TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Tasikmalaya memperluas cakupan program pemberdayaan masyarakat ultra mikro dengan membidik sektor kesehatan mental dan penguatan modal sosial. Otoritas pembiayaan plat merah ini menyelenggarakan agenda pelatihan bertajuk PNM Humanity guna telah memberikan intervensi psikologis bagi para pendamping lapangan dan pelaku usaha kecil, beberapa waktu lalu.
Mengusung tema “Program Belajar Experiential: Seni Mengelola Stres dan Membangun Kekuatan Mental”, kegiatan strategis ini menghadirkan langsung Pemimpin Cabang PNM Tasikmalaya, Ara Koswara.
“Kami meyakini fondasi utama dari ekosistem bisnis yang sehat adalah kondisi manusia yang sehat secara mental. Pendamping lapangan (Account Officer) dan nasabah membentuk satu kesatuan ekosistem yang saling memengaruhi. Saat pekerja lapangan merasakan kebahagiaan dan ketangguhan, mereka otomatis menularkan energi positif tersebut kepada para nasabah di perkampungan,” jelas Ara Koswara, Sabtu (20/6/2026).
Ajang ini melibatkan 100 personel Account Officer (AO) selaku garda terdepan perusahaan, serta 50 perempuan nasabah PNM Mekaar pilihan dari seantero wilayah Tasikmalaya. Guna memastikan akurasi metode materi, PNM menggandeng psikolog sekaligus pakar perilaku, Dini Yulia Kurniati, S.Psi., M.Psi., sebagai fasilitator utama.
Hadirkan Ruang Aman Bagi Perempuan Prasejahtera, PNM Reduksi Risiko Kelelahan Kerja Lapangan
Pihak panitia menerapkan konsep pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) untuk menggantikan metode ceramah satu arah yang konvensional. Pendekatan interaktif ini menyediakan safe space (ruang aman) bagi seluruh peserta dalam mengenali, menerima, serta mengendalikan dinamika emosi akibat tekanan pekerjaan maupun guncangan ekonomi harian.
Langkah preventif ini menyasar kelompok nasabah PNM Mekaar yang mayoritas berstatus perempuan prasejahtera. Kelompok ini rentan memikul beban ganda (double burden). Karena harus memutar modal usaha mikro sekaligus menjaga stabilitas domestik rumah tangga di tengah keterbatasan sumber daya.
“Pada sesi inti, kami memandu simulasi interaktif, konseling kelompok, serta teknik relaksasi berbasis kesadaran penuh (mindfulness). Kami membekali peserta dengan keterampilan memetakan pemicu stres (stressor identification). Serta mempraktikkan langkah pertahanan diri (coping mechanism) dalam keseharian harian mereka,” jelas Dini Yulia Kurniati.
Di sisi lain, manajemen memanfaatkan momentum ini untuk mereduksi risiko kelelahan mental (burnout) di kalangan AO. Ritme kerja lapangan yang super dinamis dalam melayani ratusan karakter nasabah setiap hari menuntut ketahanan psikologis yang prima. Hal itu demi menjaga kualitas pelayanan.
Sesi saling berbagi (sharing session) mengikis batasan formalitas korporasi, memicu keharuan, serta menumbuhkan empati mendalam saat AO. Kemudian nasabah saling bertukar kisah perjuangan hidup. Lewat kesuksesan agenda ini, PNM Cabang Tasikmalaya membuktikan bahwa indikator pemberdayaan sejati wajib menyentuh aspek humanis demi mewujudkan kesejahteraan berkelanjutan.
(Abdul Latif)



