CIAMIS,FOKUSJabar.id: Di tengah gempuran produk modern dan pergeseran gaya hidup serba digital, sekelompok ibu rumah tangga di Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, teguh memelihara warisan karuhun (leluhur). Mereka melestarikan keterampilan memproduksi kerajinan anyaman pandan.
Ketekunan dan kreativitas para perempuan ini membuahkan hasil manis karena produk anyaman tradisional tersebut kini sukses memikat hati konsumen luar negeri.
Baca Juga: Polres Ciamis Soroti Koperasi Merah Putih dan Sanitasi Dapur MBG
Para perajin lokal tersebut saat ini tengah memamerkan produk unggulan mereka pada ajang Jalinan Sinergi Ekonomi Syariah Priangan Timur (Jazirah) 2026 yang berkolaborasi dengan Ciamis Creative Expo (CCE) 2026. Bank Indonesia Perwakilan Tasikmalaya menggelar pameran strategis ini di kawasan Situs Karangkamulyan, Ciamis, dari tanggal 4 hingga 7 Juni 2026.
Stan pameran perajin Rajadesa tersebut mengusung jenama unik, yakni NKT (Neruskan Tapak Kolot). Nama ini menyimbolkan tekad bulat mereka untuk melanjutkan jejak warisan para leluhur. Mereka memegang teguh filosofi mendalam, yaitu “dipelak, dirawat, diolah keur hirup jeung huripna Ciamis” (ditanam, dipelihara, dan diolah untuk kehidupan serta keberlangsungan masyarakat Ciamis).
Melalui stan NKT, para perajin menyuguhkan aneka produk fesyen dan dekorasi rumah tangga bernilai estetika tinggi kepada pengunjung. Ajang ini sekaligus menjadi batu loncatan penting untuk memperluas jangkauan pasar ekonomi kreatif berbasis kebudayaan lokal Sunda.
Fleksibilitas Pandan Gunung dan Sentuhan Gaya Baru Pemikat Milenial
Aktivitas menganyam pandan sudah melekat erat menjadi bagian dari urat nadi harian kaum perempuan Rajadesa. Mulai dari ibu rumah tangga, mama muda, hingga kalangan lansia, bergotong-royong mengolah tanaman pandan gunung yang melimpah di wilayah mereka.
Salah seorang penanggung jawab kerajinan pandan di Desa Sukajaya, Nana Suryana, memuji peran sentral kaum ibu dalam mengawal eksistensi tradisi ini di tengah perubahan zaman.
“Mayoritas yang mengerjakan adalah ibu-ibu rumah tangga, mama muda, bahkan nenek-nenek. Untuk sementara kegiatan kami masih difokuskan di satu dusun karena keterbatasan yang ada,” jelas Nana, Jumat (5/6/2026).
Nana mengungkapkan keunggulan produk mereka terletak pada pemilihan bahan baku jenis pandan gunung. Tumbuhan ini memiliki karakteristik serat yang jauh lebih lentur daripada pandan laut, sehingga memudahkan jemari para perajin untuk membentuk berbagai model suvenir rumit.
Aset tradisi ini bisa tetap eksis karena para perajin berani melakukan perombakan pada sisi desain visual produk. Mereka mengawinkan teknik anyam kuno dengan selera modern untuk melahirkan tas jinjing trendi, sandal, topi pantai, kap lampu minimalis, hiasan dinding, hingga karpet premium.
“Kami mencoba mengelola dengan gaya baru karena anak-anak muda sekarang sudah kurang tertarik dengan model lama. Kalau tidak ada perubahan, kerajinan ini akan sulit berkembang,” ungkap Nana.
Gunakan Ekosistem Digital, Kerajinan Rajadesa Terbang ke Turki
Transformasi ke model kekinian terbukti ampuh mendongkrak omzet penjualan. Selain merajai pasar lokal, anyaman pandan Rajadesa sukses menerobos sekat internasional berkat pemanfaatan platform digital dagang elektronik (e-commerce).
“Kalau melalui marketplace sudah ada yang sampai ke Turki. Untuk ekspor biasanya melalui perusahaan atau pihak ketiga karena kelompok masyarakat tidak bisa langsung melakukan ekspor sendiri,” jelas Nana.
Senada dengan Nana, Ketua Kelompok Kerajinan Pandan, Eti Datiah, menegaskan bahwa para perempuan perajin menganggap aktivitas menganyam ini bukan sekadar alat untuk mencari uang tambahan bagi dapur rumah tangga, melainkan sebagai sebuah kewajiban moral.
“Ini peninggalan karuhun dan sesepuh kita. Jangan sampai hilang atau musnah. Karena itu kami terus berupaya melestarikannya bersama rekan-rekan perajin,” tutur Eti.
Menurut Eti, jejak budidaya tanaman pandan ini sudah merentang panjang sejak era 1950-an. Sejak zaman kakek-nenek mereka, masyarakat sudah terbiasa memotong dan mengeringkan pandan untuk keperluan membuat tikar pelapis lantai rumah.
Meskipun saat ini mereka terganjal isu regenerasi akibat minimnya minat generasi muda, para perajin senior di Sukajaya menolak menyerah. Lewat momentum pameran Ciamis Creative Expo 2026 ini, mereka berharap bisa memantik rasa bangga kaum milenial untuk ikut melestarikan seni anyam pandan lokal agar tidak punah tergerus arus modernisasi.
(Mia)



