BANDUNG, FOKUSJabar.id: Selama perjalanan pulang dari Bandara Soekarno-Hatta, korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) asal Kecamatan Leuwigoong Kabupaten Garut Jawa Barat (Jabar), Septi Surya Rukmana mengisahkan cerita pilu selama bekerja di Kamboja.
Tim penjemput (Ahmad Bajuri, Kurnia dan Opik Pendi) mendengarkan kisah tersebut sambil merekamnya.
BACA JUGA:
Korban TPPO Kamboja asal Leuwigoong Garut Bisa Pulang Berkat Partai Demokrat
Menurut Septi, awalnya Dia di tawari bekerja oleh seseorang yang mengaku tim marketing melalui Media Sosial (Medsos).
“Dia mengaku orang Garut yang sudah lama tinggal di Kamboja sebagai tim promotor,” kisah Septi.
Orang tersebut mengiming-imingi gaji sekitar Rp12 juta per bulan, mes dan makan di siapkan serta ada insentif. Terlebih biaya pemberangktan dan tiket di tanggung pihak perusahaan.
“Siapa pun pasti akan tergiur dengan gaji besar dengan fasilitas lain yang di siapkan,” ungkap Septi.
Waktu itu, Septi Surya Permana tiba di Bandara dan di jemput kendaraan. Dirinya mengaku tidak mengetahui persis daerah tempat Dia bekerja.
“Setahu Saya, daerah tempat bekerja hampir berbatasan dengan Vietnam,” imbuhnya.
Septi mengatakan, Dia dan ribuan korban TPPO di janjikan bekerja sebagai marketing produk. Kenyataannya, ada yang di pekejakan sebagai pegawai Pinjol, penipuan dengan sistem marketing melalui medsos.
Modusnya, nawarin barang, program cash back besar, promosi barang dan lain-lain.
“Target per hari minimal 1-3 konsumen. Jika tidak tercapai minimal 1 orang, Kami dapat denda atau hukuman fisik. Yakni, 100 kali push up dan di cambuk,” kisah Septi.
BACA JUGA:
Bupati Garut Tinjau Infrastruktur Daerah Selatan
Dia menyebut, gaji Rp12 juta yang di janjikan semuanya modus. Para pekerja hanya menerima Rp1,5-2 juta per bulan.
“Kalau para pekerja banyak menerima denda, kita jadi punya utang ke perusahaan,” katanya.
Septi mengaku sudah meminta bantuan Pemda Garut. Namun tidak ada tindak lanjut dan memberikan solusi agar bisa pulang ke tanah air.
Di dalam keputusasaan, Septi membuka HandPhone miliknya. Dia melihat ada nama Ahmad Bajuri.
Dia mengenal Ahamad Bajuri waktu bejerja di Kota Bandung. Waktu itu, sempat menawarkan produk.
Tak berpikir panjang, semua biodata dia kirim melalui WhatsApp (WA).
“Alhamdulillah pertolongan Allah SWT datang melalui Pak Bajuri. Beliau merespons dengan menyambungkan ke Pak Anton Sukartono Suratto yang menjanjikan bisa pulang ke Indonesia Jumat (6/3/2026),” cerita Septi.
“Awalnya Saya tak begitu yakin bisa pulang ke tanah air. Namun setelah menerima bukti tiket baru merasa lega, terharu dan gembira. Ini sebuah mimpi yang menjadi kenyataan,” katanya.
“Yang lebih mengharukan lagi, Saya di jemput ke Bandara Soekarno-Hatta oleh Pak Anton, Pak Bajuri dan tim,” Dia menambahkan.
“Pak Anton orang baik. Terima kasih telah menolong saya,” kata Septi.
Septi Surya Rukmana mengucapkan terima kasih kepada jajaran pengurus DPD Partai Demokrat Jabar dan Ketua DPC Garut, Aman Nurjaman yang telah membantunya.
(Bambang Fouristian)


