TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Ancaman abrasi di sepanjang pesisir Pantai Tasikmalaya Selatan (Tasela) memicu aksi nyata dari masyarakat lokal.
Komunitas Penjaga Leuweung (Jagleuw) Desa Sindangjaya Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat (Jabar), bergerak serentak menanam ribuan pohon penahan abrasi di sepanjang sempadan pantai.
BACA JUGA:
Mengharukan! Ratusan Anak Disabilitas Kota Tasikmalaya Nobar Film Buatan Sesama Difabel
Langkah ini di ambil demi menjaga kelestarian ekosistem pesisir dari hantaman ombak ganas.
Meski gerakan konservasi di Desa Sindangjaya ini sudah di inisiasi sejak tahun 2014, aksi penanaman kini di genjot secara masif dan intensif sejak Mei 2026.
Sinergi Jagleuw dan Dinas Kehutanan Jawa Barat
Program Jagleuw bukan sekadar aksi musiman. Gerakan ini merupakan wujud nyata pelestarian hutan yang di gagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Di lapangan, program ini di inisiasi oleh Cabang Dinas Kehutanan Wilayah (CDKW VI) di bawah binaan langsung Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Sindangjaya.
Ajat Sudrajat, seorang petugas Jagleuw yang juga berprofesi sebagai nelayan lokal, menceritakan bahwa perjuangan menghijaukan pantai ini punya rekam jejak yang panjang.
Jauh sebelum Jagleuw masif bergerak, aksi serupa di gawangi oleh Kelompok Masyarakat Pengawas Sumber Daya Pesisir dan Kelautan (Pokmaswas).
”Dari sekitar 1.000 pohon mangrove yang kami tanam sejak 2014, alhamdulillah ada sekitar 500 pohon yang tumbuh subur dan sudah besar sekarang. Luasnya mencapai setengah hektar,” ungkap Ajat, yang juga aktif sebagai anggota Rukun Nelayan Desa Sindangjaya.
Mei 2026 Momentum Akselerasi Hijau di Bumi Perkemahan Cikabuyutan
Aksi Jagleuw memasuki babak baru yang lebih intensif pada awal Mei 2026. Berpusat di kawasan Bumi Perkemahan Cikabuyutan, tim Jagleuw CDKW VI Kecamatan Cikalong melakukan penanaman aneka pohon di lahan seluas lebih dari satu hektar.
BACA JUGA:
Gerindra dan PPP Kota Tasikmalaya Bangun Kekuatan Baru
Tak hanya menanam, tim yang di bantu relawan lokal, Wahid dan Jahudin juga melakukan pemagaran serta perawatan intensif agar bibit pohon dapat tumbuh optimal.
Menariknya, gerakan ini juga menjadi ajang edukasi lingkungan. Jagleuw sengaja melibatkan siswa-siswi SMA/SMK guna memantik kesadaran ekologis generasi muda sejak dini. Mulai dari tingkat SD hingga penggalangan aksi di level masyarakat luas.
Ekspansi gerakan Jagleuw kini tidak hanya berpusat di Desa Sindangjaya. Aksi pelestarian ini telah meluas ke berbagai titik krusial di pesisir Tasela.
Daerah tersebut meliputi Kecamatan Cikalong (Desa Kalapa Genep dan Desa Mandalajaya). Kecamatan Karangnunggal, Desa Cidadap. Dan Kecamatan Cipatujah (Desa Sindangkerta dan Desa Ciandum).
Gerakan ini kian mendapat angin segar berkat dukungan penuh dari Kepala CDKW VI Dinas Kehutanan Jabar, Agung Lukman yang hadir langsung dalam aksi penanaman pada Jumat (5/6/2026) lalu.
Benteng Alami Melawan Pemanasan Global dan Potensi Ekowisata
Jenis pohon yang di pilih dalam program ini di sesuaikan dengan karakteristik habitat pantai. Cemara Laut, Waru Laut dan Ketapang menjadi komoditas utama, dengan rencana memperbanyak porsi tanaman mangrove ke depannya.
Secara ekologis, vegetasi pantai ini di proyeksikan menjadi benteng alami (green belt) yang berfungsi sebagai:
- Penahan Angin (Windbreak)
Mereduksi kecepatan angin laut yang kencang.
- Pagar Penahan Air
Mengurangi energi hantaman ombak yang mengikis daratan.
- Mitigasi Iklim
Berpartisipasi aktif dalam menekan laju pemanasan global melalui penyerapan karbon.
Selain untuk fungsi proteksi lingkungan, penghijauan yang menyasar area Muara Cimedang ini menyimpan target jangka panjang yang menjanjikan.
Kawasan ini di bidik untuk bertransformasi menjadi destinasi ekowisata (wisata ramah lingkungan) yang mampu mendongkrak ekonomi warga lokal.
BACA JUGA:
Dari Peringkat 8 ke 5 Besar, Ambisi Besar Kota Tasikmalaya di MTQH Jabar
”Jika di akumulasikan dari tahun 2014 hingga sekarang, total sudah ada sekitar 20.000 pohon yang tertanam. Tanaman awal seperti Ketapang, Butun, Waru, Nyamplung, dan Cemara Laut kini sudah tumbuh besar berdampingan dengan mangrove,” pungkas Jajang, salah satu tokoh penggerak setempat.
Melalui konsistensi Komunitas Jagleuw, pesisir Pantai Tasela kini tidak hanya bersiap menghadapi tantangan alam. Namun juga bersiap menyambut masa depan hijau yang berkelanjutan.
(Abdul Latif)



