spot_imgspot_img
Selasa 16 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Refleksi Makanan untuk Tubuh dan Nutrisi untuk Jiwa

Oleh: dr. Iwan Suwarsa, MKes

GARUT, FOKUSJabar.id: Makanan mengenyangkan perut, tapi belum tentu menenangkan jiwa. Di tengah gempuran fast food dan makan sambil scroll HP, kapan terakhir kita benar-benar “hadir” saat menyuap nasi? Refleksi makanan untuk tubuh dan nutrisi untuk jiwa kini jadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.

Melalui artikel ini, saya mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu akan mencoba sedikit mengupas tentang Gizi dan Peradaban Bangsa.

BACA JUGA:

Jagung Garut Utara Komoditas Unggulan dan Pilar Ketahanan Pangan

Waktu saya duduk di Sekolah Dasar (SD), bekal sekolah tidak seramai sekarang. Tidak ada foto menu yang di unggah ke Media Sosial (Medsos).

Tidak ada istilah kandungan protein, kalori atau gizi seimbang yang di bahas di grup WhatsApp (WA) orang tua.

Bekal nasi kami ke sekolah sangat sederhana. Kadang nasi dengan kerupuk. Kadang nasi dengan telur (setengah) dan ketika akhir bulan, nasi dengan harapan.

Anehnya, kami tetap berangkat sekolah dengan penuh semangat. Mungkin karena saat itu harapan memang lebih murah daripada harga cabai.

Tentu saya tidak sedang meromantisasi masa lalu. Kekurangan tetaplah kekurangan.

Dan,  anak-anak zaman sekarang berhak mendapatkan gizi yang lebih baik daripada yang kami dapatkan dahulu.

Karena itu saya senang ketika bangsa ini semakin peduli pada pemenuhan gizi generasi muda.

BACA JUGA:

Humas PM Gatra Belajar dari Nelayan dalam Hadapi Badai dan Ombak

Namun ketika berbagai menu mulai di susun dengan cermat, saya tiba-tiba teringat pada satu jenis gizi yang dulu banyak kami dapatkan tanpa sadar.

Yakni, gizi yang tidak pernah tercantum dalam daftar menu. Gizi yang tidak bisa di timbang dalam gram dan gizi yang tidak pernah di periksa di laboratorium.

Namanya, keteladanan. Dan dari di sinilah cerita ini di mulai.

“Pak, hari ini menunya ayam.”

Seorang teman bercerita sambil tertawa. Anaknya pulang sekolah dengan wajah berbinar. Bukan karena nilai matematikanya 100, bukan pula karena berhasil menjadi ketua kelas. Yang membuatnya bahagia adalah sepotong ayam di kotak makan.

Saya ikut tersenyum. Memang begitulah anak-anak. Kadang kebahagiaan mereka sesederhana ayam goreng, telur dadar atau segelas susu.

Lalu saya membayangkan jutaan anak lain yang menerima makanan serupa.

Sebuah ikhtiar besar agar generasi masa depan tumbuh sehat, kuat dan cerdas.

Tujuannya sangat baik karena sulit berkonsentrasi ketika perut keroncongan. Sulit belajar ketika tubuh kekurangan energi dan sulit bermimpi besar ketika kebutuhan paling dasar saja belum terpenuhi.

Maka ketika bangsa ini berbicara tentang gizi, saya mengangguk setuju.

Namun entah mengapa, di tengah berbagai diskusi tentang protein, vitamin, kalori dan stunting, tiba-tiba muncul satu pertanyaan yang menggelitik.

Kalau suatu hari semua anak sudah cukup gizi, apakah otomatis bangsa ini akan menjadi lebih baik?

Saya terdiam.

Pertanyaan itu ternyata tidak sesederhana yang saya kira. Sebab manusia bukan hanya makhluk yang makan lewat mulut. Namun mata, telinga, pikiran dan hati juga makan.

BACA JUGA:

Yayasan Yasspira Gandeng PKM Cisewu Garut Latih Relawan SPPG

Setiap hari anak-anak menyantap makanan dari piring mereka. Tetapi pada saat yang sama mereka juga “menyantap” contoh-contoh kehidupan dari orang dewasa di sekelilingnya.

Mereka melihat, mendengar, merekam dan  belajar.

Kadang tanpa kita sadari, seorang anak yang di beri susu setiap pagi mungkin tumbuh sehat.

Tetapi jika setiap hari ia menyaksikan kebohongan di anggap biasa. Sesungguhnya ada jenis gizi lain yang kurang.

Seorang anak yang kebutuhan proteinnya tercukupi mungkin akan tumbuh tinggi. Tetapi jika ia melihat amanah di permainkan dan kepercayaan di khianati, ada bagian dalam dirinya yang sedang kekurangan nutrisi.

BACA JUGA:

Intip 10 Inspirasi Olahan Daging Kurban Iduladha dari Rendang hingga Steak Modern

Saat itulah saya menyadari sesuatu. Ternyata karakter juga bisa mengalami stunting. Bedanya, stunting karakter tidak terlihat di grafik pertumbuhan.

Tidak ada timbangan yang bisa mengukur berat kejujuran. Tidak ada pita pengukur yang bisa menghitung panjang amanah. Tidak ada laboratorium yang dapat memeriksa kadar integritas dalam darah.

Padahal dampaknya bisa jauh lebih panjang. Kekurangan zat besi mungkin membuat seseorang sulit berkonsentrasi. Tetapi kekurangan kejujuran dapat membuat sebuah masyarakat kehilangan kepercayaan.

Kekurangan protein mungkin menghambat pertumbuhan tubuh. Tetapi kekurangan amanah dapat menghambat pertumbuhan peradaban.

Di sinilah saya merasa bahwa bangsa ini sedang mengerjakan pekerjaan besar yang sesungguhnya terdiri dari dua bagian.

Bagian pertama, memastikan anak-anak mendapatkan makanan yang layak (anggaran) dan bagian kedua adalah memastikan mereka mendapatkan teladan yang layak (keteladanan).

Yang pertama bisa di beli. Dan yang kedua harus di contohkan. Bagian kedua justru lebih sulit karena anak-anak tidak mendengar apa yang kita pidatokan.

Mereka lebih banyak meniru apa yang kita lakukan. Mereka belajar kejujuran bukan dari slogan yang di tempel di dinding. Mereka belajar kejujuran dari orang yang tetap berkata benar meski tidak di awasi.

BACA JUGA:

Pemkab Garut-Provinsi Kepri Jajaki Kerja Sama Tingkatkan IPM

Mereka belajar amanah bukan dari spanduk besar. Mereka belajar amanah dari orang yang menjaga titipan sekecil apa pun. Mereka belajar tanggung jawab bukan dari ceramah panjang dan belajar tanggung jawab dari contoh nyata yang mereka lihat setiap hari.

Maka mungkin sudah saatnya kita memperluas makna kata gizi.

Gizi bukan hanya yang masuk ke perut. Tetapi juga gizi yang masuk ke hati.

Kejujuran, kepercayaan, amanah, rasa malu ketika berbuat salah, keteldanan adalah gizi. Semua itu di butuhkan setiap hari.

Sejatinya, bangsa yang sehat tidak cukup di bangun oleh tubuh yang kuat. Bangsa yang sehat juga membutuhkan nurani yang kuat.

Perut yang kenyang memang penting. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa peradaban tidak runtuh karena kekurangan nasi semata.

Sering kali peradaban runtuh ketika kepercayaan habis, ketika amanah hilang dan ketika kejujuran menjadi barang langka.

Maka ketika kita berbicara tentang masa depan generasi, mari kita dukung setiap ikhtiar yang membuat mereka tumbuh sehat.

Namun pada saat yang sama, jangan lupa menyajikan menu yang belum tertulis di kotak makan mana pun. Namanya, amanah, kejujuran dan tanggung jawab.

Sebab tubuh yang sehat akan membawa mereka melangkah jauh. Dan hanya karakter yang baik yang akan membuat mereka tetap berada di jalan yang benar.

BACA JUGA:

Wujudkan Sila ke-5, Ormas GAS Bantu Kaum Difabel Garut

Mungkin itulah gizi paling mahal yang harus di wariskan kepada generasi berikutnya.

(Penulis adalah Praktisi kesehatan dan Pengamat Sosial Bidang Kesehatan)

spot_img

Berita Terbaru