spot_imgspot_img
Minggu 19 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Luka Fisik Mulai Sembuh, Ayah Korban Pembacokan di Pangandaran Cemaskan Trauma Psikis Anak

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Insiden berdarah menimpa seorang siswa sekolah dasar di Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Pria paruh baya berinisial AS nekat membacok korban berinisial MH (siswa kelas VI) hingga mengalami luka serius di bagian kepala, Kamis (16/4/2026) lalu.

Aksi kekerasan ini bermula saat pelaku merasa sakit hati akibat ejekan korban di sebuah area perkebunan dekat sekolah. Tersulut emosi, AS kemudian mengejar korban yang berusaha menyelamatkan diri. Situasi berubah mencekam ketika pelaku menembus benteng sekolah dan mengejar korban hingga ke dalam ruang kelas saat jam istirahat berlangsung.

Baca Juga: Pangandaran Berduka, Tokoh Masyarakat Dadang Okta Tutup Usia Akibat Penyakit Jantung

Petugas Polsek Padaherang yang menerima laporan warga segera bergerak cepat mengamankan lokasi kejadian dan meringkus pelaku beserta barang bukti berupa parang. Sementara itu, petugas kesehatan langsung mengevakuasi korban ke Puskesmas Padaherang untuk mendapatkan perawatan medis intensif.

Kekhawatiran Trauma Psikologis

Meski luka robek di kepala korban berangsur mengering, Hasan (43), orang tua korban, mengaku sangat terpukul. Ia mengkhawatirkan dampak trauma psikologis mendalam yang akan menghantui masa depan sang anak hingga dewasa.

“Fisik mungkin bisa sembuh dalam hitungan hari, namun luka psikologis akan menempel lama. Saya takut anak saya selalu tersentak ketakutan setiap melihat orang asing atau benda tajam, bahkan saat ia berada di rumah sekalipun,” ujar Hasan, Minggu (19/4/2026).

Hasan menyayangkan tindakan kriminal ini bisa terjadi di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi siswa. Ia berharap peristiwa ini menjadi kejadian terakhir dan mendesak pemerintah untuk memperketat pengawasan di seluruh sekolah.

Soroti Minimnya Fasilitas Keamanan

Dalam kesempatan tersebut, Hasan menyoroti minimnya sarana prasarana sekolah, terutama ketiadaan pagar yang memadai. Menurutnya, ketiadaan benteng pengaman memudahkan orang tidak dikenal masuk dan mengancam keselamatan siswa.

“Mohon perhatikan sarana sekolah. Tanpa pagar yang kuat, siapa pun bisa masuk dengan mudah. Saya meminta pengawasan lebih ditingkatkan agar tidak ada lagi kejadian serupa di wilayah manapun,” tegasnya.

Kapolsek Padaherang, AKP Abdurrahman, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mendalami motif penganiayaan tersebut. Saat ini, kasus telah beralih ke Satreskrim Polres Pangandaran melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk penanganan lebih lanjut. Polisi memastikan proses hukum tetap berjalan sembari memantau kondisi kesehatan korban yang kini masih dalam masa pemulihan.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru