TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Ratusan anak penyandang disabilitas dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kota Tasikmalaya memadati Gedung Creative Center Kota Tasikmalaya, Minggu sore (14/6/2026). Kehadiran massa anak-anak ini guna mengikuti agenda nonton bareng (nobar) film dokumenter inspiratif yang menguras emosi dan memantik motivasi tinggi.
Suasana di dalam ruang pemutaran film terasa kian istimewa berkat kehadiran Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara. Orang nomor dua di Kota Tasikmalaya tersebut memilih melepas sekat birokrasi dengan duduk lesehan dan berbaur langsung di tengah-tengah anak penyandang tunanetra. Kehangatan tersebut melahirkan atmosfer kekeluargaan yang kental sekaligus memancarkan rona keceriaan pada wajah para peserta.
Baca Juga: Gerindra dan PPP Kota Tasikmalaya Bangun Kekuatan Baru
Pihak panitia menyuguhkan sebuah sinema dokumenter istimewa berjudul “Langit Tetap Sama”. Karya audio visual ini memanen decak kagum lantaran sekelompok penyandang tunanetra yang bernaung di bawah Yayasan Komunitas Sahabat Mata Semarang sukses mengeksekusi seluruh rantai produksinya secara mandiri.
“Kami melayangkan apresiasi setinggi-tingginya atas pemutaran film ‘Langit Tetap Sama’ ini. Lembar sinematografi ini menjadi bukti autentik di lapangan bahwa keterbatasan fisik sama sekali bukan merupakan batu penghalang untuk melahirkan karya besar. Mereka justru berhasil mendikte kita tentang arti keteguhan dan kemandirian hidup,” katanya usai menyaksikan tayangan, Minggu (14/6/2026).
Kupas Proses Produksi Tunanetra, Dicky Candra Suntik Motivasi 83 Cabor
Sinema dokumenter berdurasi 45 menit tersebut merekam lanskap perjuangan kaum difabel dalam mendobrak stigma dan menembus batas keterbatasan. Skuad sineas tunanetra Semarang menggarap sendiri tahapan pra-produksi, pengambilan gambar (shooting), hingga penyelarasan gambar (editing) dengan mendapatkan pendampingan teknis minimalis. Alur cerita yang kuat sukses membuat penonton difabel dan masyarakat umum larut dalam keharuan.
Dicky menegaskan bahwa ruang kreativitas terbuka lebar bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik. Merujuk pada tajuk film, ia mengingatkan bahwa seluruh manusia beraktivitas di bawah naungan langit yang sama. Lewat momentum ini, ia menyuntikkan kobaran semangat agar anak-anak difabel Tasikmalaya menatap masa depan dengan kacamata optimisme demi menggenggam kesuksesan.
Di sisi lain, Ketua Panitia Nobar, Harniwan Obech, membongkar misi utama di balik penyelenggaraan forum sinema ini. Menurutnya, agenda ini bertindak sebagai panggung pembuktian komparatif kepada publik mengenai taji karya kaum disabilitas.
“Kami sengaja memutar film ini untuk mengampanyekan gerakan pemenuhan ruang berkarya bagi kaum disabilitas. Teman-teman difabel tidak membutuhkan iba atau belas kasihan masyarakat, melainkan kesetaraan kesempatan. Sineas Sahabat Mata Semarang sudah membuktikan bahwa mereka mampu melahirkan produk sekualitas ini,” tegas Harniwan.
Pemkot Tasikmalaya Dukung Program Melek Al-Qur’an Braille
Harniwan menambahkan, panitia merangkaikan seremonial pemutaran film ini dengan laporan hasil program belajar membaca dan menulis Al-Qur’an Braille. Kegiatan pra-event tersebut sukses menjaring 30 peserta disabilitas dengan dukungan fasilitasi penuh dari Pemerintah Kota Tasikmalaya dan mentor ahli Komunitas Sahabat Mata.
Langkah konkret Pemkot Tasikmalaya ini memanen pujian dari Kepala SLBN Bungursari, Hj. Endang Rubiandini. Ia menilai kehadiran film “Langit Tetap Sama” bertindak sebagai pemantik mentalitas juara yang paling ampuh bagi anak-anak didiknya di sekolah.
“Kami merasakan kebanggaan yang luar biasa. Tayangan ini membuka mata anak-anak didik kami bahwa jika mereka memiliki kemauan yang keras, mereka pasti sanggup menaklukkan rintangan. Ini suntikan motivasi yang sangat riil,” jelas Hj. Endang Rubiandini.
Sesi pemutaran film berakhir dengan diskusi interaktif dua arah yang mempertemukan tim kreator, penonton, dan pegiat sosial. Diskusi hangat ini sukses memicu syahwat ratusan anak difabel lokal untuk mulai merambah dunia penulisan, pembuatan konten kreatif, hingga produksi karya digital secara mandiri.
(Seda)



