NASIONAL,FOKUSJabar.id: Gelombang pemadaman listrik bergilir melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa sepanjang 19 hingga 20 Juni 2026 dan memicu perhatian masif masyarakat. Berkurangnya pasokan daya secara mendadak ini sempat menyulut rupa-rupa spekulasi liar di platform digital, termasuk embusan isu keliru mengenai kelumpuhan total (blackout) pada sistem interkoneksi kelistrikan Jawa-Bali.
Merespons kepanikan publik, PT PLN (Persero) bergerak cepat menepis rumor tersebut. Perusahaan menegaskan bahwa pemadaman ini murni bagian dari strategi pengaturan beban, bukan akibat runtuhnya sistem kelistrikan Jamali (Jawa-Madura-Bali). PLN sengaja mengambil langkah taktis ini demi mengisolasi gangguan agar tidak merembet dan melumpuhkan jaringan listrik secara menyeluruh.
Baca Juga: Naskah Kuno Eyang Raksa Jagat Ramalkan Pulau Pananjung Terpisah dari Pangandaran pada 2051
“Kami menghadapi gangguan pembangkit pada PLTGU Jawa 1. Oleh karena itu, PLN menjalankan manajemen beban demi menjaga keandalan dan stabilitas pasokan listrik sisa kepada para pelanggan,” ungkap Andis.
Gregorius mengakui adanya kendala operasional yang memotong volume pasokan daya ke transmisi utama. Kondisi darurat tersebut memaksa PLN menerapkan kebijakan manajemen beban secara terbatas dan bergilir di wilayah-wilayah yang masuk dalam perimeter Sistem Jamali.
Akar Masalah di PLTGU Jawa 1, Kawasan Industri Jabodetabek dan Bandung Raya Terdampak
Laporan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa pemadaman berkala ini menyasar wilayah krusial, mulai dari Jabodetabek, Bandung Raya, Bogor, Bekasi, hingga rupa-rupa titik lain di Jawa Barat. Manajer PLN ULP Kota Bekasi, Andis Verindra Putra, mengonfirmasi bahwa penurunan daya ini bermuara dari masalah pada pembangkit utama.
“Kami menghadapi gangguan pembangkit pada PLTGU Jawa 1. Oleh karena itu, PLN menjalankan manajemen beban demi menjaga keandalan dan stabilitas pasokan listrik sisa kepada para pelanggan,” ungkap Andis.
Menanggapi hal itu, PT Jawa Satu Power (JSP) selaku konsorsium pengelola PLTGU Jawa 1 angkat bicara mengenai status operasional pembangkit mereka. Pihak manajemen menyebut salah satu unit andalan mereka sedang memasuki fase krusial pasca-perawatan.
“Unit 1 saat ini sedang berada dalam tahapan persiapan start-up setelah tim teknis merampungkan pemeliharaan terjadwal. JSP berkomitmen penuh untuk terus berkoordinasi erat dengan PLN guna memulihkan sekaligus mendukung keandalan sistem kelistrikan nasional,” jelas Corporate Secretary JSP, Haidar F.
Di lain pihak, peristiwa pemadaman yang berlangsung berhari-hari ini mengundang kritik tajam dari pengamat energi, Institute for Essential Services Reform (IESR). Lembaga independen ini mendesak PLN dan kementerian terkait untuk menggelar investigasi transparan guna mengaudit keandalan sistem interkoneksi Jamali.
“Pemadaman bergilir yang berjalan selama tiga hari terakhir ini jelas merugikan konsumen secara finansial. Perlu ada evaluasi menyeluruh agar pasokan listrik ke depan tidak mudah goyah,” ungkap CEO IESR, Fabby Tumiwa.
Hingga sabtu malam, petugas PLN masih memantau distribusi beban terbatas di lapangan. Sembari mempercepat proses pemulihan pada unit pembangkit yang bermasalah.
(Jingga Sonjaya)



