TASIKMLAYA,FOKUSJabar.id: Pesisir Tasikmalaya Selatan (Tasela) menyimpan cerita getir di balik deburan ombaknya dan potensi ikan yang melimpah.
Sebanyak 50 nelayan asal Cimanuk, Kecamatan Cikalong, kini harus menjalani hidup yang penuh perjuangan ekstra.
Bukan karena iklim yang tak menentu, melainkan karena dermaga kebanggaan mereka telah “mati suri” selama satu dekade terakhir.
Baca Juga: Menang Aklamasi, Cecep Nurul Yakin Kembali Nakhodai PPP Kabupaten Tasikmalaya
Dermaga Cimanuk yang di bangun dengan anggaran miliaran rupiah kini tak ubahnya monumen tak bernyawa. Sejak tahun 2015, masalah sedimentasi atau pendangkalan parah membuat perahu nelayan mustahil untuk bersandar.
Dampaknya, para nelayan terpaksa mencari suaka ke wilayah tetangga. Mereka kini berlabuh di titik-titik pesisir Kabupaten Pangandaran seperti di Muaragatah, Batukaras, Nusawiru dan Bojongsalawe.
Tidak berfungsinya dermaga ini bak efek domino yang meruntuhkan sendi ekonomi warga Cikalong Kabupaten Tasikmalaya. Masalahnya bukan sekadar tempat parkir perahu, melainkan hilangnya pusat denyut nadi kehidupan.
Akibatnya biaya operasional untuk melaut membengkak. Nelayan seperti Eman Suherman mengeluhkan tingginya biaya transportasi dan bahan bakar karena jarak tempuh yang jauh.
“Biaya yang harus di keluarkan jadi membengkak karena lokasi perahu untuk melaut berada di wilayah Kabupaten Pangandaran,” kata Eman Suherman Minggu (19/4/2026).
Abdul Kodir, nelayan lainnya, bahkan terpaksa menetap di Pangandaran demi efisiensi waktu, meninggalkan keluarga demi bisa terus melaut.
“Ya mau bagaimana lagi saya harus jauh dengan keluarga, ini demi dapur di rumah tetap ngebul. Kalau pulang pergi biayanya boros,” kata Abdul Kodir.
Yang mengenaskan saat ini lumpuhnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cimanuk. Bangunan yang dulu rame untuk transaksi ikan kini jadi monumen mati yang tinggal puing puingnya saja.
Bukan hanya itu Warung-warung di sekitar dermaga yang dulunya ramai kini sepi di tinggal pelanggan hingga banyak yang bangkrut.
”Dulu saat dermaga masih berfungsi, ekonomi kami hidup. Sekarang, kami harus menjual hasil laut langsung di Pangandaran. Di sini, semuanya mati,” ujar Jajang Rahmat, Ketua Rukun Nelayan (RN) Cimanuk.
Solusi Teknis, Perpanjang Breakwater
Menurut Jajang, masalah utama pendangkalan ini sebenarnya bisa di atasi jika ada kemauan politik dari pemerintah. Secara teknis, pemecah ombak (breakwater) yang ada saat ini di anggap kurang panjang menjorok ke laut, sehingga pasir terus menumpuk di area dermaga.
Meskipun usulan perbaikan sudah berkali-kali di layangkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga tahun 2026 ini (genap 10 tahun), belum ada tindakan nyata yang di rasakan masyarakat.
Kini, harapan para nelayan tertuju pada sosok tokoh masyarakat dan pemimpin yang peduli pada rakyat kecil. Nama Dedi Mulyadi (KDM) pun mencuat dalam doa-doa mereka.
Para nelayan berharap adanya intervensi pembangunan kembali dermaga Cimanuk dengan standar teknis yang benar.
Mereka merindukan masa-masa di mana perahu mereka bisa pulang ke rumah sendiri, dan ekonomi warga Cikalong kembali berdenyut kencang.
Akankah suara dari pesisir Tasela ini akhirnya di dengar?. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah penantian di tengah ketidakpastian ekonomi.
(Abdul Latif)



