spot_imgspot_img
Rabu 9 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Mitra Netra Catat 200 Tunanetra Tersalurkan ke Dunia Kerja, Serapan di Bandung Masih Minim

BANDUNG,FOKUSjabar.id: Penyandang tunanetra memiliki peluang karir yang luas di berbagai sektor. Mereka tidak hanya bisa menjadi guru atau bekerja di bidang pendidikan saja.

Yayasan Mitra Netra mendorong para lulusan perguruan tinggi tunanetra untuk terus menggali potensi diri. Langkah ini penting agar mereka memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Baca Juga: BNPB Ungkap 1.730 Bencana Terjadi sejak Januari 2026

Kepala Bagian Humas dan Ketenagakerjaan Yayasan Mitra Netra, Aria Indrawati, menyebut stigma masyarakat masih menjadi penghambat utama. Sebab, publik sering menganggap tunanetra hanya mampu mengenyam pendidikan khusus atau bekerja di bidang tertentu saja.

“Potensinya sangat besar. Masyarakat sering terjebak dalam stigma bahwa penyandang tunanetra hanya belajar di pendidikan khusus atau luar biasa. Padahal, mereka memiliki potensi yang sangat luas. Kuncinya adalah mengajak mereka mengenali potensi tersebut, lalu mengasahnya hingga menjadi kompetensi yang nyata,” kata Aria saat menghadiri Bandung Employment Forum For The Blind 2026 di Hotel Grand Asrilia, Bandung, Rabu (9/9/2026).

Kisah Sukses: Dari Sarjana Pendidikan Menjadi Programmer

Aria menceritakan kisah inspiratif seorang penyandang tunanetra berlatar belakang pendidikan Guru Sekolah Dasar. Orang tersebut berhasil beralih profesi menjadi seorang programmer.

Saat tidak menemukan lowongan guru, ia memilih mengikuti pelatihan pemrograman dari Mitra Netra pada masa pandemi Covid-19. Instruktur melihat kemampuan logika yang sangat kuat dalam dirinya. Setelah menyelesaikan seluruh proses seleksi, ia resmi bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan teknologi.

“Contohnya, ada staf pemrogram yang diceritakan Pak Agung, berlatar belakang pendidikan guru SD. Saat melamar kerja, tidak ada lowongan yang sesuai. Namun, ketika mengikuti pelatihan pemrograman yang kami selenggarakan pada masa pandemi, instruktur menilai ia sangat berbakat karena kemampuan logikanya kuat. Terbukti, ia lulus tes dan diterima bekerja,” katanya.

Aria menegaskan, pilihan profesi untuk tunanetra mencakup bidang penulisan, public speaking, teknologi informasi, hukum, hingga antropologi budaya.

Bahkan, seorang tunanetra lulusan antropologi budaya saat ini bekerja sebagai analis kebijakan di Kementerian Desa. Pekerjaan tersebut rutin mengharuskan dirinya melakukan kunjungan ke lapangan.

“Padahal, mereka bisa menjadi pengacara, sarjana hukum, ahli antropologi budaya, dan profesi lainnya. Ada contoh penyandang tunanetra yang bekerja di Kementerian Desa sebagai analis kebijakan yang melakukan kunjungan lapangan,” ucapnya.

Mendorong Kepercayaan Diri dan Membuka Peluang di Bandung

Stigma negatif masyarakat sering kali merusak kepercayaan diri tunanetra saat memilih jurusan kuliah maupun pekerjaan.

Banyak pihak masih mengarahkan lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk mengambil jurusan pendidikan khusus. Padahal, setiap individu memiliki minat serta bakat yang berbeda-beda.

“Mereka hanya membutuhkan bantuan untuk menggali potensi yang terpendam dan mengembangkannya menjadi kemampuan nyata,” katanya.

Sejak tahun 1990-an, Yayasan Mitra Netra telah menyalurkan sekitar 200 tenaga kerja tunanetra ke berbagai bidang usaha.

Namun, sebagian besar penyerapan tenaga kerja tersebut masih terpusat di wilayah Jakarta. Kini, Mitra Netra mulai memfokuskan perhatian ke Kota Bandung. Bandung memiliki banyak lulusan perguruan tinggi tunanetra, tetapi penyerapan kerjanya masih sangat rendah.

Aria juga meluruskan anggapan bahwa tunanetra yang belum bekerja di perusahaan otomatis berstatus menganggur.

“Belum tentu menganggur. Mungkin mereka sudah bekerja, namun pekerjaannya belum sesuai dengan harapan atau keahlian yang dimiliki. Di sinilah peran Mitra Netra sebagai jembatan penghubung,” ujarnya.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kota Bandung, Deriksa Arifiaty Soewandana, menegaskan komitmen pemerintah dalam membuka ruang kerja formal bagi tunanetra.

“Forum ini sebagai bentuk komitmen untuk mengupayakan perluasan peluang kerja bagi tunanetra lulusan perguruan tinggi di Bandung,” kata Deriksa.

Acara ini turut menghadirkan Soniya Permata Surya, seorang sarjana Sastra Indonesia UPI penyandang tunanetra. Soniya membagikan pengalamannya menembus seleksi PNS jalur afirmasi. Selain Soniya, hadir pula para praktisi tunanetra yang aktif bekerja sebagai programmer dan software tester.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru