BANDUNG,FOKUSjabar.id: Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Dante Saksono Harbuwono, memastikan bahwa hantavirus belum menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Meskipun virus ini sempat memicu kekhawatiran di berbagai negara, seluruh temuan kasus di tanah air hingga saat ini masih tergolong ringan dan tidak menunjukkan potensi penyebaran yang luas.
Dante menjelaskan bahwa hantavirus terbagi menjadi dua jenis utama, yakni Hantavirus Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Keduanya memiliki dampak kesehatan dan tingkat risiko kematian yang sangat berbeda.
Baca Juga: Wamenkes Ungkap 2,3 Juta Anak Indonesia Belum Tersentuh Imunisasi
“Ada dua macam hantavirus. HFRS memicu panas tinggi, kulit menguning, dan gangguan ginjal, sementara HPS menyerang fungsi paru-paru,” jelas Dante, Selasa (12/5/2026).
Analisis Risiko dan Temuan Kasus
Data Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 23 kasus hantavirus di Indonesia sejak tahun 2023. Namun, Dante menegaskan bahwa seluruh pasien tersebut mengidap jenis HFRS dengan gejala klinis yang relatif ringan. Hal ini jauh berbeda dengan jenis HPS yang memiliki tingkat kematian mencapai 60 hingga 80 persen.
Dante memastikan bahwa hantavirus tidak memiliki pola penularan yang mudah seperti Covid-19. Virus ini sangat bergantung pada keberadaan tikus sebagai inang atau reservoir utamanya. Risiko infeksi biasanya meningkat pada lingkungan yang kurang bersih, terutama kawasan terdampak banjir yang terpapar air kencing tikus.
“Tikus menjadi perantara utama. Rumah yang kotor dan terpapar urine tikus, terutama setelah banjir, dapat memicu penularan virus ini kepada manusia,” tambahnya.
Perbedaan dengan Leptospirosis
Wamenkes juga memaparkan kemiripan pola penyebaran hantavirus dengan penyakit leptospirosis yang sering muncul saat musim penghujan. Meski gejalanya serupa, kedua penyakit ini berasal dari sumber infeksi yang berbeda. Leptospirosis muncul akibat infeksi bakteri, sedangkan hantavirus murni disebabkan oleh virus.
Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan adanya penularan hantavirus antarmanusia. Walaupun jenis HPS berisiko menular melalui batuk karena menyerang paru-paru, kasus tersebut belum terdeteksi di Indonesia. Kemenkes pun meyakini hantavirus tidak berpotensi menjadi pandemi besar di masa depan.
(Yusuf Mugni)


