PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Deretan pakaian anak-anak hingga baju dewasa tergantung rapi di lapak kecil milik Esih (53) di Pasar Tradisional Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. Namun siang itu hanya sedikit pengunjung yang mampir melihat dagangannya.
Perempuan paruh baya tersebut telah menghabiskan hampir dua dekade hidupnya di pasar itu. Sejak sekitar 20 tahun lalu, Esih menggantungkan penghasilan keluarga dengan berjualan berbagai jenis pakaian.
Baca Juga: Polres Pangandaran Bangun Masjid Pesat Gatra
Di lapaknya, ia menawarkan beragam produk mulai dari pakaian anak-anak hingga busana orang dewasa. Untuk memenuhi stok dagangan, Esih rutin membeli barang dari sejumlah grosir, bahkan sesekali pergi ke Cirebon.
“Sudah hampir 20 tahun saya jualan di sini. Barang biasanya saya ambil dari grosir, kadang belanja ke Cirebon. Saya jual macam-macam, dari pakaian anak sampai pakaian orang dewasa,” ujar Esih saat ditemui di Pasar Kalipucang, Jumat (6/3/2026).
Namun suasana pasar yang ia rasakan belakangan ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Jumlah pembeli terus menurun, bahkan menjelang Hari Raya Idulfitri yang biasanya menjadi momen paling ramai bagi pedagang pakaian.
Menurut Esih, dahulu lapaknya hampir tak pernah sepi pengunjung saat mendekati Lebaran. Kini kondisi itu berubah drastis.
“Biasanya kalau mau Lebaran seperti ini toko ramai, tapi sekarang sepi sekali,” katanya.
Pola Belanja Masyarakat
Ia menilai perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu penyebab utama menurunnya pembeli di pasar tradisional. Kehadiran toko online membuat banyak orang lebih memilih berbelanja melalui ponsel.
Esih bahkan sering mendapati pengunjung datang hanya untuk melihat model pakaian di lapaknya, kemudian membeli barang serupa melalui toko online karena harga dianggap lebih murah.
“Sekarang banyak yang beli online. Ada juga yang lihat modelnya di sini, tapi belinya di online karena katanya lebih murah dan banyak diskon,” tuturnya.
Sebenarnya, Esih pernah mencoba mengikuti perkembangan zaman dengan berjualan secara online. Namun ia mengaku kesulitan memahami sistem penjualan digital yang menurutnya cukup rumit.
Selain itu, ia juga harus mengeluarkan biaya tambahan agar produknya bisa menjangkau lebih banyak calon pembeli di platform digital.
“Saya pernah mau coba online, tapi susah. Banyak aturannya, harus bayar iklan juga supaya jangkauannya luas. Saya juga sudah tidak muda lagi, jadi agak susah mengerti,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Meski menghadapi perubahan besar dalam cara masyarakat berbelanja, Esih tetap mempertahankan lapaknya di Pasar Kalipucang. Ia berharap pasar tradisional bisa ditata lebih rapi dan nyaman sehingga kembali menarik minat pengunjung.
Menurutnya, penataan pasar yang baik dapat menjadi salah satu langkah untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
“Harapannya pasar bisa ditata lebih rapi dan dikelola dengan baik. Kalau pasar rapi mungkin pengunjung juga lebih banyak datang,” katanya.
Bagi Esih, lapak kecil di Pasar Kalipucang bukan sekadar tempat berdagang. Tempat itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama puluhan tahun, tempat ia bertahan di tengah perubahan zaman yang menggeser kebiasaan belanja masyarakat dari pasar menuju layar ponsel.
(Sajidin)


