PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Status Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, sebagai wilayah rawan gempa bumi megathrust dan bencana tsunami belum berbanding lurus dengan ketersediaan fasilitas mitigasi di lapangan. Infrastruktur vital berupa Early Warning System (EWS) atau sirine peringatan dini tsunami di sepanjang kawasan wisata Pantai Pangandaran saat ini masih belum memadai.
Ketua Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Pangandaran, Dodo Taryana, membeberkan bahwa sebaran perangkat elektronik EWS belum menyentuh seluruh titik keramaian wisata. Ia mencontohkan kondisi di sepanjang Pantai Barat Pangandaran. Meskipun Balawista mengoperasikan lima pos pengawasan di jalur tersebut, manajemen baru memasang unit sirine peringatan dini di dua lokasi saja.
Baca Juga: Harga Pertamax Tembus Rp16.250, Warga Pangandaran Berbondong-Bondong Pindah ke Pertalite
“Tim kami mengelola lima pos pantau di Pantai Barat. Namun, perangkat EWS baru terpasang di kantor Balawista dan area Pos 4 saja. Peta kerawanan mencatat para wisatawan menyebar padat mulai dari Pos 1 hingga Pos 5,” ungkap Dodo saat memberikan konfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (14/6/2026).
Kesenjangan fasilitas ini memicu kekosongan akses informasi darurat bagi sebagian besar kawasan pesisir saat ancaman gelombang tsunami sewaktu-waktu mengintai. Atas dasar itu, Dodo mendesak otoritas terkait untuk segera melengkapi setiap pos pantau dengan perangkat sirine terintegrasi agar radius suaranya mampu menjangkau seluruh telinga warga dan wisatawan.
Di 5 Pos Baru 2 Terpasang
Dodo merinci bahwa sirine yang terpasang di Kantor Balawista hanya memiliki daya jangkau radius suara sekitar 300 meter. Alhasil, dengungan sirine dari kantor tersebut hanya membentur area perbatasan antara Pos 1 dan Pos 2 Pantai Barat.
“Padahal, area sekitar Pos 1 yang berdekatan dengan kawasan Cagar Alam merupakan pusat akomodasi hotel-hotel besar yang padat tamu. Otoritas kebencanaan harus memasang satu unit EWS di sana. Untuk Pos 2, pasokan suaranya masih bisa mengandalkan pancaran EWS dari Kantor Balawista,” jelas Dodo.
Ia juga menunjuk kawasan Pos 3 sebagai titik mati (blind spot) yang wajib mendapatkan prioritas pemasangan unit baru. Posisi ini bertindak sebagai jantung aktivitas hiburan dan episentrum kerumunan massa terbesar di Pantai Pangandaran. Pemasangan alat di lokasi strategis tersebut otomatis bakal melipatgandakan kewaspadaan wisatawan saat situasi darurat pecah.
Pedagang Ngaku Tak Dengar Sirine, BNPB Janji Terjunkan Tim Survei Pemetaan
Kelemahan teknis ini terkonfirmasi langsung oleh kesaksian para pelaku usaha di lapangan. Seorang pedagang keliling di kawasan wisata, Saliman (46), mengaku tidak pernah mendengar pancaran suara sirine uji coba dari posisinya mengais rezeki di sekitar Pos 3. Jarak yang terlampau jauh dari titik pemancar membuat suara peringatan bahaya tersebut kerap lenyap sebelum sampai ke telinganya.
Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, sempat turun ke lokasi guna mengecek langsung kualitas fungsional instalasi EWS Pangandaran. Meski hasil uji mekanis membuktikan alat eksisting tersebut menyala dengan baik, jenderal bintang tiga ini mengakui adanya kekosongan proteksi suara di titik-titik sentral pariwisata.
“Kami mengapresiasi alat eksisting yang masih berfungsi normal saat pengujian. Namun, merujuk laporan para petugas di lapangan, pusat-pusat keramaian wisata Pangandaran yang membeludak saat masa libur panjang memang masih kekurangan unit sirine peringatan dini,” ungkap Letjen TNI Suharyanto.
Merespons ancaman senyap bencana laut tersebut, Kepala BNPB memastikan bakal segera menerjunkan tim survei khusus ke Pangandaran dalam waktu dekat. Tim teknis ini mengemban misi taktis untuk memetakan titik-titik blind spot. Kemudian menghitung kebutuhan unit tambahan, sekaligus mengeksekusi pengadaan EWS baru demi memproteksi keselamatan jutaan nyawa pelancong domestik dan mancanegara.
(Sajidin)



