PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran mengapresiasi kegiatan literasi digital yang di gelar KPID Jawa Barat (Jabar) pada Selasa, (4/8/2026) di SMAN 1 Mangunjaya.
Pemkab Pangandaran menilai, edukasi tersebut penting agar anak-anak tidak salah memanfaatkan teknologi di tengah masifnya pembelajaran berbasis digital di sekolah.
BACA JUGA:
Disparbud Pangandaran: Ada Kejanggalan SHM Tanah Harim Laut Madasari
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Pangandaran, Darso mengatakan, Pemda sudah mengembangkan pembelajaran digital secara maksimal.
Bahkan menurutnya, satu sekolah di Pangandaran, setiap ruang kelasnya sudah menggunakan fasilitas digital.
Namun ia mengingatkan, di balik dampak positif digitalisasi, juga muncul dampak negatif. Salah satunya terkait penyalahgunaan media sosial dan konten yang tidak sesuai.
”Karena memang melalui digital itu pengaruhnya tidak semata-mata hal-hal yang positif. Hal-hal negatif justru banyak juga terjadi,” katanya.
Terkait maraknya kasus perundungan atau bullying, Pemkab Pangandaran mengakui angkanya mengalami peningkatan pada 2026.
”Memang tidak di mungkiri bahwa di kegiatan rapat terbatas kemarin saya juga merasa menohok bahwa perundungan, bullying itu tahun 2026 meningkat,” ucapnya.
Menurut data dari KBP3A, hingga Juli 2026 tercatat 38 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan.
”Macam-macam. Mulai bullying, kekerasan, termasuk kekerasan seksual terhadap anak,” jelasnya.
Ia menyebut penanganan di lakukan secara kolaboratif antara Dinas Pendidikan, KBP3A, Dinas Sosial hingga Satpol PP.
”Alhamdulillah ada beberapa hal tentang perundungan, bullying itu bisa di tangani dengan baik. Sehingga tidak menjadi beban buat anak-anak yang terkena,” ujarnya.
BACA JUGA:
KPID Jabar Ungkap 99,8 Persen Gen Z Gunakan Internet, Siapkan Perda Pasagi
Salah satu faktor penyebab meningkatnya kasus adalah kurangnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan internet oleh anak.
”Pembatasan penggunaan internet yang kurang pengawasan dari orang tua. Anak-anak kita dalam masa-masa serba ingin tahu, penasaran. Nah jangan sampai penasaran ini mengacu pada hal yang salah,” tegasnya.
Ia pun sepakat dengan wacana pembatasan penggunaan media sosial pada anak.
Dia mengajak seluruh stakeholder termasuk media untuk bersama-sama mencegah hal yang tidak di inginkan terjadi pada anak-anak di Pangandaran.
(Sajidin)



