spot_imgspot_img
Jumat 19 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Target 240 Siswa, SMAN Pancawaluya Pangandaran Optimistis Kuota SPMB Terpenuhi

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Panitia Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di SMAN Pancawaluya, Kabupaten Pangandaran, sukses menuntaskan pelaksanaan pendaftaran gelombang pertama. Sebagai sekolah negeri gres di wilayah Pangandaran, lembaga pendidikan ini tercatat telah meloloskan validasi data bagi puluhan calon siswa baru dari rupa-rupa jalur saringan masuk.

Ketua SPMB SMAN Pancawaluya, Sri Handayani, mengonfirmasi bahwa hingga Jumat (19/6/2026), sistem pendaftaran daring telah memverifikasi sebanyak 81 berkas calon pelajar dari akumulasi dua sub-tahapan seleksi awal. Pihaknya merinci, fase prapendaftaran atau PCMB menyumbang angka kelulusan berkas sebanyak 61 siswa untuk seluruh kategori.

Baca Juga: SMAN Pancawaluya Pangandaran Bangun Karakter Lewat 5 Nilai Kehidupan, Begini Filosofinya

“Kami mencatat sebanyak 20 calon siswa baru berhasil lolos verifikasi berkas pada pembukaan tahap pertama kemarin. Seluruh murid tersebut masuk melalui saringan jalur prestasi akademik/non-akademik serta jalur mutasi perpindahan tugas orang tua,” jelas Sri Handayani di ruang kerjanya, Jumat (19/6/2026).

Sri memaparkan bahwa Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat memberikan alokasi kuota daya tampung total sebanyak 240 kursi untuk SMAN Pancawaluya pada tahun ajaran baru ini. Jumlah kuota tersebut setara dengan ketersediaan 6 rombongan belajar (rombel). Dengan mengantongi 81 siswa terverifikasi pada fase awal, panitia baru berhasil mengisi separuh dari target, yakni kisaran 3 rombel.

Salah Paham Lokasi Sekolah di Ciganjeng Padaherang, Banyak Calon Murid Minta Cabut Berkas

Guna memenuhi sisa kuota yang masih longgar, manajemen sekolah kini mengalihkan fokus persiapan menyambut pembukaan SPMB tahap kedua. Berdasarkan jadwal resmi dari Disdik Jabar, pendaftaran gelombang berikutnya akan bergulir mulai 30 Juni hingga 6 Juli 2026 mendatang, yang kemudian berlanjut ke masa konfirmasi ulang selama satu pekan penuh.

Sri membeberkan bahwa miskomunikasi spasial terkait peta zonasi dan letak geografis sekolah menjadi ganjalan utama selama operasional tahap pertama. Banyak wali murid dari pusat Kabupaten Pangandaran berasumsi keliru bahwa gedung SMAN Pancawaluya berdiri dekat pemukiman mereka. Padahal sekolah ini berlokasi di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang.

“Sejumlah pendaftar jalur domisili asal pesisir Pangandaran salah mengira posisi bangunan sekolah kami. Mereka langsung mendatangi posko pengaduan. Bahkan mengontak lewat saluran telepon untuk meminta pencabutan berkas pendaftaran karena jarak tempuh ke Padaherang ternyata terlampau jauh,” jelas Sri.

Sri mencontohkan kasus salah satu pendaftar asal Desa Purbahayu, Kecamatan Pangandaran, yang terlambat menyadari jarak riil sekolah pasca-mengirim dokumen digital.

Fenomena ini membuktikan bahwa gaung sosialisasi profil sekolah baru belum menyentuh wilayah pelosok secara merata. Kendati demikian, Sri menggaransi sistem aplikasi pendaftaran terpadu se-Jawa Barat tidak mengalami kendala server dan berjalan sangat lancar.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru