NTT, FOKUSJabar.id: Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) turut mengganggu aktivitas pendidikan. Berdasarkan pendataan sementara Kementerian Agama (Kemenag), sebanyak 72 madrasah tercatat terdampak bencana.
Kondisi tersebut membuat pemulihan sarana pendidikan menjadi salah satu perhatian dalam penanganan pascagempa.
BACA JUGA:
BMKG: Gempa Susulan di Flores Bisa Berlangsung hingga 4 Minggu
Kemenag melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam mengambil langkah untuk menjaga agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti.
Pemerintah menyiapkan 1.000 school kit serta 16 Temporary Learning Space (TLS) atau ruang belajar sementara untuk membantu madrasah yang terdampak gempa Flores.
Dari total 72 madrasah yang masuk dalam pendataan, Kemenag memprioritaskan 15 madrasah yang mengalami dampak kerusakan paling parah.
Bantuan tahap awal di arahkan kepada satuan pendidikan tersebut. Sementara proses pemetaan kebutuhan madrasah lainnya masih terus di lakukan.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno mengatakan, kondisi bencana tidak boleh membuat peserta didik kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
“Bencana tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak untuk kehilangan haknya mendapatkan pendidikan. Pemerintah harus hadir memastikan mereka tetap dapat belajar dengan aman dan layak, sekaligus memberikan dukungan kepada madrasah yang terdampak,” ujar Amien Suyitno.
Salah satu langkah yang di siapkan Kemenag adalah pembangunan atau penyediaan 16 TLS.
Ruang belajar sementara tersebut di tujukan untuk membantu madrasah yang belum dapat menggunakan fasilitas pembelajaran secara optimal akibat dampak gempa.
Dengan adanya tempat belajar alternatif, kegiatan pendidikan di harapkan dapat tetap berlangsung selama proses pemulihan bangunan berjalan.
Selain fasilitas pembelajaran sementara, Kemenag juga menyalurkan 1.000 school kit.
Bantuan perlengkapan tersebut di tujukan untuk mendukung kebutuhan peserta didik yang terdampak bencana. Sehingga mereka tetap memiliki perlengkapan yang di butuhkan untuk mengikuti kegiatan belajar.
BACA JUGA:
Gempa NTT M7,7, Kemlu: Masih Andalkan Penanganan Nasional
Amien menjelaskan, bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan proses pendidikan di wilayah terdampak dapat kembali berjalan secara bertahap.
“Kita ingin memastikan madrasah yang terdampak tetap mendapatkan dukungan. Terutama dalam pemenuhan kebutuhan pembelajaran. Bantuan ini di harapkan dapat membantu madrasah dan peserta didik kembali menjalankan aktivitas pendidikan secara bertahap,” tuturnya.
Penanganan tahap awal masih di fokuskan pada 15 madrasah dengan kondisi paling parah. Sementara itu, 72 madrasah yang telah terdata menjadi bagian dari pemetaan Kemenag untuk menentukan kebutuhan lanjutan.
Pemerintah masih mengumpulkan informasi mengenai kondisi masing-masing madrasah agar bentuk bantuan dapat di sesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Kemenag juga melanjutkan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mendukung pemulihan fasilitas pendidikan.
Pendataan dan pemetaan menjadi bagian penting dalam proses tersebut agar bantuan tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat mendukung keberlangsungan kegiatan belajar dalam jangka lebih panjang.
Di tengah proses pemulihan, Menteri Agama Nasaruddin Umar di jadwalkan mengunjungi wilayah NTT untuk melihat secara langsung kondisi madrasah yang terdampak gempa.
Kunjungan tersebut juga berkaitan dengan upaya memastikan kebutuhan pendidikan di daerah terdampak dapat di tangani dan mendapat dukungan sesuai kondisi di lapangan.
Dampak gempa terhadap sektor pendidikan menjadi bagian dari persoalan yang harus di tangani setelah bencana mengguncang NTT.
Selain kerusakan berbagai fasilitas, kegiatan masyarakat juga terganggu.
Hingga Minggu, 23 Agustus 2026, Kemenag terus memprioritaskan pemulihan layanan pendidikan melalui penyediaan 16 ruang belajar sementara dan distribusi 1.000 school kit, sembari melanjutkan pendataan terhadap 72 madrasah yang terdampak.
(Jingga Sonjaya)



