spot_imgspot_img
Minggu 16 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pakar Unpad Jelaskan Fenomena Upwelling Pemicu Biota Laut Terdampar di Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Peristiwa terdamparnya sejumlah biota laut seperti hiu paus dan lumba-lumba di pesisir selatan Jawa Barat belakangan ini bukanlah sekadar kebetulan semata. Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (Unpad), Pringgo Kusuma Dwi Noor Yadi Putra, menunjuk fenomena upwelling sebagai salah satu pemicu utamanya.

Pringgo menjelaskan bahwa upwelling merupakan proses naiknya massa air laut dari lapisan dalam menuju ke permukaan. Hembusan angin muson timur yang bertiup sejajar garis pantai mendorong air permukaan bergerak menjauhi pesisir.

Baca Juga: Ketika Fiksi Rapijali Jadi Nyata, Pirman Menyusuri Batukaras hingga Sungai Cijulang Pangandaran

“Air dari laut dalam membawa nutrien seperti nitrat, fosfat dan silikat yang kemudian memicu produktivitas primer di permukaan,” kata Pringgo, Minggu (16/8/2026).

Limpahan Nutrien Undang Predator Besar Mendekat ke Pesisir

Kandungan nutrien yang melimpah tersebut merangsang pertumbuhan pesat fitoplankton. Kondisi ini secara berantai memikat kedatangan zooplankton, ikan-ikan kecil seperti teri, serta beragam organisme laut lainnya.

Kelimpahan sumber makanan tersebut pada akhirnya mengundang predator besar, mulai dari ikan tongkol, cakalang, tenggiri, hingga hiu paus yang tergolong pemakan penyaring (filter feeder).

“Ketika konsentrasi makanan berada dekat pesisir, satwa tersebut secara alami akan mengikuti sumber makanannya,” jelas Pringgo.

Hiu paus mendekat untuk memangsa plankton serta ikan kecil, sedangkan lumba-lumba bergerak mengikuti pergerakan ikan pelagis. Perilaku ini membuat kedua satwa terlindungi tersebut sering terlihat di perairan dangkal seperti Pangandaran.

Risiko Perairan Dangkal bagi Satwa dan Peluang Bagi Nelayan

Pringgo mengingatkan bahwa berkumpulnya biota laut di sekitar pesisir menyimpan risiko keselamatan. Satwa-satwa tersebut rentan terjebak di area dangkal, mengalami gangguan sistem navigasi, atau masuk ke jaring nelayan sebagai tangkapan sampingan (bycatch).

Di sisi lain, upwelling memberikan dampak positif bagi para nelayan karena produktivitas laut meningkat dan area tangkapan bergeser semakin dekat ke pesisir. Nelayan dapat mengenali gejalanya melalui penurunan suhu air laut, perubahan warna air menjadi kehijauan akibat tingginya klorofil, serta banyaknya burung laut yang menyambar ikan di permukaan.

“Momentum kelimpahan ikan harus dimanfaatkan secara bijaksana dengan alat tangkap yang selektif dan ramah lingkungan,” ucap Pringgo.

Ia mengimbau nelayan untuk tidak menggunakan alat tangkap destruktif maupun mata jaring yang terlalu kecil. Tujuannya agar benih ikan tetap dapat tumbuh dan berkembang biak.

Pentingnya Edukasi Penanganan Satwa Dilindungi

Pringgo menekankan pentingnya menjaga keselamatan satwa yang dilindungi undang-undang. Jika hiu paus atau lumba-lumba tidak sengaja tersangkut jaring, nelayan harus segera melepasnya kembali ke laut lepas dalam kondisi hidup.

Ia mendorong pemerintah, kelompok nelayan, dan perguruan tinggi untuk terus memberikan edukasi mengenai teknik pelepasan satwa secara aman.

“Fenomena upwelling seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pertanda musim ikan, tetapi juga sebagai momentum memahami keseimbangan ekosistem laut. Laut yang produktif harus termanfaatan secara cerdas. Tetapi tetap kita jaga agar sumber dayanya dapat terus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya,” pungkasnya.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru