TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Impian merasakan jalanan mulus bak menjadi fatamorgana bagi warga Dusun Buniayu, Desa Cikawungading, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Selama dua dekade terakhir, sebanyak 300 kepala keluarga (KK) di Kampung Neglasari harus terus berjibaku melintasi jalur ekstrem demi menyambung roda kehidupan harian.
Akses jalan sepanjang 6 kilometer yang menghubungkan Neglasari menuju Sukasari hingga tembus ke jalur nasional pesisir Pantai Tasikmalaya Selatan ini belum pernah tersentuh pengaspalan layak. Keterbatasan anggaran pemerintah daerah selalu menjadi alasan klasik yang membendung harapan warga.
Baca Juga: KONI Kota Tasikmalaya Sabet Runner Up Kejuaraan Padel Jabar 2026
Padahal, bentangan jalur ini merupakan urat nadi vital yang menopang sektor ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan masyarakat setempat.
Warga Buniayu Pilih Swadaya dan Gotong Royong
Kecewa karena aspirasi melalui Pemerintahan Desa Cikawungading, Pemkab Tasikmalaya, hingga anggota DPRD Dapil 6 tak kunjung membuahkan hasil, warga akhirnya mengambil tindakan mandiri.
Tokoh masyarakat Buniayu, Ajengan Somantri, mengungkapkan bahwa warga rutin menggelar aksi gotong royong setiap hari Sabtu selama tiga bulan terakhir. Mereka mengumpulkan batu dan meratakan jalan secara manual agar kendaraan roda empat dapat melintas.
“Akses jalan Neglasari-Sukasari menuju jalan nasional sekitar 6 kilometer. Jika dibangun dan diaspal, ini akan langsung membuka isolasi warga Neglasari dan memangkas jarak tempuh secara drastis,” ujar Somantri di lokasi kegiatan, Sabtu (22/8/2026).
Kondisi jalan di atas bukit ini kian membahayakan saat musim hujan tiba karena berubah menjadi kubangan licin. Namun, warga tidak memiliki banyak pilihan lantaran jalur tersebut menjadi rute utama menuju fasilitas pendidikan seperti SD Neglasari, SMP Satap Desa Cikawungading, SMAN Cikawungading, dan SMAN 1 Cipatujah, serta jalur angkut komoditas gula aren.
Terhalang Jembatan Gantung dan Asa Status Jalan Kabupaten
Kepala Dusun Buniayu, Ahrudin, beserta mantan Kepala Desa Cikawungading, Muhtarom, menjelaskan kendala utama yang menghambat kendaraan roda empat masuk ke Neglasari. Keberadaan Jembatan Gantung Cibuniayu yang melintasi sungai belum memungkinkan mobil melintas.
“Kendala utama agar kendaraan roda empat bisa tembus sampai ke Neglasari adalah jembatan gantung itu sendiri. Rencana pembangunan jembatan permanen sebenarnya sudah masuk dalam APB-Des jangka panjang. Namun karena alokasi Dana Desa tahun 2026 mengalami penurunan, terpaksa harus ditangguhkan,” ungkap Muhtarom, Minggu (23/8/2026).
Pihak desa kini berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya bersedia meningkatkan status jalan Sukasari-Buniayu menjadi Jalan Kabupaten.
Kritik Pedas Warga terhadap Anggota Dewan
Kesabaran warga yang membendung selama 20 tahun akhirnya meluapkan kritik tajam. Arji, seorang mantan guru SD setempat, menyuarakan amarah warga terhadap jajaran pembuat kebijakan dan wakil rakyat.
“Para wakil rakyat hanya datang lima tahun sekali saat membutuhkan suara. Giliran rakyat terisolir selama 20 tahun meminta akses jalan, suara kami tidak pernah didengar. Padahal di sini lumbung suara terbesar warga Buniayu,” tegas Arji geram.
Warga Buniayu kini menantikan langkah nyata pemerintah daerah untuk menghadirkan keadilan pembangunan infrastruktur di pelosok Tasikmalaya Selatan.
(Abdul Latif)



