spot_imgspot_img
Senin 3 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dari Memulung Menuju Bangku Sekolah SDN 3 Pangandaran, Kisah Tiga Bersaudara Ini Bikin Haru

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Senin (3/8/2026) menjadi momen bersejarah bagi Adit (8). Hari itu menandai langkah perdananya sebagai bocah pemulung yang resmi menduduki bangku kelas 1 SDN 3 Pangandaran.

Adit tidak mengarungi hari bahagianya sendirian. Sang kakak, Aulia (10), serta adiknya, Afifah (4), turut mengawali hari pertama sekolah pada momen yang sama.

Baca Juga: Dulu Memulung Bersama Ayah, Kini Tiga Anak di Pangandaran Siap Kembali Bersekolah

Pagi itu, sang ayah, Zakaria (38), mengantar langsung ketiga buah hatinya. Mereka berjalan kaki sembari saling menggenggam jemari, mengenakan seragam baru yang bersih menuju gerbang sekolah. Langkah-langkah kecil mereka memancarkan semangat membara dan rasa penasaran yang tinggi.

Afifah memulai jenjang Taman Kanak-kanak, sedangkan Adit masuk di kelas 1. Sementara itu, Aulia yang sejatinya telah menginjak usia 10 tahun dan layak menduduki kelas 4, harus mengulang kembali perjuangannya dari kelas 1.

Zakaria menceritakan bahwa Aulia sempat mengecap pendidikan dasar saat mereka masih menetap di Bekasi.

“Dia duduk di kelas 1, namun tidak diteruskan lantaran terbentur biaya. Kan raportnya hilang waktu di Bekasi. Jadi Aulia mulai lagi dari kelas 1,” ujar Zakaria.

Impian Besar Zakaria

Bagi Zakaria, menyaksikan ketiga anaknya mengenakan seragam sekolah merupakan impian besar yang akhirnya terwujud. Selama ini, ia membanting tulang menghidupi keluarga dengan cara mengumpulkan rongsokan keliling Pangandaran.

Setibanya di pelataran sekolah, para guru bersama teman-teman sebaya menyambut hangat kedatangan Adit, Aulia, dan Afifah.

Kepala SDN 3 Pangandaran, Ani Susani, mengaku meneteskan air mata haru menyaksikan gelora semangat ketiga bersaudara tersebut.

“Aduh, hari pertama masuk sekolah tadi jam 06.30 anak-anak kelihatan pas lagi upacara ya. Saya pantau, saya deketin. Senangnya minta ampun. Mereka di sini senang. Bahagia banget,” kata Ani.

Ani membeberkan bahwa saking tingginya antusiasme mereka, ketiga anak tersebut bahkan telah terjaga sejak waktu subuh. Mereka sudah tidak sabar ingin segera melangkah ke sekolah.

“Dari subuh udah bangun. Karena aku mau sekolah’. Gitu katanya. Luar biasa. Bikin kita terharu,” ujarnya.

Ani menjelaskan bahwa biasanya anak-anak yang menempuh pendidikan di usia yang lebih tua rentan mengalami rasa minder, terlebih dengan latar belakang keluarga pemungut barang bekas. Namun, Adit, Aulia, dan Afifah justru menunjukkan sikap sebaliknya.

“Biasanya kan ada rasa minder karena usia juga sudah 10 tahun, 8 tahun gitu. Beda dengan yang lainnya. Tapi kalau ini enggak, alhamdulillah. Jadi kelihatan banget anak-anak senang bisa sekolah. Kayaknya pengen banget sekolah,” kata Ani.

Ia turut memberikan apresiasi tinggi kepada Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran yang bergerak cepat merangkul Anak Tidak Sekolah (ATS) agar bisa kembali mengenyam pendidikan formal.

Hari pertama mungkin terasa melelahkan bagi mereka. Namun bagi tiga bersaudara ini, hari ini menjadi lembaran awal untuk merajut cerita baru sebuah kisah tentang meja belajar, buku bacaan, serta cita-cita yang mulai melambung tinggi.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru