TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Identitas luhur Kota Tasikmalaya sebagai “Kota Santri” dan “Kota Seribu Pesantren” saat ini menghadapi ujian moral yang cukup berat. Merespons kegelisahan publik tersebut, Forum Silaturahmi Santri Selasar Masjid Agung (FOSSMA) bersama Forum Pondok Pesantren (FPP) Kota Tasikmalaya menggelar pertemuan strategis di Kantor FPP Kota Tasikmalaya, Sabtu (6/6/2026).
Agenda ini bukan sekadar ajang ramah tamah biasa, melainkan sebuah momentum krusial bagi para tokoh agama untuk merumuskan aksi nyata. Mereka bergerak bersama demi membentengi akidah generasi muda sekaligus mendongkrak kesejahteraan umat di Kota Tasikmalaya.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung dinamis tersebut, kedua lembaga membedah berbagai fenomena sosial yang mengkhawatirkan di lingkungan perkotaan. Di balik reputasi besarnya sebagai episentrum pesantren, Kota Tasikmalaya nyatanya masih menempati peringkat yang cukup tinggi di Jawa Barat dalam kasus peredaran minuman keras, penyalahgunaan narkoba, jeratan pinjaman online (pinjol), praktik bank emok, hingga penurunan moral remaja.
FOSSMA dan FPP juga menyoroti pekerjaan rumah yang mendesak, seperti tingginya angka buta huruf Al-Qur’an serta minimnya pemahaman keagamaan dasar di kalangan masyarakat urban. Faktor-faktor tersebut semakin kompleks lantaran kondisi sektor ekonomi umat belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
“Jika marwah Kota Santri tidak segera kita kembalikan bersama, jangan pernah berharap kondisi umat di kota ini akan membaik,” tegas para tokoh agama yang hadir dalam forum tersebut.
Gagas MoU Dakwah Digital, FOSSMA Tasikmalaya Luncurkan Jurus MKKS
Ketua FPP Kota Tasikmalaya, KH. Nono Nurul Hidayah, menyambut hangat kehadiran jajaran pengurus Forum Silaturahmi Santri Selasar Masjid Agung. Beliau menegaskan bahwa FPP dan FOSSMA mengakar pada rahim perjuangan yang sama, yaitu kecintaan mendalam terhadap guru, ulama, santri, dan ilmu agama.
Guna memastikan pergerakan ini tidak mandek sebagai wacana di atas meja, FPP mengusulkan agar kedua belah pihak segera menuangkan gagasan kolaborasi tersebut ke dalam Nota Kesepahaman (MoU) resmi.
Merespons ajakan tersebut, Ketua FOSSMA Kota Tasikmalaya, H. Dadang AP, langsung memaparkan sejumlah program taktis yang siap mereka eksekusi di lapangan. FOSSMA menawarkan terobosan mulai dari digitalisasi kajian kitab kuning hingga gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an untuk kalangan remaja.
H. Dadang mengingatkan seluruh pengurus agar selalu memegang teguh prinsip MKKS dalam menjalankan roda organisasi.
“Kita harus Musyawarahkan, Koordinasikan, Kolaborasikan, dan Sinergikan semua potensi ini menjadi aksi nyata di lapangan,” kara H. Dadang AP.
Inisiasi awal dari FOSSMA dan FPP ini membidik target sebagai pemantik gerakan sosial yang lebih masif. Para tokoh meyakini manajemen pesantren yang tertib dan profesional, berpadu dengan hidupnya syiar di masjid-masjid maupun majelis taklim, bakal menjadi benteng pertahanan terbaik bagi generasi muda Tasikmalaya.
Sinergi kokoh antara ulama, pemerintah (umara), dan organisasi keagamaan menjadi kunci utama. Hal itu demi mengembalikan kejayaan “Kota Santri” sekaligus mewujudkan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.
(Abdul Latif)



