spot_imgspot_img
Rabu 12 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Gempa dan Rob Air Laut Melanda Pangandaran, Khawatir Tsunami?

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Gempa bumi dan rob air laut yang beberapa kali terjadi belakangan ini tidak lagi membawa kecemasan bagi penyintas Tsunami Pangandaran 2006.

Hal ini dirasakan Suherman (43), salah satu korban selamat yang kini tinggal di wilayah relokasi.

‎Menurut Suherman, jarak tempat tinggalnya yang cukup jauh dari garis pantai membuatnya merasa lebih tenang jika terjadi bencana serupa.

Baca Juga: Kadis KPP Jabar Sebut Pangandaran Masih Surplus Pangan Saat Kemarau

‎”Enggak sih, enggak khawatir kan jauh dari laut,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (12/8/2026).

Suherman merupakan salah satu warga yang terdampak tsunami 17 Juli 2006 silam. Ia tinggal di Bulak laut, wilayah yang dekat dengan pinggir laut.

‎Setelah bencana itu, Suherman akhirnya di relokasi ke kampung Tsunami yang berlokasi di RT 01/17 Desa Babakan, Pangandaran.

‎Setelah direlokasi ke lokasi tersebut, ia mengaku kondisinya jauh lebih aman. Saat ini Suherman di percaya sebagai ketua RT di kampung Tsunami.

‎”Sekarang lebih aman. Dari laut agak jauh,” jelasnya.

‎Meski begitu, pada musim pancaroba di wilayahnya masih sempat dilanda banjir rob. Namun Suherman menyebut kondisinya sudah jauh membaik setelah adanya sodetan.

‎”Dulu iya. sekarang kan udah di sodet. Digali. Paling banjir rob satu harian lah. Airnya enggak sampai rumah,” tuturnya.

‎Ia menambahkan, tanah di lokasi relokasinya juga sudah diurug setinggi sekitar 1,5 meter dari kondisi awal yang dulunya merupakan rawa.

‎”Tadinya kan rawa, lalu di urug jadi tinggi,” ujarnya.

Pentingnya Antisipasi

‎Sebagai penyintas, Suherman mengaku tetap memahami pentingnya antisipasi. Ia menyebut di wilayahnya masih terdapat sirene peringatan tsunami yang rutin diuji coba.

‎”Ya, Kan itu suka ada sirene suka kedengeran. Itu juga suka dicek sirenenya. Kalau enggak salah tiap bulan tuh dicek,” katanya.

‎Menurutnya, suara sirene sengaja diuji setiap bulan agar dipastikan tidak rusak dan bisa berfungsi saat dibutuhkan.

Baca Juga: Bupati Pangandaran Hadiri Gerakan Pangan Murah di Padaherang 

‎”Sebulan sekali cek mungkin takut ada kerusakan. Ya, kalau ada Tsunami mah mungkin sirene itu hidup,” kata Suherman.

‎Hingga kini, 20 tahun setelah peristiwa tsunami, warga relokasi seperti Suherman mengaku sudah bisa hidup lebih tenang. Meski rasa takut masih ada, keberadaan jalur evakuasi, sirene, dan jarak yang lebih jauh dari pantai menjadi faktor utama rasa aman tersebut.

‎Sekedar informasi, Tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 menelan ratusan korban jiwa dan merusak wilayah pesisir. Sejumlah warga kemudian direlokasi ke lokasi yang lebih aman dan lebih tinggi dari permukaan laut.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru