BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pembangunan depo Bus Rapid Transit (BRT) di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, membuat sejumlah pedagang harus kehilangan lapak tempat mereka mencari nafkah. Salah satunya Nurjaman, pedagang batagor dan baso tahu yang telah 26 tahun berjualan di kawasan tersebut.
Lapaknya kini mulai dibongkar untuk mendukung pembangunan depo BRT. Nurjaman mengaku telah menerima kompensasi sebesar Rp6 juta dari pemerintah yang akan digunakannya untuk membantu biaya memindahkan usaha.
“Tergantung ukuran tempatnya. Saya mendapat Rp6 juta. Sudah terbayar. Makanya uang itu saya gunakan untuk pindah tempat,” kata Nurjaman, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga: Sengketa SDN 026 Bojongloa, Begini Sikap Disdik Kota Bandung
Menurut Nurjaman, kompensasi diberikan setelah para pedagang menerima pemberitahuan tertulis terkait penataan kawasan. Pemerintah juga telah beberapa kali menggelar pertemuan untuk menyosialisasikan rencana pembangunan depo BRT di Terminal Cicaheum.
Para pedagang memilih membongkar lapaknya secara mandiri. Selain membantu mempercepat proses pembangunan, pembongkaran sendiri membuat pedagang dapat menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan.
“Kami bongkar sendiri, karena barang-barang milik kami juga kami ambil sendiri. Semua barang dagangan dan barang-barang lain yang berharga semuanya bisa kami bawa,” katanya.
Berjualan Keliling
Nurjaman mengatakan, untuk sementara dirinya belum memilih lokasi usaha baru secara permanen. Ia memilih tetap berjualan secara keliling di sekitar kawasan Cicaheum.
“Jualan batagor dan baso tahu. Sudah 26 tahun. Bukan pindah ke tempat baru yang tetap, tetap jualan keliling dulu,” ungkapnya.
Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah menyediakan sejumlah lokasi alternatif bagi pedagang terdampak. Salah satunya berada di Terminal Leuwipanjang yang memiliki kios kosong di lantai satu dan dua.
“Sudah disediakan tempat alternatif. Banyak pilihan tempatnya. Misalnya di Leuwipanjang lantai 1 dan lantai 2, banyak kios yang masih kosong. Kalau mau jualan di sana, banyak tempat yang sudah disiapkan pemerintah,” ucapnya.
Meski tersedia lokasi alternatif, Nurjaman berharap tetap dapat berjualan di sekitar Cicaheum. Ia mengaku telah lama tinggal di kawasan tersebut bersama keluarganya sehingga perpindahan lokasi usaha yang terlalu jauh dinilai akan menyulitkan.
“Bagi saya sendiri, saya sudah tinggal di sini lama. Seluruh keluarga, anak dan cucu semua berdomisili di sini. Usaha pun sebaiknya tetap di sekitar sini, tidak bisa berjualan terlalu jauh,” katanya.
Pedagang yang Terdampak
Sembari menunggu penataan kawasan, Nurjaman tetap berjualan secara keliling di sekitar Terminal Cicaheum. Ia berharap kompensasi yang diberikan pemerintah dapat membantu keberlangsungan hidup para pedagang yang terdampak.
“Kalau bisa, kompensasi yang diberikan cukup untuk hidup, supaya tidak perlu bekerja keras tiap bulan. Itu harapan saya. Tapi ya mana bisa, namanya orang biasa tetap harus berusaha mencari nafkah,” ungkapnya.
Baca Juga: Partai Demokrat Jabar Gelar Dikpol, Begini Pesan Herman Khaeron
Meski harus kehilangan lapak, Nurjaman mengaku menerima dan mendukung pembangunan depo BRT yang merupakan program pemerintah. Ia menyadari pedagang harus menyesuaikan diri dengan penataan kawasan tersebut.
“Ya harus ikhlas dan mendukung. Mau bagaimana lagi,” ujarnya.
Dengan nada bercanda, Nurjaman mengatakan jika memiliki cukup uang, dirinya bahkan ingin membeli lahan yang akan digunakan untuk pembangunan proyek BRT agar kawasan tersebut tetap bisa menjadi tempat berdagang.
“Kalau saya punya uang, saya mau beli lahan proyek BRT itu sendiri, supaya tidak dibangun dan tetap jadi tempat jualan kami. Tapi saya tidak punya uang. Uang untuk makan sehari-hari saja pas-pasan, menutup lubang gali lubang,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



