TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Momentum menjelang Hari Raya Iduladha yang sarat akan nilai kemanusiaan dan semangat berbagi mendadak berubah menjadi arena ketegangan di Kota Tasikmalaya. Puluhan warga Kampung Kebon Tengah, Kelurahan Tuguraja, Kecamatan Cihideung, nekat menggeruduk Kantor Kelurahan Tuguraja, Selasa (2/6/2026).
Aksi protes massal ini mencuat setelah warga berpenghasilan rendah mendengar kabar miring mengenai pengurus lokal yang diduga menahan kupon daging kurban milik mereka akibat belum melunasi Iuran Penduduk (IP).
Baca Juga: Jelang Setahun Cecep-Asep Pimpin Kabupaten Tasikmalaya, Begini Penilaian DPRD
Bagi masyarakat kecil, sekerat daging kurban di hari raya memikul esensi kebahagiaan sosial yang tinggi. Oleh karena itu, warga menilai kebijakan sepihak yang mencampuradukkan urusan ibadah dengan kewajiban administrasi finansial sangat mencederai rasa keadilan publik.
“Kupon kurban jangan sampai tertahan hanya karena Iuran Penduduk belum lunas. Itu hak sosial warga, tidak boleh mengaitkannya dengan masalah administrasi,” cetus Dedi, salah satu perwakilan warga Kebon Tengah.
Kekecewaan warga ternyata berjalan linear dengan karut-marutnya tata kelola lingkungan setempat. Dalam aksi tersebut, massa juga mempertanyakan keabsahan hukum Ketua RW 07 yang masih menjabat. Padahal, masa baktinya sudah kedaluwarsa sejak enam bulan lalu tanpa ada tanda-tanda pemilihan ulang.
Pengurus RT Sebut Miskomunikasi, Janji Salurkan Hak Warga
Guna meredam tensi massa yang terus memanas di area kantor kelurahan, Ketua RT 03/RW 07 Kebon Tengah, Sulastri, langsung memberikan klarifikasi resmi. Ia membantah keras tudingan yang menyebut pihaknya sengaja menahan hak warga miskin.
Sulastri berkilah bahwa insiden di lapangan ini murni lahir akibat sumbatan informasi dan salah komunikasi. Pihak RT mengklaim tidak pernah mengeluarkan kebijakan resmi untuk menahan jatah kupon kurban milik warga.
Melalui proses mediasi kekeluargaan di kantor kelurahan, pengurus RT akhirnya langsung membagikan kupon kurban tersebut ke tangan warga yang berhak menerima.
Lurah Tuguraja Turun Tangan: Desak Copot Pengurus RW Lama
Lurah Tuguraja, Nofik Taopik Muharam, yang memimpin langsung jalannya mediasi akhirnya berhasil mendinginkan suasana. Sang Lurah mendeteksi adanya sumbatan komunikasi yang kronis terkait pengelolaan uang kas di tingkat RT/RW. Sehingga memicu kecurigaan dan mosi tidak percaya dari warga.
Merespons tuntutan masyarakat Kebon Tengah, Lurah Tuguraja langsung mengeksekusi dua langkah taktis di lapangan:
- Instruksi Pemilihan RW Baru: Mendesak warga dan tokoh masyarakat Kebon Tengah untuk segera membentuk panitia pemilihan Ketua RW 07 yang baru demi kepastian regulasi hukum.
- Audit Transparansi Keuangan: Melayangkan peringatan keras kepada seluruh perangkat RT dan RW di wilayahnya untuk membenahi sistem pembukuan serta pengelolaan uang kas warga.
“Transparansi itu penting agar tidak muncul dugaan-dugaan yang tidak perlu di masyarakat. Saya minta segera bentuk panitia pemilihan RW agar roda organisasi kembali berjalan normal,” tegas Nofik Taopik Muharam.
Setelah menyepakati poin-poin perdamaian dan menandatangani komitmen tertulis terkait restrukturisasi total pengurus RW, puluhan warga Kebon Tengah akhirnya membubarkan diri dengan tertib.
(Abdul Latif)



