MALAYSIA, FOKUSJabar.id: Malaysia dan Brunei Darussalam mengambil langkah bersama untuk menangani persoalan kabut asap lintas batas yang kini berdampak terhadap kawasan Borneo (Kalimantan) Indonesia.
Kedua negara sepakat memanfaatkan mekanisme ASEAN sebagai jalur penanganan setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia mengalami penurunan akibat asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
BACA JUGA:
BMKG: Gempa Susulan di Flores Bisa Berlangsung hingga 4 Minggu
Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim menyampaikan bahwa persoalan kabut asap menjadi salah satu isu yang di bahas dalam pertemuannya dengan Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah.
Pembahasan tersebut kemudian menghasilkan kesepakatan agar persoalan tersebut di tangani melalui kerangka kerja ASEAN.
Langkah ini muncul ketika Sarawak menghadapi kondisi udara yang memburuk akibat asap yang bergerak dari wilayah Kalimantan. Brunei juga berada dalam situasi yang serupa karena letaknya yang berdekatan dengan wilayah sumber kebakaran di Pulau Borneo.

Persoalan tersebut akhirnya tidak lagi hanya menjadi perhatian satu negara. Tetapi berkembang menjadi isu lingkungan lintas batas di kawasan.
Anwar menjelaskan bahwa Malaysia dan Brunei telah menyepakati mekanisme ASEAN sebagai pilihan untuk menangani persoalan tersebut.
Ia juga mengatakan, Menteri Luar Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan telah di minta untuk mengoordinasikan tindak lanjutnya.
“We both agreed to use the ASEAN mechanism as the best option. We have asked Foreign Minister Datuk Seri Mohamad Hasan to manage this issue,” kata Anwar.
Malaysia kemudian menyiapkan langkah diplomatik melalui Sekretariat ASEAN. Menteri Luar Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan menyatakan bahwa persoalan yang melibatkan negara-negara ASEAN lebih tepat di bahas menggunakan saluran regional.
Pemerintah Malaysia juga menyiapkan komunikasi dengan Indonesia melalui Kementerian Sumber Asli dan Kelestarian Alam.
Menurut Mohamad, mekanisme ASEAN dapat menjadi sarana yang lebih efektif untuk mengelola persoalan yang menyangkut beberapa negara anggota.
“We believe ASEAN is the best mechanism for addressing issues and problems among ASEAN member states, and we view it as more effective for the Secretariat to manage this matter,” ujar Mohamad Hasan.
Dampak kabut asap paling terasa di sejumlah wilayah Sarawak. Kondisi kualitas udara di beberapa daerah sempat masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Serian menjadi salah satu wilayah yang mengalami kondisi paling buruk. Sedangkan Kuching dan beberapa daerah lainnya juga menghadapi penurunan kualitas udara.
BACA JUGA:
Ekonomi Masyarakat Kalimantan Lumpuh Akibat Regulasi Izin Tambang
Situasi tersebut turut memengaruhi kegiatan masyarakat. Ratusan sekolah di Sarawak di laporkan harus menghentikan kegiatan pembelajaran sementara ketika kualitas udara memburuk.
Kebijakan tersebut berdampak terhadap sekitar 200.000 siswa dan menunjukkan bahwa kabut asap lintas batas telah memberikan dampak langsung terhadap aktivitas publik di Malaysia.
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia masih menjadi perhatian.
Pemantauan pemerintah menunjukkan adanya peningkatan titik panas di sejumlah kawasan. Termasuk Kalimantan yang menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas kebakaran yang cukup tinggi.
Pemerintah Indonesia pun meningkatkan upaya pemadaman untuk mengendalikan kebakaran dan mencegah penyebaran asap lebih luas.
Upaya penanganan juga di sertai tindakan hukum terhadap pihak yang di duga menyebabkan kebakaran.
Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka yang berpotensi memicu karhutla.
Aparat di sejumlah wilayah turut melakukan penindakan terhadap orang-orang yang di duga terlibat dalam pembakaran maupun pembukaan lahan secara ilegal.
Brunei Darussalam sendiri memiliki kepentingan langsung dalam persoalan ini karena wilayahnya berada di Pulau Borneo dan berbatasan dengan kawasan yang terdampak kebakaran.
Negara tersebut sebelumnya juga mengalami kondisi berjerebu akibat pergerakan asap.
Kondisi tersebut membuat Brunei turut berkepentingan dalam mendorong adanya langkah bersama untuk mengatasi pencemaran udara lintas batas.
Kesepakatan Malaysia dan Brunei untuk menggunakan mekanisme ASEAN menunjukkan bahwa persoalan kabut asap kini di arahkan ke jalur kerja sama regional.
Malaysia akan melanjutkan komunikasi dengan Sekretariat ASEAN sekaligus berkoordinasi dengan Indonesia. Sementara kondisi udara di kawasan masih menjadi perhatian.
Mekanisme tersebut di harapkan dapat menjadi ruang koordinasi antarnegara dalam menangani kabut asap sekaligus mencegah dampaknya terus meluas ke wilayah negara tetangga.
(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)



