spot_imgspot_img
Minggu 28 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Saat Senja Turun di Pangandaran, Ngukus Layung Hadir dengan Tari, Musik, dan Aroma Wewangian

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Rumah Makan Mina Family di kawasan Kampung Turis Pangandaran menyuguhkan pertunjukan budaya bertajuk “Ngukus Layung” tepat saat cahaya senja mulai menyelimuti garis pantai pesisir.

Seni pertunjukan ini mengemas pesan mendalam mengenai proses pendewasaan diri manusia melalui perpaduan harmonis antara gerak tari, wirahma musik, dan seungit wewangian ritual.

Baca Juga: Pemuda Pangandaran Mengaku Dikeroyok dan Dipaksa Minum Miras, Polisi Bergerak

Penyelenggara memilih nama Ngukus Layung karena mengandung makna filosofis yang sangat kuat. Frasa Ngukus melambangkan proses pematangan kepribadian manusia secara perlahan, sedangkan kata Layung atau cahaya senja mewakili fase transisi antara siang dan malam yang lekat dengan nuansa keheningan.

Kombinasi keduanya melahirkan arti sebuah proses pendewasaan diri dalam atmosfer yang tenang. Terlebih suasana yang penuh makna, laksana senja yang berganti rupa tanpa harus tergesa-gesa.

“Ngukus Layung henteu saukur hiburan, tapi jadi hiji identitas jeung pangalaman rasa. Nalika musik mimiti ngagelendeng jeung ritual dimimitian, éta jadi tanda yén senja di Mina Family geus datang mawa suasana hening, haneut, jeung pinuh ku panghormat ka alam, budaya, jeung kahirupan,” ungkap Ketua Sanggar Putra Rengganis, Iis Rahmini Juni Anita, Sabtu sore (27/6/2026).

Padukan Musik Meditatif dan Ritual Wewangian, Sanggar Putra Rengganis Ajak Manusia Bercermin Diri

Iis memaparkan bahwa tradisi unik ini menggambarkan sebuah prosesi untuk menghidupkan rasa, menyucikan batin, serta membangkitkan kesadaran diri manusia.

Panitia sengaja menyebarkan aroma wangi (seungit) di beberapa titik strategis sebagai simbol penyebaran niat baik. Terlebih untuk ketenangan jiwa, sekaligus pengingat agar manusia senantiasa bersyukur kepada Sang Pencipta.

Pihak sanggar sengaja menggelar pertunjukan ini pada momen matahari terbenam karena meyakini waktu tersebut memiliki tingkat ketenangan paling tinggi.

Saat layung tiba, alam seolah-olah memberikan ruang khusus bagi manusia untuk mengevaluasi dan bercermin diri sebelum kegelapan malam benar-benar datang.

Secara visual, penonton akan memanjakan mata dengan eksotika cahaya jingga pesisir dan ritual asap wewangian yang magis. Kemudian liukan gerak tari yang mengalir tenang, serta alunan musik meditatif yang sakral.

RM Mina Family bersama Sanggar Putra Rengganis berkomitmen menyajikan pengalaman wisata budaya baru yang mengedepankan kedalaman rasa. Ketimbang sekadar atraksi hiburan komersial biasa.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru