JAKARTA, FOKUSJabar.id: Sebanyak 11 kasus influenza A (H3N2) subclade K tercatat di wilayah Jakarta berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 19 September 2026.
Temuan tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Kamis, 24 September 2026. Meski demikian, angka itu bukan berarti terdapat 11 kasus baru. Tetapi merupakan akumulasi temuan sejak Januari 2026.
BACA JUGA:
Cegah Karhutla, Prabowo Subianto Bentuk BPGMN
Istilah “super flu” yang di gunakan untuk menyebut influenza A (H3N2) subclade K juga perlu di pahami secara tepat.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim menjelaskan bahwa subclade K bukan merupakan virus influenza baru. Varian tersebut merupakan bagian dari influenza musiman A(H3N2) yang mengalami mutasi.
“Secara nasional Kemenkes masih mengkategorikan aktivitas influenza rendah dan sesuai pola musiman. Subclade K bukan virus baru, melainkan bagian dari influenza musiman yang bermutasi,” kata Chico.
Pemprov DKI tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi apabila terjadi perubahan pola maupun peningkatan kasus influenza di masyarakat.
Temuan subclade K juga telah di laporkan di berbagai daerah. Berdasarkan data kumulatif sejak Januari 2026, kasus di temukan di 13 provinsi.
Jawa Timur dan Kalimantan Selatan masing-masing mencatat 18 kasus, di susul Jawa Barat sebanyak 12 kasus dan DKI Jakarta 11 kasus.
Sumatera Selatan mencatat lima kasus, Sumatera Utara tiga kasus, Bali serta Nusa Tenggara Timur masing-masing dua kasus. Sedangkan Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan DI Yogyakarta masing-masing mencatat satu kasus.
Sementara itu, jika menggunakan periode pencatatan yang berbeda, Kementerian Kesehatan melaporkan 184 kasus influenza A(H3N2) subclade K di 20 provinsi sejak 2025 sampai minggu ke-36 tahun 2026.
Berdasarkan kelompok usia, anak berusia 0 hingga 4 tahun menjadi kelompok dengan proporsi terbesar, yaitu 38 persen. Selanjutnya, kelompok usia 5 hingga 9 tahun mencapai 23,4 persen, usia 10 hingga 17 tahun sebesar 21,2 persen, dan usia 18 hingga 59 tahun sebanyak 15,8 persen.
Pemantauan influenza secara keseluruhan juga menunjukkan adanya perubahan pada hasil pemeriksaan spesimen. Pada minggu ke-36, sebanyak 185 spesimen di periksa dan 86 spesimen atau sekitar 46 persen di nyatakan positif influenza.
Angka tersebut lebih tinggi di bandingkan pekan sebelumnya yang berada di kisaran 35 persen. Dari 86 spesimen positif itu, 76 merupakan influenza A(H1N1)pdm09, delapan influenza A(H3N2), dan dua influenza B(Victoria).
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menjalankan surveilans sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI).
Sistem tersebut dijalankan melalui lima puskesmas di setiap kota administrasi serta satu rumah sakit rujukan. Seluruh pemantauan terhubung dengan sistem nasional dan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO agar perubahan kasus dapat diketahui sedini mungkin.
BACA JUGA:
Mendadak Kontraksi di Dalam Kereta, Penumpang Commuter Line Melahirkan di Gerbong
“Yang sudah dan terus di lakukan Pemprov DKI, Dinas Kesehatan menjalankan surveilans sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di lima puskesmas tiap kota administrasi plus satu rumah sakit rujukan, terhubung dengan sistem nasional dan WHO agar kenaikan kasus terdeteksi lebih awal,” jelas Chico.
Selain memperkuat pemantauan, Pemprov DKI meminta fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap influenza, infeksi saluran pernapasan akut, dan pneumonia.
Anak usia dini, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta menjadi kelompok yang mendapat perhatian lebih karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Di Jakarta Barat, perkembangan kasus ISPA dalam beberapa pekan terakhir juga menunjukkan peningkatan. Berdasarkan catatan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), terdapat 10.963 kasus ISPA baru pada 30 Agustus hingga 5 September.
Jumlah tersebut kemudian menjadi 13.042 kasus pada 6 hingga 12 September dan meningkat lagi menjadi 13.614 kasus pada pekan berikutnya.
Untuk kasus ILI, masing-masing tercatat 54 kasus, 79 kasus, dan 26 kasus dalam tiga periode tersebut.
Pemerintah daerah menyatakan peningkatan kasus tersebut tidak berkaitan langsung dengan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dan tetap melakukan pengambilan sampel untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna mengatakan, pengambilan sampel di lakukan untuk mengetahui lebih lanjut spesifikasi kasus ILI yang di temukan di wilayah tersebut.
“Kita juga melakukan pengambilan sampel dan di kirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat untuk di lihat lebih lanjut spesifikasi kasus ILI,” jelas Sahruna.
Vaksin influenza saat ini tersedia di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit umum daerah. Namun, vaksin tersebut belum termasuk program imunisasi pemerintah. Sehingga masyarakat masih perlu membayar untuk mendapatkannya.
Kementerian Kesehatan menyatakan, vaksin influenza tetap memberikan manfaat untuk mengurangi risiko penularan dan tingkat keparahan penyakit.
Pemerintah juga menyebut belum ada bukti yang menunjukkan subclade K kebal terhadap vaksin influenza yang beredar.
“Vaksin influenza tersedia di faskes termasuk RSUD. Belum masuk vaksin program, jadi masih berbayar. Yetapi Kemenkes menegaskan imunisasi influenza tetap bermanfaat menurunkan penularan dan keparahan. Tidak ada bukti subclade K kebal terhadap vaksin influenza yang beredar,” kata Chico.
Masyarakat juga di minta memperhatikan kondisi anggota keluarga yang mengalami gejala influenza. Terutama anak-anak.
“Anak yang sakit jangan di bawa ke sekolah sampai pulih. Segera ke faskes jika keluhan berlanjut. Apalagi muncul napas cepat, tarikan dinding dada, atau saturasi oksigen di bawah 92 persen,” ujarnya.
BACA JUGA:
KPU Akui Tak Verifikasi Langsung Syarat Pendidikan Gibran ke Dinas Pendidikan
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini meminta Kementerian Kesehatan meningkatkan penyampaian informasi dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan terkait temuan subclade K di sejumlah wilayah.
“Kemenkes harus memberikan peringatan kepada masyarakat dan mengimbau masyarakat waspada terhadap merebaknya super flu di 13 provinsi,” kata Yahya Zaini.
Anggota Komisi IX DPR, Neng Eem Marhamah Zulfa juga meminta pemerintah memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai gejala dan langkah pencegahan influenza A.
“Pemerintah perlu memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai gejala dan pencegahan influenza A,” kata Neng Eem di Jakarta.
Neng Eem meminta masyarakat tetap tenang sambil meningkatkan kewaspadaan dan menjaga pola hidup bersih dan sehat.
“Kami minta masyarakat tetap tenang, tidak panik, serta meningkatkan kewaspadaan melalui pola hidup bersih dan sehat. Jika mengalami gejala berat atau kondisi memburuk, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” ucapnya.
Di sisi lain, Pemprov DKI menyatakan pemantauan terhadap temuan 11 kasus di Jakarta tetap di lakukan melalui surveilans dan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.
“Pemprov DKI tidak menyepelekan 11 kasus itu, tapi juga tidak ingin masyarakat panik. Situasinya di kawal lewat surveilans, faskes yang siaga, dan pencegahan di tingkat keluarga. Kalau ada update teknis dari Dinkes, kami sampaikan,” imbuh dia.
(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)



