GARUT, FOKUSJabar.id: Bibit Kelapa yang di serahkan saat acara Sawala Budaya Sunda di Museum Bumi Nyai Tanggulun Kecamatan Balubur Limbangan Kabupaten Garut Jawa Barat (Jabar) bukan sekadar tanaman yang di pindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
Menurut Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen, bibit kelapa tersebut merupakan simbol kehidupan, keberlanjutan dan harapan.
BACA JUGA:
Wanoja Gatra Tamu Kehormatan Sawala Budaya Sunda
“Pohon Kelapa tumbuh perlahan, berakar kuat, menjulang tinggi dan memberi manfaat dari akar hingga pucuknya. Demikian pula nilai-nilai budaya dan kearifan leluhur harus di tanamkan kepada generasi penerus agar tumbuh menjadi peradaban yang kokoh dan bermanfaat,” kata Holil, Rabu (8/7/2026).
Dia menegaskan, Pusaka Indung mengajarkan bahwa warisan paling berharga bukanlah benda semata. Melainkan jati diri, adab, ilmu, akhlak dan nilai-nilai luhur yang di wariskan turun-temurun.
“Benda pusaka hanya menjadi simbol. Sedangkan ruhnya adalah kebijaksanaan yang hidup dalam perilaku manusia,” ungkapnya.
Holil menyebut, filosofi Limbangan Ngadaun Ngora melambangkan lahirnya tunas-tunas baru. Daun muda adalah lambang regenerasi, semangat pembaruan dan harapan masa depan.
Sebagaimana pohon yang terus mengeluarkan daun baru tanpa meninggalkan akarnya. Demikian pula masyarakat Garut Utara harus terus melahirkan generasi yang berkarakter, berbudaya dan berakhlak mulia tanpa tercerabut dari akar sejarahnya.
Sementara Tunggul Galuh Pakuan Pajajaran merupakan simbol akar peradaban Sunda. Tunggul bukanlah akhir kehidupan, melainkan pangkal tumbuhnya tunas baru.
Dia mengingatkan bahwa kemajuan hanya akan bermakna apabila di bangun di atas fondasi sejarah, budaya dan kearifan para leluhur.
“Prosesi Nurunkeun Pusaka Indung dengan menyerahkan bibit kelapa menjadi ikhtiar untuk menyatukan masa lalu, masa kini dan masa depan,” ucapbta.
“Menjaga pusaka bukan berarti hidup dalam romantisme sejarah. Melainkan menanamkan nilai-nilai luhur agar terus hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat,” Holil menambahkan.
BACA JUGA:
Bupati Garut Terima Petugas Sensus Ekonomi 2026
Bibit Kelapa adalah harapan, Pusaka Indung adalah jati diri. Limbangan Ngadaun Ngora adalah regenerasi dan Tunggul Galuh Pakuan Pajajaran adalah akar peradaban.
Karenanya, merawat pusaka sejatinya adalah merawat masa depan, menanam nilai hari ini agar berbuah kemuliaan bagi generasi yang akan datang.
Itulah makna Nyawang Mangsa Kahareupna (memandang masa depan) dengan berpijak pada akar budaya dan warisan leluhur.
(Bambang Fouristian)



