CIAMIS,FOKUSJabar.id: Personel piket pos Pemadam Kebakaran (Damkar) WMK Kawali sukses menangkap dan mengamankan seekor ular picung (Rhabdophis subminiatus) sepanjang satu meter. Ular berbisa tersebut kedapatan bersembunyi di kolong meja makan milik Tati Raftiah (47), seorang warga di Desa/Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Proses evakuasi reptil ini berjalan cukup alot karena ular bergerak sangat lincah saat petugas akan menangkapnya. Kondisi ruang persembunyian yang sempit di bawah meja makan juga sempat menyulitkan ruang gerak tim di lapangan.
Baca Juga: Pemkab Ciamis Sulap Posyandu Jadi Pusat Pelayanan Warga Terintegrasi
Namun, berkat keahlian dan jam terbang tinggi, para personel Damkar WMK Kawali akhirnya berhasil menjinakkan ular tersebut dalam kondisi utuh tanpa luka sedikit pun.
Kasatpol PP Kabupaten Ciamis, Rd. Ega Anggara Alqausar, melalui Kasi Pengendalian dan Penanganan Kebakaran, Trisyanto, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima laporan darurat tersebut pada siang hari sekitar pukul 12.00 WIB.
“Begitu menerima permintaan tolong dari warga Panawangan, personel langsung meluncur ke lokasi kejadian,” kata Trisyanto, Selasa (19/5/2026).
Kerahkan Tim Khusus Berlisensi
Untuk menjamin keamanan proses eksekusi, Damkar pos WMK Kawali mengerahkan satu unit armada mobil Damkar. Bersama tiga personel yang mengantongi sertifikasi khusus penanganan reptil.
Kronologi Penemuan dan Evakuasi Ular:
Tati Raftiah menemukan ular saat sedang bersih-bersih di area ruang makan. Kondisi ular picung berada dalam posisi waspada dan menunjukkan perilaku sangat agresif.
Pukul 12.00 WIB, pemilik rumah yang ketakutan langsung menghubungi Pos Damkar WMK Kawali. Kemudian tiga personel menggunakan tongkat penjepit khusus (grabber) untuk memojokkan ular di area sempit kolong meja sebelum memasukkannya ke dalam kantong pengaman.
Trisyanto menambahkan bahwa petugas langsung membawa ular hasil tangkapan tersebut ke markas untuk persiapan rilis lingkungan.
“Kami akan melepaskan kembali ular picung ini ke habitat aslinya di alam liar. Kawasannya berada jauh dari pemukiman penduduk agar tidak lagi meneror warga,” pungkas Trisyanto.
(Husen Maharaja)


