya, Selasa (1/9/2026) malam.
Kekhawatiran semakin besar ketika hujan turun. Kondisi bangunan yang tidak sepenuhnya tertutup membuat rasa aman menjadi sesuatu yang mahal bagi keluarga tersebut.
Anak-anak pun harus mendapat perhatian lebih dari orang tua. Mereka tidak bisa di biarkan terlalu malam berada di luar rumah dan harus terus di pantau.
”Enggak bisa terlalu malam. Keadaannya kayak gini, selalu di pantau orang tua,” ujarnya.
Bertahan dari Pekerjaan Serabutan
Di tengah kondisi tersebut, Ndan tidak tinggal diam. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia bekerja serabutan.
Mulai dari menjadi buruh kayu, mengangkut kayu hingga bekerja di kebun. Saat musim tertentu, ia juga bekerja mengambil air kelapa dan menyadap.
BACA JUGA:
Aktivis Sosial Kritik Keras Ambruknya Jembatan Pongpet di Pangandaran
Namun pekerjaan yang tidak tetap membuat penghasilannya tidak menentu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, Ndan mengaku masih kesulitan.
”Kalau bilang cukup ya kurang cukup,” ucap Ndan.
Keinginan untuk memiliki rumah yang layak sebenarnya selalu ada. Bahkan, ia mengaku masih memikirkan bagaimana bisa membangun kembali rumahnya.
Namun, kondisi ekonomi membuat keinginan tersebut belum bisa di wujudkan.
”Masih kepikiran. Cuma keadaannya belum memungkinkan. Kemauan saya banyak, tapi saya juga harus tahu keadaan dan kemampuan. Kalau memaksakan takutnya tambah repot ke depannya,” kata Dia.
Ndan mengaku, rumahnya juga di sebut telah di ajukan untuk mendapatkan program bantuan rumah tidak layak huni (rutilahu).
Namun hingga kini, bantuan yang di harapkannya belum juga terealisasi.
”Katanya sudah di ajukan, cuma enggak tahu sudah atau belum. Sampai sekarang belum ada,” ujarnya.
Sejumlah pihak, kata Ndan, juga pernah datang melihat kondisi tempat tinggalnya. Ia menyebut, ada pihak dari pemerintahan desa maupun dinas yang pernah datang.
Namun kedatangan para penjabat belum berujung pada bantuan pembangunan rumah yang benar-benar di harapkannya.
Kini, lebih dari setahun setelah rumahnya roboh, Ndan masih bertahan dengan kondisi yang sama.
Ia tidak meminta banyak. Di tengah keterbatasannya sebagai pekerja serabutan, satu hal yang paling ia harapkan adalah memiliki tempat tinggal yang aman dan layak bagi istri serta anak-anaknya.
”Kalau mungkin pemerintah bisa membantu keadaan saya dengan keadaan kayak gini. Mungkin buat tempat tinggal, bantuannya,” ucap Ndan.
Bagi Ndan, rumah bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap. Rumah adalah tempat anak-anaknya tumbuh, tempat keluarganya berlindung dari hujan dan panas, sekaligus tempat untuk pulang.
(Sajidin)



