spot_imgspot_img
Rabu 2 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Tinggal di Gubuk, 1 Keluarga di Pangandaran Menunggu Rumah Layak Huni

PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Sudah lebih dari setahun Ndan Suandi bersama istri dan dua anak kembarnya bertahan di sebuah rumah sementara yang jauh dari kata nyaman. Rumah gubuk kecil itu berada di RT01/06, Desa/Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar).

‎Dinding terbuat dari anyaman bambu dan bagian rumah yang serba terbatas membuat keluarga ini harus menjalani hari-hari dengan penuh kewaspadaan.

BACA JUGA:

Anak Perempuan 15 Tahun Ditemukan di Penginapan Pangandaran, 2 Orang Diperiksa Polisi

‎Bukan karena mereka memilih tinggal di tempat tersebut. Melainkan rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung keluarganya roboh setelah wilayah tersebut di guyur hujan deras di sertai angin selama berhari-hari.

Setelah rumahnya roboh, Ndan dan keluarganya sempat tinggal di tenda bantuan selama tiga hari.

‎Setelah itu, mereka mendapat bantuan dari warga untuk membuat tempat tinggal sementara yang hingga kini masih di tempatinya.

‎Sudah sekitar satu tahun lebih keluarga Ndan tinggal di rumah tersebut. Dua anak dan istrinya harus berbagi ruang dalam bangunan sederhana itu.

‎Kondisi rumah dengan minim pencahayaan membuat Ndan tak pernah benar-benar merasa tenang. Terutama ketika malam dan hujan datang.

‎”Di gubuk kayak gini, boro-boro nyaman. Selalu was-was, takut ada ular atau binatang buas,” kata Dia saat di temui di rumah sementaranya, Selasa (1/9/2026) malam.

‎Kekhawatiran semakin besar ketika hujan turun. Kondisi bangunan yang tidak sepenuhnya tertutup membuat rasa aman menjadi sesuatu yang mahal bagi keluarga tersebut.

‎Anak-anak pun harus mendapat perhatian lebih dari orang tua. Mereka tidak bisa di biarkan terlalu malam berada di luar rumah dan harus terus di pantau.

‎”Enggak bisa terlalu malam. Keadaannya kayak gini, selalu di pantau orang tua,” ujarnya.

‎Bertahan dari Pekerjaan Serabutan

‎Di tengah kondisi tersebut, Ndan tidak tinggal diam. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia bekerja serabutan.

‎Mulai dari menjadi buruh kayu, mengangkut kayu hingga bekerja di kebun. Saat musim tertentu, ia juga bekerja mengambil air kelapa dan menyadap.

BACA JUGA:

Aktivis Sosial Kritik Keras Ambruknya Jembatan Pongpet di Pangandaran

‎Namun pekerjaan yang tidak tetap membuat penghasilannya tidak menentu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, Ndan mengaku masih kesulitan.

‎”Kalau bilang cukup ya kurang cukup,” ucap Ndan.

‎Keinginan untuk memiliki rumah yang layak sebenarnya selalu ada. Bahkan, ia mengaku masih memikirkan bagaimana bisa membangun kembali rumahnya.

‎Namun, kondisi ekonomi membuat keinginan tersebut belum bisa di wujudkan.

‎”Masih kepikiran. Cuma keadaannya belum memungkinkan. Kemauan saya banyak, tapi saya juga harus tahu keadaan dan kemampuan. Kalau memaksakan takutnya tambah repot ke depannya,” kata Dia.

‎Ndan mengaku, rumahnya juga di sebut telah di ajukan untuk mendapatkan program bantuan rumah tidak layak huni (rutilahu).

‎Namun hingga kini, bantuan yang di harapkannya belum juga terealisasi.

‎”Katanya sudah di ajukan, cuma enggak tahu sudah atau belum. Sampai sekarang belum ada,” ujarnya.

‎Sejumlah pihak, kata Ndan, juga pernah datang melihat kondisi tempat tinggalnya. Ia menyebut, ada pihak dari pemerintahan desa maupun dinas yang pernah datang.

‎Namun kedatangan para penjabat belum berujung pada bantuan pembangunan rumah yang benar-benar di harapkannya.

‎Kini, lebih dari setahun setelah rumahnya roboh, Ndan masih bertahan dengan kondisi yang sama.

‎Ia tidak meminta banyak. Di tengah keterbatasannya sebagai pekerja serabutan, satu hal yang paling ia harapkan adalah memiliki tempat tinggal yang aman dan layak bagi istri serta anak-anaknya.

‎”Kalau mungkin pemerintah bisa membantu keadaan saya dengan keadaan kayak gini. Mungkin buat tempat tinggal, bantuannya,” ucap Ndan.

‎Bagi Ndan, rumah bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap. Rumah adalah tempat anak-anaknya tumbuh, tempat keluarganya berlindung dari hujan dan panas, sekaligus tempat untuk pulang.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru