spot_imgspot_img
Kamis 23 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Banting Seribu Wujud Guyub Ngawangun Galuh, ASN Sukadana Ciamis Bantu Keluarga Berisiko Stunting

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Penanganan stunting tidak selalu membutuhkan anggaran besar dari pemerintah. Kecamatan Sukadana membuktikan hal tersebut lewat gerakan gotong royong bertajuk “Banting Seribu” (Bantuan untuk Stunting Seribu) dengan mengusung semangat Guyub Ngawangun Galuh.

Lewat program ini, para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kecamatan Sukadana menyisihkan uang senilai Rp1.000 setiap hari untuk membantu keluarga berisiko stunting.

Baca Juga: Gemarikan Hadir di Desa Bunter, Pemkab Ciamis Perkuat Pencegahan Stunting Lewat Konsumsi Ikan

Camat Sukadana, Yanti Herayani, menggagas gerakan sosial ini setelah melihat kondisi riil di lapangan. Ia menemukan masih banyak warga yang tinggal tanpa fasilitas sanitasi dan air bersih yang layak.

“Di Kecamatan Sukadana kami memiliki program Banting Seribu, yaitu Bantuan untuk Stunting Seribu. Seluruh ASN menyisihkan Rp1.000 setiap hari, kemudian kami kumpulkan untuk membantu keluarga yang membutuhkan,” ujar Yanti.

Pemeriksaan di lapangan mengonfirmasi bahwa keterbatasan jamban sehat dan air minum menjadi salah satu pemicu utama munculnya kasus stunting pada anak. Oleh karena itu, perbaikan sanitasi menjadi target utama bantuan ini.

Dalam kurun waktu sepuluh bulan, pengumpulan dana Banting Seribu berhasil membiayai pembuatan septic tank bagi warga yang membutuhkan di Desa Ciparigi.

“Besar kecilnya bantuan bukan menjadi ukuran. Ketika semua mau menyisihkan sedikit rezekinya dan dilakukan bersama-sama, manfaatnya akan sangat besar bagi masyarakat,” katanya.

Semangat Gotong Royong Melalui Guyub Ngawangun Galuh

Yanti mengajak pemerintah desa, UPTD, dan lembaga lain untuk mengadopsi pola kebersamaan ini agar gerakan sosial serupa terus bermunculan di wilayah lain.

Ia menekankan bahwa penanganan gizi seperti Program Gemarikan harus berjalan seiring dengan perbaikan fasilitas lingkungan dan kepedulian sosial.

“Kalau kita hanya bergantung pada anggaran pemerintah, tentu membutuhkan waktu. Tetapi dengan semangat gotong royong atau Guyub Ngawangun Galuh, persoalan stunting bisa ditangani lebih cepat karena menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Melalui Banting Seribu, Yanti berharap budaya saling peduli dapat terus mengakar kuat demi meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

“Stunting adalah persoalan bersama. Ketika semua pihak bergerak dan saling membantu. Sekecil apa pun kontribusinya akan menjadi kekuatan besar untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas,” pungkasnya.

(Mia)

spot_img

Berita Terbaru