PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sebuah naskah tua berusia ratusan tahun warisan para leluhur menyimpan tabir ramalan kuno tentang masa depan kawasan wisata Pangandaran. Manuskrip berharga peninggalan Eyang Raksa Jagat tersebut mencatat rupa-rupa peristiwa masa lalu yang telah terbukti sekaligus memprediksi dinamika masa depan, mulai dari pembauran etnis hingga perubahan ekstrem geografis Pulau Pananjung.
Yana Budiana, atau publik lokal lebih mengenalnya dengan sapaan Yana Macan, merupakan pemilik sah sekaligus pewaris langsung kertas kuno yang kini kondisinya sudah mulai lapuk tersebut. Guna menjaga kelestarian isinya, keluarga besar Yana telah menerjemahkan naskah tulisan tangan itu ke dalam bahasa Sunda modern agar generasi muda dapat menyerap maknanya dengan mudah.
Baca Juga: Target 240 Siswa, SMAN Pancawaluya Pangandaran Optimistis Kuota SPMB Terpenuhi
“Manuskrip ini merupakan hak paten keluarga saya. Dokumen ini menjadi catatan sejarah penting yang melintasi garis keturunan kami secara turun-temurun,” tegas Yana Macan, Sabtu (20/6/2026).
Dalam lembaran kuno itu, sang leluhur menjuluki Pangandaran sebagai “pangan jeung daharan” yang bermakna tanah penyedia pangan dan sumber makanan. Manuskrip itu menggaransi bahwa setiap pendatang yang mengadu nasib dan mencari rezeki di Pangandaran pasti akan merengkuh kesuksesan besar karena faktor kesuburan tanahnya yang luar biasa.
Menjadi Rumah bagi dua Etnis besar
Selain potensi alam, naskah tersebut meramal bahwa Pangandaran akan menjadi rumah bersama bagi dua etnis besar, yakni Sunda dan Jawa, yang hidup rukun berdampingan.
“Naskah menyebut dua etnis di Pangandaran akan bersatu. Warga Jawa banyak, warga Sunda juga banyak. Khazanah budaya seperti kuda lumping dan ronggeng gunung akan hidup berdampingan. Orang Jawa dan orang Sunda di Pangandaran tidak mau berselisih atau pasea,” tutur Yana.
Kondisi sosiologis Pangandaran hari ini memang merefleksikan ramalan tersebut. Sebagai daerah tapal batas antara Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, warga Sunda dan Jawa hidup harmonis, senada dengan lestarinya kesenian kuda lumping dan ronggeng gunung di tengah masyarakat.
Ramalan Geologis 2051: Ujung Pananjung Bakal Terlepas dari Daratan Utama
Catatan Eyang Raksa Jagat juga jeli merekam potensi bencana alam. Naskah kuno itu secara akurat memprediksi peristiwa tahun 2006 lewat untaian kalimat “cai laut wetan cai laut kulon amprok” (air laut timur dan laut barat bertemu). Kalimat puitis kuno itu merujuk langsung pada tragedi tsunami dahsyat yang menghantam pesisir Pangandaran pada 17 Juli 2006 silam.
Namun, bagian paling mencengangkan dalam dokumen itu tertuju pada ramalan tahun 2051 mendatang. Sang penulis meramal bahwa “hulu Pananjung misah jeung awak”, yang berarti ujung semenanjung Pananjung akan terputus dan terpisah dari daratan utama Pangandaran.
“Sejarah geologis mencatat kawasan bawah itu dulunya merupakan aliran sungai dan rawa. Warga zaman dulu kemudian mengurugnya secara bertahap. Ramalan ini menegaskan bahwa proses alam akan mengembalikan fungsi awal itu, sehingga Pananjung terpisah sendiri pada tahun 2051 nanti,” jelas Yana.
Selain Pananjung, naskah kuno itu memuat kalimat bersayap, “Cimerak akan makmur pemerataan ruksak”. Yana menafsirkan kata “ruksak” (rusak) sebagai dampak nyata dari aktivitas penambangan pasir besi yang menggerogoti alam Cimerak saat ini. Manuskrip itu memang mencatat bahwa perut bumi Cimerak menyimpan kandungan timah putih serta pasir besi yang melimpah.
Memuliakan Tradisi dan Memelihara Budaya
Untuk urusan politik lokal, ramalan itu terbukti jitu menyatakan bahwa pusat pemerintahan Kabupaten Pangandaran akan “ngajadi” atau resmi berdiri di wilayah Parigi. Menariknya, naskah itu menyebut nama “Cinta Ratu” sebagai nama asli dari wilayah pusat pemerintahan tersebut, bukan “Cinta Karya” seperti yang publik ketahui sekarang.
Yana mengakui pihak dinas terkait pernah merayunya untuk menyerahkan manuskrip sejarah ini ke instansi pemerintah. Namun, ia tegas menolak permintaan tersebut demi menjaga keutuhan fisik naskah dari risiko kerusakan akibat perpindahan tangan. Keluarga besar berkomitmen merawat dokumen ini secara mandiri. Hal itu sebagai bagian dari aksi pupusti tradisi mulasara budaya (memuliakan tradisi dan memelihara budaya).
“Mengenai kebenaran mutlak ramalan tahun 2051, tentu hanya Tuhan yang tahu (Wallahu a’lam). Kewajiban saya sekarang adalah menjaga catatan Eyang Raksa Jagat ini agar sejarah asli Pangandaran tidak sirna ditelan zaman,” tutup Yana.
(Sajidin)



