MAJALENGKA, FOKUSJabar.id: Pengusaha pribumi talaga sekalugus Ketua Majalengka Berkah, Nana Ichsan (Kang Nana Berkah) menjawab kekhawatiran warga Dusun Cipedang Desa Margajaya, Kecamatan Lemahsugih terhadap masa depan sumber mata air Songom,
Dia membeli dan mewakafkan mata air Songom yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga di sana.
BACA JUGA:
Koi Beranak di Situ Cipanteun Majalengka, Irfan Hakim dan Boskoi Hartono Soekwanto Traktir 500 Porsi Mi Ayam
Sebelumnya, mata air tersebut berada di atas lahan milik pribadi. Meski airnya telah di manfaatkan warga untuk kebutuhan rumah tangga, pengairan sawah hingga kolam ikan, muncul kabar bahwa lahan tersebut akan di jual.
Kabar tersebut memicu kekhawatiran warga jika lahan sumber mata air dengan luas sekitar 235 M² di beli pihak luar. Dengan sendirinya akan mengganggu terhadap sumber air tersebut.
Warga di sana lega setelah Senin (28/9/2026) Kang Nana Berkah mewakafkannya. Serifikat lahan tersebut atas nama masyarakat.
Salah seorang warga Cipedang, Teti Inasah mengaku sempat khawatir ketika mendengar kabar mata air tersebut akan di jual. Pasalnya, sumber air itu menjadi tumpuan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Terus terang khawatir gitu. Ya takutnya kan kalau misalkan ini di jual ke warga lain takut mata airnya di tutup terus di bangun dan jadi milik,” kata Dia kepada FOKUSJabar.
Namun setelah lahan tersebut di beli dan di wakafkan oleh Kang Nana, kekhawatiran warga sirna. Mereka kini merasa lebih tenang karena sumber air tersebut di peruntukkan bagi kepentingan masyarakat.
“Nah sekarang sudah di wakafkan. Jadi mau di apain itu tergantung kita. Terpenting masih dalam pemanfaatan warga Cipedang,” ungkapnya.
Teti berharap, sumber air tersebut dapat terus di jaga dan di tata agar manfaatnya semakin besar bagi masyarakat.
Kepala Dusun Cipedang, Darno Pramono menjelaskan, sumber air tersebut sejak awal telah di manfaatkan warga. Namun tanah tersebut berstatus milik pribadi. Sehingga muncul kekhawatiran ketika pemilik berencana menjualnya.
Pihak dusun kemudian berupaya mencari solusi agar sumber air tetap dapat di manfaatkan masyarakat. Hingga akhirnya, usulan tersebut mendapat respons dari Kang Nana.
“Alhamdulillah Kang Nana Berkah merespons dan langsung membeli tanah tersebut,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Rutilahu Majalengka Melonjak, Hampir 4.000 Rumah Dapat Bantuan pada 2026
Menurutnya, keberadaan Mata Air Songom sangat vital karena manfaatnya tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, Tetapi juga mendukung aktivitas pertanian dan perikanan warga.
“Manfaat sumber mata air itu bukan hanya untuk kebutuhan rumah tangga saja. Tetapi untuk mengairi oesawahan dan kolam warga,: imbuhnya.
Setelah lahan tersebut resmi menjadi milik masyarakat, pihak dusun berharap pemerintah dapat membantu pembangunan sarana pendukungnya. Di anatarnya, pipanisasi hingga ke rumah warga. Dengan begitu, distribusi air bisa lebih tertata dan higienis.
Kepala Desa Margajaya, Jeje Sudrajat mengatakan, masyarakat kini merasa lebih tenang setelah lahan mata air tersebut resmi di wakafkan.
Mata Air Songom selama ini di manfaatkan warga RT 3 dan RT 4 Blok Cipedang. Jumlah penerima manfaat di perkirakan mencapai 250 jiwa.
Jeje mengatakan, pihaknya akan menampung aspirasi masyarakat. Terutama terkait penataan hulu mata air, pipanisasi dan penghijauan kawasan sekitar sumber air.
“Ke depannya, nanti akan saya bangun untuk penataan hulu mata air dan pipanisasi ke setiap rumah,”ucapkades.
Ia menyebut, pembangunan tersebut di rencanakan menjadi prioritas pada tahun anggaran 2028. Mengingat anggaran 2027 telah masuk dalam APBDes.

Selain infrastruktur, pemerintah desa juga merencanakan penanaman pohon untuk menjaga kelestarian sumber air.
Jeje mengapresiasi langkah Kang Nana yang di nilai telah membantu memberikan kepastian kepada masyarakat.
Kang Nana Berkah mengatakan, keputusan membeli dan mewakafkan Mata Air Songom berangkat dari keinginannya agar sumber air dapat di manfaatkan masyarakat. Bukan di kuasai oleh perorangan.
Menurutnya, pemerintah desa memiliki keterbatasan dalam membeli lahan sumber mata air. Sementara anggaran desa dapat di arahkan untuk membangun sarana pendukungnya.
Karena itu, Kang Nana memilih membeli lahan tersebut dan mewakafkannya kepada masyarakat.
Menurut Dia, wakaf mata air merupakan salah satu bentuk kepeduliannya terhadap kebutuhan masyarakat yang terkadang belum menjadi prioritas pemerintah.
“Enggak terlalu banyak, hanya secara konsep saya menambal hal-hal yang luput atau bukan prioritas pemerintah,: tegasnya.
Selain mata air, Kang Nana menyebut perhatian serupa juga di berikan untuk pemakaman umum dan persoalan sampah.
Ia menjelaskan, bantuan untuk pemakaman di lakukan melalui sumbangan sekaligus edukasi kepada masyarakat agar kebutuhan lahan dapat di penuhi secara bertahap.
BACA JUGA:
Pemuda PUI Majalengka Ditantang Bergerak dan Bikin Perubahan
Sementara untuk persoalan sampah, ia masih mempertimbangkan lokasi dan sistem pengelolaan agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.
Kang Nana menyebut, hingga kini dirinya telah mewakafkan tujuh titik mata air di Kabupaten Majalengka. Pemilihan lokasi di lakukan berdasarkan kebutuhan dan kondisi teknis sumber air.
“Saya tidak melihat kenal atau tidak kenal, dekat tidak dekat. Tapi secara teknis mata air itu sangat vital untuk warga Cipedang.” pungkasnya.
Setelah lahan Mata Air Songom resmi menjadi milik masyarakat, pekerjaan berikutnya adalah menjaga sumber air tersebut agar tetap mengalir dan bermanfaat dalam jangka panjang.
(Jilly Ortega)



