TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Ratusan pelajar memadati area Taman Lindung Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, untuk menumpahkan kreativitas warna-warni cat dalam Festival Melukis Payung Geulis, Senin (22/6/2026). Pergelaran seni masif ini mengusung tema “Keindahan Kota Tasikmalaya” sebagai bagian dari rangkaian perayaan Bulan Soekarno sekaligus motor penggerak pelestarian budaya lokal.
Ajang perdana ini sukses menyedot partisipasi lebih dari 600 murid sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) sederajat se-Kota Tasikmalaya Raya.
Baca Juga: Persit Kodim 0612/Tasikmalaya Gelar Pemeriksaan Kesehatan dan Deteksi Dini Kanker untuk Anggota
“Kami melihat semangat dan antusiasme anak-anak pelajar begitu tinggi dalam mendesain media payung putih. Mereka membawa beragam gagasan segar untuk mengenalkan kembali Payung Geulis lewat goresan kuas yang sangat inspiratif,” ujar Panitia Penyelenggara, Irvan Kristivan, Senin (22/6/2026).
Irvan mengungkapkan bahwa lonjakan pendaftar melampaui estimasi awal manajemen. Bahkan panitia terpaksa menutup loket registrasi karena keterbatasan kuota media payung meskipun minat sekolah masih sangat tinggi pada hari pelaksanaan. Pihak penyelenggara memproyeksikan festival budaya ini sebagai agenda rutin tahunan. Tujuannya demi menanamkan rasa memiliki generasi muda terhadap eksistensi para perajin lokal di Kota Santri.
Dinas Pendidikan Siapkan Agenda Tahunan, Peserta Tertantang Lukis Media Melengkung
Sektor birokrasi menyambut positif ruang kreativitas luar ruangan ini. Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Indra Risdianto, melempar apresiasi tinggi terhadap inisiatif kebudayaan tersebut karena efektif melindungi warisan leluhur dari gerusan zaman digital.
“Lewat aktivitas melukis, anak-anak tidak sekadar mengasah bakat seni, melainkan juga memupuk rasa cinta mendalam terhadap tanah kelahirannya. Kami berharap eselon ini melahirkan seniman-seniman Payung Geulis masa depan yang siap melanjutkan estafet kejayaan budaya Tasikmalaya,” tutur Indra.
Keunikan media lukis memberikan tantangan tersendiri bagi para peserta belia. Salah satu siswi pemburu prestasi, Prisilia Eka Putri, mengaku sempat kikuk saat menggoreskan warna di atas permukaan kain payung yang melengkung dan bergelombang.
“Awalnya aku bingung menentukan konsep gambar. Namun, setelah meraba polanya, aku langsung mengayunkan warna gradasi abstrak tanpa sketsa dasar. Aku sangat senang karena acara di alam terbuka seperti ini memicu rasa percaya diri dan imajinasi yang luas,” ucap Prisilia.
Aktivitas estetik di ruang terbuka hijau Dadaha ini juga mengundang perhatian warga sekitar yang melintas. Masyarakat memilih berhenti sejenak untuk mengagumi barisan karya visual anak-anak. Karya mereka bercerita tentang sudut perkotaan yang ramah, religius, serta bernilai seni tinggi.
(Seda)



