spot_imgspot_img
Sabtu 23 Mei 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Monumen Siliwangi di Tasikmalaya Memprihatinkan, Forum Bela Negara Dorong Revitalisasi Menyeluruh

TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Ketua DPD Forum Bela Negara Kabupaten Tasikmalaya, Demi Hamzah Rahadian dorong revitalisasi menyeluruh terhadap Monumen Pasukan Siliwangi.

Menurutnya, monumen tersebut bukan sekadar bangunan penghias kota, melainkan penanda lahirnya salah satu divisi paling legendaris dalam sejarah militer Indonesia.

BACA JUGA:

Pemerintah Pusat Prioritaskan Revitalisasi Sekolah Rusak di Kabupaten Tasikmalaya

Tasikmalaya sendiri tercatat sebagai markas pertama Divisi Siliwangi setelah terbentuk pada 20 Mei 1946.

“Tasikmalaya memiliki hubungan emosional dan historis yang sangat kuat dengan Divisi Siliwangi. Di tanah ini, sejarah besar TNI di bangun,” kata Demi, Sabtu (23/5/2026).

Dia menjelaskan, tiga hari setelah pembentukan Divisi Siliwangi, Kolonel Abdul Haris Nasution terpilih secara aklamasi sebagai panglima pertama.

Nama “Siliwangi” di ambil dari sosok Prabu Siliwangi, raja besar Sunda Galuh yang di kenal bijaksana dan pemberani.

Pemilihan nama tersebut bukan sekadar simbol romantisme sejarah Sunda. Tetapi bagian dari upaya membangun identitas dan semangat juang pasukan Jawa Barat pada masa revolusi kemerdekaan.

Monumen Pasukan Siliwangi saat ini berdiri di seberang bekas Hotel Pemandangan, lokasi awal markas Divisi Siliwangi yang kini berubah fungsi menjadi kantor perbankan.

Keberadaan monumen itu menjadi penanda penting lahirnya kekuatan militer Kodam III/Siliwangi.

Kondisi monumen tersebut kini memerlukan perhatian serius. Meski struktur utama masih berdiri kokoh, sejumlah elemen simbolik mengalami kerusakan.

Panji Siliwangi di laporkan dalam kondisi patah dan tergeletak di sudut pagar monumen. Sementara prasasti peresmian yang di tandatangani langsung oleh Jenderal Besar Abdul Haris Nasution mulai memudar hingga sulit terbaca.

BACA JUGA:

Kepala OJK Tasikmalaya Beberkan Alasan Ekonomi Priangan Timur Tetap Kebal dari Krisis Geopolitik

“Kondisi ini tidak boleh di biarkan. Kerusakan pada simbol dan prasasti sejarah berarti kita perlahan kehilangan memori kolektif bangsa,” katanya.

Ia menilai, proses perbaikan tidak bisa di lakukan secara sembarangan. Pemerintah daerah dan pihak terkait perlu melibatkan tenaga ahli konservasi cagar budaya agar nilai autentik monumen tetap terjaga.

Selain Monumen Pasukan Siliwangi, DPD Forum Bela Negara juga menyoroti keberadaan Tugu PETA yang berada di depan Matahari Department Store Kota Tasikmalaya.

Monumen tersebut di nilai memiliki keterkaitan sejarah yang kuat sebagai bagian dari embrio perjuangan lahirnya TNI.

Menurut Demi, Tugu PETA dan Monumen Siliwangi seharusnya di pandang sebagai satu kesatuan lanskap memorial perjuangan rakyat Priangan Timur.

“Keduanya merupakan simpul sejarah perjuangan bangsa. Jangan sampai keberadaannya terlupakan hanya karena minim perhatian,” ujarnya.

DPD Forum Bela Negara mengusulkan reposisi Monumen Siliwangi ke kawasan tengah Alun-alun Kota Tasikmalaya. Usulan itu di nilai strategis untuk meningkatkan visibilitas, fungsi edukasi hingga efektivitas perawatan.

Dengan di tempatkan di pusat ruang publik, monumen di harapkan tidak lagi menjadi objek pasif di pinggir jalan, tetapi menjadi pusat aktivitas sejarah dan kebudayaan masyarakat.

“Monumen harus hidup bersama masyarakat. Bisa menjadi pusat edukasi pelajar, kegiatan budaya hingga upacara seremonial kebangsaan,” kata Demi.

Dia berharap, momentum 80 tahun Kodam III/Siliwangi menjadi titik awal kebangkitan kesadaran sejarah masyarakat Tasikmalaya terhadap warisan perjuangan bangsa.

“Sudah saatnya Maung Siliwangi tidak lagi berdiri di tepian ingatan, tetapi berada di pusat hati masyarakat Tasikmalaya,” tutup Demi.

(Farhan K)

spot_img

Berita Terbaru