PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, langsung memicu efek domino di lapangan. Lonjakan harga tersebut memicu antrean kendaraan konsumen di SPBU Padaherang mengular panjang hingga mendekati bahu jalan nasional di wilayah tersebut.
Pantauan langsung di lokasi pada Minggu sore (14/6/2026) pukul 17:26 WIB menunjukkan pemandangan yang kontras. Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat berdesakan memadati jalur pengisian pertalite. Sebaliknya, area dispenser Pertamax justru tampak lengang tanpa aktivitas kendaraan yang berarti.
Baca Juga: Wisatawan Minta Jaswita Jabar Benahi Pondok Seni Pangandaran yang Dinilai Terbengkalai
Gelombang kepindahan konsumen ini terjadi setelah pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) secara signifikan, dari yang semula seharga Rp12.300 per liter melonjak tajam menyentuh angka Rp16.250 per liter. Selisih harga yang kian lebar ini memaksa warga Padaherang berbondong-bondong menurunkan kelas konsumsi BBM mereka ke jenis Pertalite yang bersubsidi demi menghemat isi dompet.
Seorang warga Kecamatan Padaherang, Yoni (42), secara terbuka menyatakan keberatannya atas lonjakan harga BBM nonsubsidi tersebut. Ia memastikan diri bakal memarkirkan kendaraannya di jalur Pertalite untuk menyiasati biaya operasional harian.
“Kenaikan harga Pertamax kali ini betul-betul memberatkan kami. Saya memutuskan beralih menggunakan Pertalite mulai hari ini. Selisih harganya sangat jomplang dan jelas memukul alokasi biaya pengeluaran bulanan untuk operasional kendaraan,” keluh Yoni di tengah antrean SPBU.
Khawatir Stok Pertalite Langka, Pemilik Motor Baru Pilih Turun Kelas
Keluhan senada juga mengalir dari Kusnadi (49), konsumen SPBU Padaherang lainnya. Pria paruh baya ini mengaku heran dengan tren kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terus bergulir dalam beberapa waktu belakangan ini tanpa adanya tanda-tanda penurunan.
“Mengapa harganya naik terus tanpa henti? Sepeda motor Vario baru milik saya biasanya selalu menenggak Pertamax untuk menjaga performa mesin. Namun, kalau banderol harganya semahal ini, saya terpaksa ikut mengantre Pertalite bersama warga lain,” tutur Kusnadi.
Selain mengeluhkan harga, Kusnadi juga mencemaskan efek samping dari aksi migrasi massal para pemilik kendaraan ini. Ia khawatir ledakan volume antrean yang terjadi saban hari pada jalur Pertalite bakal menguras habis kuota pasokan BBM bersubsidi di wilayah Pangandaran hingga memicu kelangkaan.
“Kami hanya bisa berharap pihak Pertamina menjaga stok Pertalite di tingkat pangkalan agar tetap aman. Jangan sampai pasokan bersubsidi ini ikut-ikutan habis akibat semua orang pindah jalur,” pungkasnya.
Situasi di SPBU Padaherang ini menjadi alarm keras bagi pemangku kebijakan. Jika gelombang migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite terus meluas di jalur selatan Jawa Barat, potensi jebolnya kuota subsidi BBM nasional pada sisa tahun anggaran 2026 ini berada di depan mata.
(Sajidin)



