BANDUNG, FOKUSJabar.id: Tiga anggota keluarga di Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, yang sebelumnya menjadi sorotan publik akibat kondisi kehidupan dan kesehatan mental, akhirnya dievakuasi ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua, Jumat (30/10/2026).
Evakuasi dilakukan Dinas Sosial Kabupaten Bandung bersama Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat untuk memberikan pemeriksaan serta penanganan medis dan kejiwaan kepada Ogi Umaedi, Erna Maryana, dan Melinda Ulhusna.
Sekretaris Desa Mekarsari, Yasa, mengatakan evakuasi tersebut merupakan tindak lanjut setelah kondisi keluarga itu mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat.
Baca Juga: 109 Ribu Warga Bandung Berpotensi Salah Klasifikasi Desil
“Alhamdulillah, gerak cepat semua pihak. Dari dinas pun tindakan tanpa tunda-tunda. Keluarga yang mentalnya kurang sehat itu langsung dibawa ke RSJ untuk direhabilitasi mental,” kata Yasa, Jumat (30/10/2026).
Menurut Yasa, kondisi kejiwaan yang dialami ketiganya diduga berkaitan dengan tekanan hidup dan persoalan ekonomi. Ia berharap pemeriksaan dan rehabilitasi dapat membantu memulihkan kondisi mereka.
Ia juga menyebut gangguan yang dialami keluarga tersebut bukan merupakan penyakit kejiwaan bawaan atau keturunan. Berdasarkan riwayat yang diketahuinya, mereka sebelumnya dapat menjalani kehidupan secara normal.
“Karena itu secara historis, mereka bukan gangguan kejiwaan turunan. Mereka dulunya normal, tapi mungkin keadaan jadi stres dan depresi. Ini bisa direhabilitasi dan diperbaiki mentalnya,” ujarnya.
Di luar penanganan medis, pemerintah desa bersama dinas terkait juga mulai menyiapkan masa depan anak-anak Ogi dari pernikahannya dengan Indah Triyanti.
Program Sekolah Rakyat
Ogi diketahui memiliki tiga anak, yakni Akbar Rizky yang saat ini duduk di kelas IV sekolah dasar (SD), Fahri Syahreza berusia lima tahun, serta seorang bayi perempuan yang baru dilahirkan.
Yasa mengatakan, pihaknya telah mengusulkan agar Akbar mendapatkan akses pendidikan melalui program Sekolah Rakyat (SR). Sementara Fahri dan bayi perempuannya direncanakan tinggal bersama sang ibu.
“Akbar nanti kami usulkan ke SR. Nanti ke depannya supaya jadi jenderal katanya, nanti ingin seperti Bapak Prabowo. Lalu anak yang baru lahir di RSUD Welas Asih kemarin dan Fahri itu bersama ibunya,” ucap Yasa.
Sementara itu, Cucu Jubadah, ibu dari Ogi, Erna, dan Melinda, untuk sementara tetap berada di rumah sembari menunggu proses perbaikan tempat tinggal mereka.
Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) juga telah menyiapkan rehabilitasi rumah tersebut agar lebih layak dihuni.
Yasa membenarkan pihak Disperkimtan telah turun tangan untuk membantu memperbaiki kondisi bangunan yang selama ini ditempati keluarga tersebut.
“Alhamdulillah, ada dari Disperkimtan juga Kabupaten Bandung. Terima kasih Bapak Bupati, rumahnya itu bakal direhab supaya layak huni,” katanya.
Dalam Kondidi Memprihatinkan
Sebelumnya, kondisi keluarga di Kampung Sukanagara itu menjadi perhatian setelah kehidupan mereka terungkap dalam kondisi memprihatinkan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, keluarga tersebut tinggal berdesakan di rumah berukuran sekitar 4 x 5 meter bersama delapan orang anggota keluarga lainnya.
Dari luar, bangunan rumah itu tampak seperti rumah pada umumnya. Namun, kondisi di dalamnya jauh berbeda. Bau menyengat menyerupai kotoran dan urine langsung tercium ketika memasuki rumah.
Sejumlah barang kotor menumpuk di dalam kamar yang digunakan untuk beristirahat. Bagian lantai juga masih dipenuhi noda menyerupai kotoran, sementara beberapa bagian rumah terlihat tidak terawat.
Saat dikunjungi, Cucu terlihat membersihkan bagian dalam rumah. Erna tampak meringkuk di kursi yang sudah rusak. Ogi terlihat berjalan ke sana kemari, sedangkan Melinda lebih banyak berdiam diri di kamar dan tidak bersedia berkomunikasi.
Baca Juga: Polresta Bandung Bekuk Pengedar Ganja
Dalam interaksi tersebut, Ogi dan Erna masih dapat diajak berbicara, meski jawaban yang diberikan kerap tidak sesuai dengan pertanyaan. Melinda tidak dapat diajak berkomunikasi, sementara Cucu memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi meskipun masih bisa mengikuti percakapan.
Berbeda dengan anggota keluarga lainnya, Akbar dan Fahri masih dapat berkomunikasi secara normal.
Kini, penanganan keluarga tersebut mulai dilakukan melalui beberapa jalur, mulai dari rehabilitasi medis dan kejiwaan, pemenuhan kebutuhan pendidikan anak, hingga perbaikan rumah.
(Kusnad)



