spot_imgspot_img
Minggu 28 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Candaan Dedi Mulyadi soal Bau Pangandaran Berbuah Atraksi Wisata Baru ‘Ngukus Layung’ yang Viral

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Berawal dari sebuah sindiran jenaka, pertunjukan budaya “Ngukus Layung” di Rumah Makan Mina Family, kawasan Kampung Turis Pangandaran, kini resmi menjelma menjadi agenda wisata rutin. Pentas seni garapan Sanggar Putra Rengganis ini lahir dari sebuah keresahan mendalam mengenai citra wewangian khas Pangandaran yang selama ini kalah pamor dari Pulau Dewata, Bali.

Sang pencetus mendapatkan ide segar tersebut usai menyerap kunjungan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ke Pangandaran beberapa waktu lalu. Saat itu, Dedi melayangkan kelakar tentang khasnya aroma wangi Bali yang langsung menyambut wisatawan sejak turun dari pesawat di bandara.

Baca Juga: PMII Pangandaran Kritik Pernyataan KSP dan Komnas Perempuan soal Kasus SPPI dan YTR

“Beliau melempar candaan bahwa aroma saat tiba di Pangandaran justru bau ikan asin japuh. Walau sebatas gurauan (heureuy), celetukan itu memicu saya untuk berpikir keras mematahkan stigma tersebut,” ungkap Ketua Sanggar Putra Rengganis, Iis Rahmini Juni Anita, Sabtu malam (27/6/2026).

Gantikan Bau Ikan Japuh dengan Seungit Dupa, Seni Meditatif ‘Ngukus Layung’ Konsisten Mengudara 4 Bulan

Iis memaparkan bahwa pentas seni berdurasi 15 menit ini menggabungkan secara apik elemen tari kontemporer. Kemudian berpadu dengan tarian tradisional Sunda, serta penggunaan media dupa wewangian skala mini.

Frasa Ngukus melambangkan proses pematangan kepribadian manusia secara sabar, sedangkan kata Layung mewakili keheningan cahaya senja. Kolaborasi estetik ini mengemban misi suci untuk menghidupkan rasa, menyucikan batin, serta membangkitkan kesadaran spiritual manusia.

Demi menghormati kearifan lokal dan waktu ibadah masyarakat muslim, pihak manajemen RM Mina Family sengaja menggeser jadwal pementasan. Jika awalnya panitia merancang pertunjukan tepat sebelum matahari terbenam, kini mereka mengeksekusi pagelaran pada waktu jeda antara ba’da magrib hingga menjelang isya setiap malam minggu.

Seni meditatif penolak bau ikan japuh ini sudah menunjukkan napas panjang dengan mengudara secara konsisten selama hampir empat bulan tanpa putus.

Kendati demikian, Iis mengakui strategi promosi timnya masih berjalan secara swadaya. Terlebih masih berskala kecil melalui akun media sosial pribadi seperti TikTok, Instagram, serta YouTube.

Ia berharap para pelancong domestik maupun mancanegara mulai melirik dan mendatangi Kampung Turis. Tentunya demi mereguk langsung sensasi seungit (wangi) baru tanah Pangandaran.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru