PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Tumpukan baglog memenuhi rak-rak bambu di sebuah kumbung sederhana di Desa Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Dari lubang plastik putih, tudung jamur tiram berwarna krem bermunculan dan siap panen.
Di balik bentuknya yang sederhana, budidaya jamur tiram menyimpan proses panjang yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta kebersihan ekstra.
Baca Juga: Kemarau Melanda, Ratusan Warga Pangandaran Antre Air Bersih
Pemilik usaha jamur tiram, Iip Nurhidayat (34), menekuni bisnis ini sebagai langkah meraup rezeki sekaligus memanfaatkan limbah serbuk gergaji kayu yang tak bernilai.
“Ini sekitar 600 baglog, itu semua akan sampai panen,” ujar Iip saat menunjukkan deretan baglog di kumbungnya, Jumat (7/8/2026).
Proses Olah Baglog Hingga Pemilihan Jenis Kayu
Iip mengolah media tanam menggunakan racikan serbuk gergaji kayu, bekatul, serbuk jagung, kapur kalsit, dan air. Menurut penjelasannya, pemilihan jenis kayu memegang peranan penting.
“Kayunya bebas. Paling bagus itu dan cepat dari kayu albasiah. Itu paling bagus untuk budidaya jamur tiram,” katanya.
Iip mencampur 12 bak besar serbuk kayu, 8 kg bekatul, 2 kg serbuk jagung, dan 2 kg kapur kalsit. Setelah mendiamkan adonan sehari semalam, ia mengemasnya ke dalam plastik ukuran 17×35 cm seberat 1 hingga 1,3 kg.
Ia mengukus baglog selama 8 jam pada suhu 100 derajat Celsius untuk proses sterilisasi sebelum memberikan bibit. Pembudidaya lalu menginkubasi baglog selama 40 hingga 45 hari sebelum memindahkannya ke ruang produksi.
Tantangan Sterilisasi dan Pemasaran Hasil Panen
Ancaman utama dalam bisnis ini datang dari kontaminasi mikroorganisme yang bisa menggagalkan pertumbuhan jamur.
“Dari bikin sampai panen tidak dipungkiri ada yang gagal, enggak semuanya berhasil tumbuh. Faktornya biasanya dari kontaminasi virus, kuman. Prosesnya harus benar-benar steril. Enggak bisa jorok,” ujar Iip.
Memiliki 600 baglog di kumbungnya membuat Iip bisa memetik 1 hingga 2 kg jamur per hari. Ia menjual jamur tiram seharga Rp22 ribu per kilogram.
“Saya jual ke teman yang ada di Banjarsari, Ciamis. Atau didagangkan keliling di sekitar sini. Belum punya banyak pelanggan pasti,” ujarnya.
Usaha budidaya ini membuktikan bahwa pengolahan limbah kayu mampu menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan serta menghasilkan pangan bergizi bagi masyarakat.
(Sajidin)



