spot_imgspot_img
Rabu 6 Mei 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

DLH Bandung Catat Lonjakan Sampah, SPPG Sumbang Puluhan Ton per Hari

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mencatat lonjakan tajam pada volume sampah harian di wilayahnya. Peningkatan timbulan sampah ini bersumber dari aktivitas ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta penyelenggaraan berbagai acara (event) mingguan di Kota Bandung.

Kepala DLH Kota Bandung, Darto, mengungkapkan bahwa operasional dapur SPPG saat ini menyumbang tambahan sampah organik dalam jumlah yang sangat besar setiap harinya.

Baca Juga: Tangani 600 Panggilan Sebulan, Kasus Kecelakaan Dominasi Layanan Darurat PSC Bandung

“Kami mencatat adanya tambahan volume sampah yang cukup signifikan. Aktivitas SPPG saja menyumbang sekitar 50 hingga 60 ton sampah organik per hari,” ujar Darto di Kota Bandung, Rabu (6/5/2026).

Darto merinci, saat ini Kota Bandung mengoperasikan sekitar 200 unit SPPG. Setiap unit rata-rata memproduksi sampah organik sebanyak 20 hingga 30 kilogram per hari. Jika mengakumulasikan seluruh unit tersebut, total sampah harian dari sektor ini langsung menyentuh angka puluhan ton.

Tambahan pasokan dari SPPG ini mendongkrak total timbulan sampah organik harian di Kota Bandung hingga mendekati angka 100 ton per hari.

Kelola Sampah Event Tanpa Mengeluh

Selain operasional pemenuhan gizi, maraknya agenda hiburan dan festival mingguan turut memicu penumpukan sampah. Acara-acara tersebut sukses menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Kota Bandung, namun sekaligus meninggalkan persoalan kebersihan.

Kendati demikian, Darto menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak perlu mengeluhkan kondisi tersebut, melainkan harus fokus menyelesaikan penanganannya secara taktis di lapangan.

Sebagai langkah solutif, DLH Kota Bandung tengah merancang konsep kompospit untuk memaksa setiap pengelola SPPG mengolah sampah organiknya secara mandiri di lokasi masing-masing.

“Kami sudah merampungkan konsepnya dan segera mendorong penerapannya. Jika pengolahan mandiri ini belum berjalan efektif, kami akan mengangkut sampah tersebut dengan menerapkan aturan khusus. Regulasi dan rumusnya sudah siap, kami tinggal mengeksekusinya di lapangan,” jelas Darto.

Strategi Pemilahan dan Teknologi RDF

Ke depan, DLH Bandung akan memperketat sistem pemilahan sampah di tengah masyarakat ke dalam tiga kategori utama, yakni:

  • Sampah organik
  • Sampah bernilai jual tinggi (high value)
  • Sampah bernilai jual rendah (low value)

Darto menjelaskan, para pemulung dan sektor informal saat ini sudah mengelola sampah kategori high value dengan baik karena mendatangkan keuntungan ekonomi langsung. Sementara untuk sampah kategori low value yang sulit didaur ulang, DLH Bandung akan mengolahnya menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) menjadi bahan bakar alternatif.

“Kami sedang membangun fasilitas pengolahan RDF ini untuk menyelesaikan persoalan sampah bernilai rendah,” pungkas Darto.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru