JAKARTA, FOKUSJabar.id: Pemerintah Indonesia meningkatkan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan menyusul kenaikan titik panas serta munculnya laporan kabut asap.
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menjadi tiga wilayah yang mendapat perhatian khusus dalam operasi terpadu yang terus di perkuat.
BACA JUGA:
Duh! Kebakaran Lahan di Garut Melonjak 676,2 Persen
Penguatan di lakukan dengan menggabungkan berbagai sumber daya pemerintah pusat dan daerah bersama unsur TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, masyarakat hingga pelaku usaha.
Keselamatan dan kesehatan masyarakat tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap langkah pengendalian karhutla. Terutama ketika kondisi asap mulai mengganggu jarak pandang di sejumlah lokasi.
Data pemantauan Kementerian Kehutanan menunjukkan perkembangan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi berubah cukup cepat dalam periode 17–19 Agustus 2026.
Pada 19 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, jumlah hotspot di tiga provinsi tersebut melonjak hingga 518 titik, lebih dari empat kali lipat di bandingkan angka sehari sebelumnya.
Berdasarkan Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan yang menggunakan pemantauan satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua, pada 17 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB terdapat 93 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat.
Kalimantan Tengah mencatat 28 titik, sedangkan Kalimantan Selatan dua titik. Total pada hari tersebut mencapai 123 hotspot.
Sehari kemudian, jumlah titik panas di Kalimantan Barat turun menjadi 15. Namun, Kalimantan Tengah mengalami kenaikan menjadi 73 titik dan Kalimantan Selatan menjadi 21 titik.
Jika di gabungkan, terdapat 109 hotspot berkepercayaan tinggi di tiga provinsi tersebut pada 18 Agustus 2026.
Lonjakan terjadi pada 19 Agustus 2026. Kalimantan Barat mencatat 259 hotspot, di susul Kalimantan Tengah sebanyak 242 titik dan Kalimantan Selatan 17 titik.
Secara keseluruhan, terdapat 518 hotspot berkepercayaan tinggi pada hari tersebut.
Jika di hitung secara kumulatif sepanjang 17–19 Agustus 2026, jumlah hotspot berkepercayaan tinggi mencapai 750 titik. Kalimantan Barat menyumbang 367 titik, Kalimantan Tengah 343 titik, sementara Kalimantan Selatan mencatat 40 titik.
Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa hotspot tidak dapat langsung di samakan dengan jumlah kebakaran.
Satu kejadian karhutla bisa menghasilkan beberapa titik panas yang terdeteksi satelit. Karena itu, setiap temuan perlu di verifikasi melalui pengecekan lapangan untuk memastikan lokasi, kondisi sebenarnya, penyebab serta luasan area yang terbakar.
Jumlah hotspot juga tidak otomatis menunjukkan seberapa pekat asap yang di rasakan masyarakat.
Kondisi asap sangat bergantung pada lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, keadaan atmosfer, karakteristik lahan hingga akumulasi asap dari beberapa titik kebakaran.
Pemerintah turut menerima berbagai laporan masyarakat mengenai kabut asap dan penurunan jarak pandang. Laporan tersebut datang dari sejumlah daerah. Antara lain, Sungai Tabuk, Banjarbaru, Banjarmasin, Palangka Rayadan Pontianak .
Informasi berupa video maupun laporan visual masyarakat menjadi masukan bagi petugas untuk menentukan arah patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman serta langkah perlindungan terhadap warga.
Pemerintah memastikan laporan yang masuk tetap di tindaklanjuti dengan mempertimbangkan hasil verifikasi di lapangan.
Namun, kondisi yang terlihat pada satu lokasi dan waktu tertentu tidak dapat langsung di anggap menggambarkan situasi seluruh wilayah Kalimantan.
Untuk informasi resmi mengenai jarak pandang, pemerintah mengacu pada data BMKG, otoritas bandara maupun lembaga berwenang dengan memperhatikan lokasi, waktu serta metode pengamatan.
Pada 19 Agustus 2026, misalnya, BMKG mencatat jarak pandang di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, sekitar 1,2 kilometer dalam kondisi berasap pada pukul 08.00 WIB.
Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pengamatan Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG sekitar pukul 07.30 WIB menunjukkan jarak pandang sekitar 3 kilometer.
Sementara di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, jarak pandang tercatat turun hingga sekitar 400 meter pada pukul 07.00 WITA.
Kondisi tersebut mulai menunjukkan perbaikan pada 20 Agustus 2026. Di Bandara Supadio, jarak pandang sekitar 4 kilometer dalam kondisi berasap tercatat pada pukul 10.00 WIB.
Pada waktu yang sama, jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, mencapai sekitar 6 kilometer. Sementara itu, sejumlah wilayah di Banjarbaru telah kembali mencatat jarak pandang lebih dari 10 kilometer.
BACA JUGA:
Disdamkarmat Garut: Kebakaran Meningkat 45,3 Persen
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kabut asap dapat berubah dengan cepat mengikuti perkembangan kebakaran dan kondisi atmosfer.
Meski jarak pandang membaik di sejumlah tempat, kewaspadaan tetap di perlukan karena arah angin, kelembapan, kondisi cuaca dan lokasi kebakaran dapat memengaruhi penyebaran asap.
Penanganan karhutla di tiga provinsi prioritas kini melibatkan sedikitnya 12.880 personel gabungan. Rinciannya, 1.410 personel di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah dan 770 personel di Kalimantan Selatan.
Personel tersebut berasal dari berbagai unsur. Termasuk Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pemerintah daerah, pelaku usaha, relawan serta masyarakat.
Mereka menjalankan sejumlah tugas. Mulai dari pemantauan hotspot dan laporan warga, patroli terpadu, pemeriksaan lapangan, pemadaman, pembasahan, pendinginan, penyekatan wilayah terbakar hingga penjagaan lokasi yang di nilai rawan kembali terbakar.
Koordinasi antarunsur di lakukan melalui posko terpadu untuk menentukan titik yang menjadi prioritas penanganan.
Personel dan peralatan kemudian di arahkan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.
Operasi tersebut di dukung kendaraan operasional, pompa dan pompa jinjing, selang pemadaman, flexible tank, alat komunikasi, alat pelindung diri, helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, serta helikopter water bombing.
BACA JUGA:
Selama Musim Kemarau 2026, Kebakaran Lahan Terjadi di Pangandaran
Pemerintah juga menambah sarana pendukung pemadaman. Termasuk membangun dan mengaktifkan sumur bor di wilayah prioritas.
Langkah ini menjadi penting karena kondisi kering membuat sumber air permukaan semakin terbatas.
Ketersediaan sumur bor dapat membantu petugas mendapatkan sumber air dengan jarak yang lebih dekat. Dengan begitu, pengisian peralatan pemadaman bisa dilakukan lebih cepat dan proses pembasahan serta pendinginan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Hal tersebut sangat penting khususnya untuk lahan gambut. Api yang muncul di lahan gambut dapat menyisakan bara di bawah permukaan. Sehingga pembasahan harus di lakukan secara menyeluruh untuk mengurangi kemungkinan api kembali muncul.
Selain pemadaman dari darat, pemerintah terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari strategi pengendalian karhutla.
Pelaksanaan OMC di sesuaikan dengan kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang memenuhi syarat untuk penyemaian serta perkembangan kebakaran di wilayah sasaran.
Di Kalimantan Barat, OMC telah berlangsung pada 13–17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak.
Selama periode tersebut, tercatat sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.
Peluang pelaksanaan OMC kembali terbuka pada 23–27 Agustus 2026. BMKG saat ini berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempersiapkan kemungkinan pelaksanaan operasi tersebut di Kalimantan Barat.
Sementara itu, Kalimantan Tengah telah menjalankan OMC dalam dua periode, yakni 27 Juli–4 Agustus dan 11–15 Agustus 2026. Total terdapat 13 sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian sekitar 4,8 juta meter kubik.
Namun, kondisi cuaca Kalimantan Tengah hingga akhir Agustus 2026 di perkirakan masih cenderung kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas.
Kondisi tersebut membuat peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat menjadi sangat kecil.
Pemantauan atmosfer tetap di lakukan untuk melihat kemungkinan munculnya awan yang dapat di semai.
Untuk Kalimantan Selatan, pemerintah masih memantau perkembangan cuaca, hotspot dan kondisi karhutla secara intensif.
Pelaksanaan OMC akan di pertimbangkan berdasarkan kebutuhan di lapangan serta keberadaan awan potensial yang memenuhi persyaratan teknis.
BACA JUGA:
Kehilangan Rumah dan Alat Kerja akibat Kebakaran, 4 Keluarga di Ciamis Terima Bantuan Rp32,5 Juta
OMC sendiri bukan menjadi satu-satunya cara pemerintah mengendalikan karhutla.
Pemadaman darat, patroli, pendinginan lokasi, penguatan personel dan peralatan, serta pencegahan perluasan api tetap menjadi bagian utama dari operasi.
Evaluasi kondisi cuaca dan situasi lapangan di lakukan secara berkala agar penanganan dapat di sesuaikan dengan kebutuhan.
Kalimantan Tengah mendapat tambahan dukungan armada udara untuk memperkuat operasi.
Armada yang di gunakan mencakup helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing serta helikopter water bombing yang berfungsi mendukung pemadaman di wilayah yang sulit di jangkau melalui jalur darat.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB untuk menambah dukungan armada udara dalam operasi water bombing di Kalimantan Tengah.
Penambahan tersebut di harapkan dapat memperluas jangkauan penanganan. Terutama pada titik yang sulit di jangkau petugas darat.
Namun, operasi udara tetap mempertimbangkan aspek keselamatan. Kondisi asap, jarak pandang, cuaca serta standar keselamatan penerbangan menjadi faktor yang menentukan apakah armada dapat di terbangkan ke lokasi tertentu.
Kepadatan asap dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu tantangan bagi operasi udara. Khususnya di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau.
Asap yang pekat dapat mengurangi kemampuan pilot melihat titik sasaran dan jalur penerbangan. Sehingga water bombing tidak dapat di paksakan ketika kondisi tidak memenuhi standar keselamatan.
BACA JUGA:
Ketika operasi udara tidak memungkinkan, penanganan tetap di lanjutkan dari darat.
Petugas melakukan pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan serta penjagaan di wilayah yang berpotensi kembali terbakar.
Strategi penanganan terus di sesuaikan berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Pemerintah bersama aparat penegak hukum juga masih mendalami penyebab kebakaran di setiap lokasi. Apabila di temukan unsur kesengajaan, kelalaian atau pelanggaran kewajiban pengendalian karhutla, proses penegakan hukum akan di lakukan sesuai aturan yang berlaku.
Masyarakat dan pelaku usaha juga di larang membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Di sisi lain, masyarakat yang berada di wilayah terdampak di minta mengambil langkah perlindungan ketika kualitas udara memburuk.
Penggunaan masker, pembatasan aktivitas di luar ruangan serta pemeriksaan kesehatan ketika muncul gangguan pernapasan menjadi langkah yang perlu di perhatikan.
Pengendara juga di minta lebih berhati-hati ketika jarak pandang menurun. Kecepatan perlu di kurangi, jarak aman di jaga dan lampu kendaraan di nyalakan agar keberadaan kendaraan lebih mudah terlihat.
Masyarakat juga di harapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap kepada BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, aparat terkait maupun posko terdekat.
Pemerintah memastikan operasi terpadu akan terus di perkuat dengan menggabungkan pemantauan, pencegahan, pemadaman darat, dukungan udara dan koordinasi lintas sektor.
BACA JUGA:
Puncak Musim Kemarau, Damkar Pangandaran Tangani Enam Kebakaran Sepanjang Agustus
Dengan meningkatnya hotspot di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, pemerintah menempatkan keselamatan masyarakat sekaligus pencegahan meluasnya kebakaran sebagai prioritas.
Penanganan akan terus mengikuti perkembangan data lapangan dan kondisi cuaca agar sumber daya yang tersedia dapat di arahkan ke wilayah yang paling membutuhkan.
(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)



