PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Para tokoh budayawan beserta sesepuh adat di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menyepakati sebuah keputusan besar untuk tidak menggelar tradisi tahunan Hajat Laut pada tahun 2026 ini. Langkah mengejutkan ini terjadi karena sepanjang bulan Muharram 1448 Hijriah, tidak ada satu pun hari yang jatuh pada Jumat Kliwon.
Absennya hari Jumat Kliwon di bulan Sura atau Muharram ini merupakan fenomena kalender Jawa yang sangat langka. Berdasarkan perhitungan astronomi tradisi, peristiwa serupa hanya berulang sekitar 30 tahun sekali.
Baca Juga: SPMB 2026/2027, SMKN 1 Kalipucang Pangandaran Buka 252 Kuota
Selama ini, nelayan pesisir selatan merawat tradisi Hajat Laut sebagai bentuk syukur mendalam kepada Sang Pencipta atas kelimpahan hasil tangkapan samudra. Secara pakem adat yang mengikat, ritual sakral ini hanya boleh bergulir pada bulan Muharram dan wajib bertepatan dengan malam atau hari Jumat Kliwon. Apabila syarat mutlak kelayakan waktu tersebut tidak terpenuhi, maka budayawan menilai prosesi akan kehilangan esensi kesakralannya.
Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Pangandaran, Yana Budiana atau yang akrab dengan sapaan Yana Macan menegaskan bahwa para sesepuh adat telah mematangkan kesepakatan peniadaan ritual ini demi menjaga kemurnian aturan leluhur.
“Ini soal pakem. Hajat Laut bukan sekadar keramaian. Ini laku spiritual. Kalau tidak Jumat Kliwon, maka tidak bisa disebut sakral,” ujar Yana Macan, Selasa (2/6/2026).
Sejarah Nelayan dan Pelurusan Mitos Nyi Roro Kidul
Cerita tutur yang hidup di kalangan masyarakat pesisir selatan mengisahkan bahwa tradisi ini bermula dari kisah seorang nelayan zaman dahulu yang melaut tanpa membawa hasil sepeser pun. Di tengah keputusasaan di atas ombak, ia terus memanjatkan doa memohon kemudahan rezeki kepada Sang Pencipta.
Keajaiban datang begitu kakinya menginjak daratan; nelayan tersebut mendapati perahunya mendadak penuh dengan bongkahan ikan segar. Peristiwa ajaib itu kebetulan terjadi tepat pada hari Jumat Kliwon. Sebagai wujud terima kasih, sang nelayan kemudian melarung sebagian hasil bumi beserta kepala kerbau ke tengah laut, sebuah laku syukur yang kemudian diwariskan turun-temurun.
“Itulah awal ceritanya Hajat Laut. Tidak memuja Nyi Roro Kidul, tidak seperti itu. Tapi kita bersyukur, tasyakur bi nikmat kepada Allah SWT,” kata Yana meluruskan persepsi keliru yang sering beredar di masyarakat luas.
Yana memaparkan bahwa pelarungan kepala hewan memiliki filosofi batin yang sangat dalam. Kepala melambangkan tempat berkumpulnya berbagai indra manusia yang kerap memicu dosa dan kebiasaan buruk, sehingga nelayan wajib membuangnya jauh-jauh.
“Dina hulu aya mata, ceuli, irung, jeung bangus. Mata nu ningali goreng piceun ka dasar sagara. Ceuli anu ngadenge goreng piceun ka sagara, irung nu ngambeu goreng piceun ka sagara, bangus nu biasa ngomong goreng piceun ka dasar sagara. Jauhkeun tina sifat syirik, pidik, dengki, jail, munafek, deleka, jeung mitnah ka batur. Jauhkeun tina eta,” tutur Yana dalam bahasa Sunda yang sarat makna. (Artinya: Di kepala ada mata, telinga, hidung, dan mulut. Mata yang melihat keburukan buang ke dasar samudra. Telinga yang mendengar keburukan buang ke samudra, hidung yang mencium keburukan buang ke samudra, mulut yang biasa bicara buruk buang ke dasar samudra. Jauhkan dari sifat syirik, iri, dengki, jahil, munafik, celaka, dan memfitnah orang lain. Jauhkan dari itu).
Esensi Utama Larung Sesaji
Budayawan Pangandaran ini kembali menegaskan bahwa esensi utama prosesi larung sesaji ini merupakan simbol berbagi makanan antar-makhluk hidup ciptaan Tuhan, termasuk untuk biota laut, sehingga tidak mengandung kemudaratan.
“Ini mudarat nggak? Tidak, manfaat kok. Kecuali kalau dibalik, dagingnya yang dipersembahkan ke tengah laut dan kepala yang dimakan oleh manusia, itu baru mudarat. Karena manfaatnya sedikit,” pungkas Yana Macan.
(Sajidin)



